Pengemis Berdasi

Budaya adalah kebiasaan seorang kelompok orang ,berupa adat istiadat nilai-nilai moral , pengalaman hidup,perbedaan pikiran untuk membedakan sebuah kelompok dengan kelompok lain. Budaya terbentuk dari banyak unsur yang rumit, termasuk sistem agama dan politik, adat istiadat, bahasa, perkakas, pakaian, bangunan, dan karya seni.

Budaya adalah suatu pola hidup menyeluruh. budaya bersifat kompleks, abstrak, dan luas. Banyak aspek budaya turut menentukan perilaku komunikatif. Unsur-unsur sosial budaya ini tersebar dan meliputi banyak kegiatan sosial manusia.

Sedangkan perwujudan kebudayaan adalah benda-benda yang diciptakan oleh manusia sebagai makhluk yang berbudaya, berupa perilaku dan benda-benda yang bersifat nyata, misalnya pola-pola perilaku, bahasa, peralatan hidup, organisasi sosial, religi, seni, dan lain-lain, yang kesemuanya ditujukan untuk membantu manusia dalam melangsungkan kehidupan bermasyarakat.

Karakter budaya :
• Bisa dipelajari
• Logis
• Identitas masyarakat
• Bersifat Dinamis

Korupsi atau rasuah: corruptio dari kata kerja corrumpere yang bermakna (busuk, rusak, menggoyahkan, memutarbalik, menyogok) adalah tindakan pejabat publik, baik politisi maupun pegawai negeri, serta pihak lain yang terlibat dalam tindakan itu yang secara tidak wajar dan tidak legal menyalahgunakan kepercayaan publik yang dikuasakan kepada mereka untuk mendapatkan keuntungan sepihak.
Pengemis adalah seseorang yang membutuhkan uang, makanan, tempat tinggal atau hal lainnya dari orang yang mereka temui dengan meminta. Umumnya di kota besar sering terlihat pengemis meminta uang, makanan atau benda lainnya. Pengemis sering meminta dengan menggunakan gelas, kotak kecil, topi atau benda lainnya yang dapat dimasukan uang .

koruptor indonesia pintar
Apakah koruptor itu Budayawan ?
Kegiatan korupsi bukan merupakan budaya karena budaya itu dapat di pelajari.Korupsi menganbil hak orang lain tanpa harus memiliki ilmu khusus .Meskipun kegiatannya nyata dan dapat diketaui melalui penyelidikan.Korupsi merupakan hal yang sudah biasa bahkan indonesia merupakan salah satu negara terkorup se dunia .
Koruptor bukan merupakan budayawan karena budayawan harus menciptakan sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain .Koruptor tidak menciptakan nilai moral yang bagus untuk masa depan bangsa dan negara.Bahkan koruptor disebut sebagai pengemis berdasi yang mengambil hak orang lain untuk memenui kebutuannya sendiri dengan gaya hidupnya yang mewah dan glamor . Para pengemis berdasi ini bisa mengatasnamakan apa saja yang bukan kuasanya, dan merasa terhormat sebagai penyelamat. Menyembunyikan harta nya atas nama orang lain .semoga indonesia kedepan nya bebas dari koruptor .
Nama : Jeny Supriatin
Nim : 11105540008
Prodi : Ilmu komunikasi
UNIVERSITAS ISLAM BALITAR

ALA BLITAR

.
GRAPYAK

Grapyak merupakan kalimat dari bahasa jawa yang berarti orang yang mudah bergaul dan ramah tamah terhadap masyarakat yang ada di sekitarnya.Orang yang tumbuh dan besar di masyarakat sangat perlu untuk bisa bersosialisasi, menjadi pribadi yang mudah bergaul, ramah pada lingkungan, tanggap situasi. Sederhana memang, namun terkadang karena hal yang sederhana ini justru disepelekan. Mereka sibuk dengan urusan diri sendiri, dengan urusan keluarganya sendiri. Padahal manusia itu adalah makhluk sosial yang tidak bisa hidup tanpa bantuan orang lain.

Grapyak (sumanak, ramah), pradah (loman, suka menjamu), bèr (suka memberi, dari kata lubèr, yang arti harfiahnya “meluap”, maksudnya adalah ber-budi, suka memberi ganjaran) dan wèwèh (memberi). Orang seperti ini akan kita sebut sebagai orang yang baik dan menyenangkan. Orang seperti ini umumnya suka membantu sesama manusia. Membuat senang hati semua orang.Dia akan menjadi “jujugan” (tujuan) orang-orang yang butuh bantuan.

Ontology :

Grapyak adalah orang yang ramah tamah mudah bergaul & mudah menyesuaikan diri terhadap lingkungan.mudah menerima perudahan dimanapun ia tinggal.manpu mengambil simpati dari orang lain yang ada di sekitarnya.

Epistimologi:

Asal usul kata grapyak kurang jelas siapa yang membuatnya namun kata grapyak sudah tidak asing di kalangan masyarakat jawa.

Aksialogi:

Manfat dari grapyak >
-Akan mudah memiliki banyak teman karena kemampuan menyesuaikan diri yang dagus.
-Orang yang grapyak dapat tinggal dalam semua kalangan.

Nama : Jeny Supriatin
Nim : 11105540008
PRODI : ILMU KONUNIKASI
UNIVERSITAS ISLAM BALITAR

Sinopsis film The Croods

MENUJU HARI ESOK

the

Dalam film animasi the croods menceritakan ke Hidupan sebuah keluarga di zaman prasejarah yang hidup di gua di kelilingi batu-batu besar di bawah pimpinan grug sebagai kepala keluarga yang sangat over protektif tidak membolehkan semua anggota keluarganya untuk keluar dari gua karena dunia di luar gua sangat berbahaya bagi mereka.Alur cerita yang disampaikan tentang bagaimana keluarga croods berjuang untuk mendapatkan makanan dan bertahan untuk hidup hanya menggunakan kekuatan fisik dan hukum alam saja tanpa di imbangi dengan cara berfikir yang rasional.
Eep putri grug yang berjiwa petualang dengan rasa ingin taunya yang tinggi ia memberanikan diri untuk keluar gua tanpa sepengetahuan ayahnya mengikuti cahaya yang menembus gua, Eep sangat terkejut dan heran saat melihat api yang belum pernah dilihat sebelumnya ternyata ada sosok pria bernama guy yang membuat api tersebut.grug setelah menyadari bahwa putinya keluar dari gua ia panik dan bergeges mencarinya,pada saat itu pula terjadi gempa bumi yang sangat dahsyat menghancurkan gua tenpat tinggal mereka.
Disinilah awal perjalanan mereka mencari tempat tingal baru.Eep memperkenalkan guy dengan keluarganya awalnya mereka tidak suka terutama grug yang bertolak belakang pemikiranya dengan guy.Dalam proses perjalanan yang panjang dan banyak rintangan ternyata ide guy sangat membantu mereka dalam menyelamatkan diri akhirnya grug dapat menerima guy dan bekerjasama menciptakan ide untuk menyongsong hari esok.
Pesan yang disampaikan dalam film The croods :
1. Membuka diri pada lingkungan luar,mungkin hal yang dianggap biasa atau umum oleh orang lain karena kita tidak mengetaui sebelumnya dan mengangap itu sebagai suatu hal yang aneh.
2. Berfikir kreatif untuk menciptakan ide-ide dalam situasi apa pun,berfikir rasional .
3. Jangan takut untuk mengambil peluang yang ada ,kesempatan tidak akan datang dua kali.

the croods

Karakter tokoh:

Eep :
Gadis remaja berjiwa petualang dengan rasa ingin taunya yang besar,lincah mudah menerima perubahan demi kemajuan.

Guy :
Pria pengembara yang hidup sebatang kara mempunyai ide-ide kreatif dalam situasi apapun.berfikir realitis ,berambisi untuk mengejar mimpi

Grug:
Seorang ayah berjiwa pemimpin yang penyayang,pelindung,berkordan demi keluarganya,berpemikiran kolot selalu merasa paling benar.

Ugga:
Seorang ibu yang baik dapat menerima perubahan dan mudah menyesuaikan diri

Sandy:
Putri bungsu grug yang lucu,lincah,
Thunk:
Putra kedua grug yang memiliki sifat penakut
Gran:
Ibu ugga yang tidak suka dengan grug menantunya dan selalu mengatai grug otak udang

Nama : Jeny Supriatin
Nim : 11105540008
fak : sospol
Jurusan : Ilmu komunikasi

defusi inovasi kesehatan1

NAMA:JENY SUPRIATIN
NIM:11105540008
FAK/JURUSAN:SOSPOL/ILMU KOMUNIKASI

Investasi Kesehatan Untuk Pembangunan Ekonomi

Pendahuluan

Tulisan ini dimaksudkan untuk menyamakan pemahaman kita bersama tentang pentingnya peranan investasi kesehatan dalam pembangunan ekonomi. Sumber utama dari tulisan ini berasal dari “Konferensi Regional Anggota Parlemen Tentang Laporan Komisi Makroekonomi dan Kesehatan” yang diselenggarakan oleh World Health Organization (WHO) di Bangkok, Thailand pada tanggal 15 – 17 Desember 2002. Konferensi ini diikuti oleh para anggota parlemen yang berasal 9 negara, yaitu Bangladesh, Bhutan, India, Indonesia, Maldives, Myanmar, Nepal, Sri Lanka, dan Thailand.
Pada Konferensi Tingkat Tinggi Dunia Tentang Pembangunan Sosial (The World Summit For Social Development) di Copenhagen tahun 1995 telah dilakukan pembahasan dengan tema difokuskan pada penanggulangan kemiskinan, penciptaan lapangan kerja dan kesetiakawanan sosial. Dengan latar belakang ini, selanjutnya para Menteri Kesehatan membicarakan tentang peranan kesehatan dalam pembangunan berkelanjutan, pada pertemuannya yang ke-13 bulan September 1995. Para Menteri Kesehatan sangat menyadari tentang keterkaitan antara kemiskinan dengan kesehatan.
Selanjutnya, telah diterbitkan monografi tentang kaitan antara kemiskinan dan kesehatan sebagai issu regional di Asia Tenggara pada bulan Juli tahun 1997. Monografi tersebut antara lain menyimpulkan bahwa kebijakan makroekonomi seharusnya diarahkan untuk menjamin pertumbuhan ekonomi dan pembangunan sosial secara beriringan. Analisis membuktikan bahwa penanggulangan kemiskinan dan peningkatan status kesehatan memerlukan kerangka kebijakan makroekonomi yang kondusif untuk menciptakan pertumbuhan ekonomi yang cepat dan berkeadilan.
Pada pertemuan mereka pada tahun 1997, para Menteri Kesehatan mengadopsi Deklarasi Tentang Pembangunan Kesehatan di Regional Asia Tenggara untuk Abad ke-21. Pada pertemuan tersebut, mereka menyatakan pendiriannya bahwa kesehatan adalah merupakan inti atau pusat untuk pembangunan dan kesejahteraan. Mereka menyadari bahwa terdapat hubungan yang sangat erat antara kemiskinan dengan kesakitan, dan membuat komitmen diantara mereka untuk memenuhi kebutuhan kesehatan bagi penduduk miskin sebagai prioritas yang paling tinggi.
Selanjutnya, dalam Deklarasi tentang Kesehatan Masyarakat di Calcutta, pada bulan November 1999 antara lain meneguhkan komitmen bahwa penangulangan kemiskinan, dan keadilan sosial, yang merupakan elemen utama untuk mewujudkan kesehatan bagi semua. Dengan demikian, keterkaitan antara kesehatan dan pembangunan telah disadari oleh para pemimpin kesehatan dan pembuat kebijakan di regional Asia Tenggara.
Laporan Komisi Makroekonomi dan Kesehatan (selanjutnya disebut Komisi) pada bulan Desember 2001 menekankan pentingnya pembangunan manusia sebagai sentral pembangunan.

Keterkaitan Antara Kesehatan dan Pembangunan

Laporan Komisi, menganalisis berbagai hubungan keterkaitan antara kesehatan dengan pembangunan ekonomi yang dapat diterangkan melalui berbagai mekanisme. Berikut ini akan diuraikan pembahasan terhadap tiga fokus area, yaitu pertama, kesehatan dan pembangunan, kedua, kesehatan dan kemiskinan, dan ketiga, pendekatan dari aspek demografi.
Pertama, Kesehatan dan Pembangunan.
Pada tingkat mikro yaitu pada tingkat individual dan keluarga, kesehatan adalah dasar bagi produktivitas kerja dan kapasitas untuk belajar di sekolah. Tenaga kerja yang sehat secara fisik dan mental akan lebih enerjik dan kuat, lebih produktif, dan mendapatkan penghasilan yang tinggi. Keadaan ini terutama terjadi di negara-negara sedang berkembang, dimana proporsi terbesar dari angkatan kerja masih bekerja secara manual. Di Indonesia sebagai contoh, tenaga kerja laki-laki yang menderita anemia menyebabkan 20% kurang produktif jika dibandingkan dengan tenaga kerja laki-laki yang tidak menderita anemia. Selanjutnya, anak yang sehat mempunyai kemampuan belajar lebih baik dan akan tumbuh menjadi dewasa yang lebih terdidik. Dalam keluarga yang sehat, pendidikan anak cenderung untuk tidak terputus jika dibandingkan dengan keluarga yang tidak sehat.
Pada tingkat makro, penduduk dengan tingkat kesehatan yang baik merupakan masukan (input) penting untuk menurunkan kemiskinan, pertumbuhan ekonomi, dan pembangunan ekonomi jangka panjang. Beberapa pengalaman sejarah besar membuktikan berhasilnya tinggal landas ekonomi seperti pertumbuhan ekonomi yang cepat didukung oleh terobosan penting di bidang kesehatan masyarakat, pemberantasan penyakit dan peningkatan gizi. Hal ini antara lain terjadi di Inggris selama revolusi industri, Jepang dan Amerika Selatan pada awal abad ke-20, dan pembangunan di Eropa Selatan dan Asia Timur pada permulaan tahun 1950-an dan tahun 1960-an.
Informasi yang paling mengagumkan adalah penelusuran sejarah yang dilakukan oleh Prof. Robert Fogel, yang menyatakan bahwa peningkatan ketersediaan jumlah kalori untuk bekerja, selama 200 tahun yang lalu mempunyai kontribusi terhadap pertumbuhan pendapatan per kapita seperti terjadi di Perancis dan Inggris. Melalui peningkatan produktivitas tenaga kerja dan pemberian kalori yang cukup, Fogel memperkirakan bahwa perbaikan gizi memberikan kontribusi sebanyak 30% terhadap pertumbuhan pendapatan per kapita di Inggris.
Bukti-bukti makroekonomi menjelaskan bahwa negara-negara dengan kondisi kesehatan dan pendidikan yang rendah, mengahadapi tantangan yang lebih berat untuk mencapai pertumbuhan berkelanjutan jika dibandingkan dengan negara yang lebih baik keadaan kesehatan dan pendidikannya. Pada Tabel 1 dibawah ini ditunjukkan tingkat pertumbuhan dari beberapa negara sedang berkembang pada periode 1965-1994. Pengelompokan negara-negara tersebut didasarkan atas tingkat pendapatan dan angka kematian bayi (sebagai proksi dari seluruh keadaan penyakit pada tahun 1965). Tabel tersebut menjelaskan di negara-negara dengan tingkat angka kematian bayi yang rendah menikmati tingkat pertumbuhan ekonomi yang tinggi pada periode tertentu.

Tabel 1: Tingkat Pertumbuhan Pendapatan Per Kapita, 1965-1994
( Didasarkan atas Pendapatan dan Angka Kematian Bayi, 1965)

Angka Kematian Bayi (AKB),1965 AKB 150
Tahun Dasar Pendapatan, 1965
GDP US$ 6000
-
-
5.9
2.8
1.9
3.7
3.4
1.8
1.7
-0.5
1.0
1.1
1.1
0.3
-
0.1
-0.7
2.5
-
-
Sumber: WHO-SEAR, 2002

Terdapat korelasi yang kuat antara tingkat kesehatan yang baik dengan pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Secara statistik diperkirakan bahwa setiap peningkatan 10% dari angka harapan hidup (AHH) waktu lahir akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi minimal 0.3–0.4% pertahun, jika faktor-faktor pertumbuhan lainnya tetap. Dengan demikian, perbedaan tingkat pertumbuhan tahunan antara negara-negara maju yang mempunyai AHH tinggi (77 tahun) dengan negara-negara sedang berkembang dengan AHH rendah (49 tahun) adalah sekitar 1.6%, dan pengaruh ini akan terakumulasi terus menerus.
Peningkatan kesejahteraan ekonomi sebagai akibat dari bertambah panjangnya usia sangatlah penting. Dalam membandingkan tingkat kesejahteraan antar kelompok masyarakat, sangatlah penting untuk melihat angka harapan hidup, seperti halnya dengan tingkat pendapatan tahunan. Di negara-negara yang tingkat kesehatannya lebih baik, setiap individu memiliki rata-rata hidup lebih lama, dengan demikian secara ekonomis mempunyai peluang untuk untuk memperoleh pendapatan lebih tinggi. Keluarga yang usia harapan hidupnya lebih panjang, cenderung untuk menginvestasikan pendapatannya di bidang pendidikan dan menabung. Dengan demikian, tabungan nasional dan investasi akan meningkat, dan pada gilirannya akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi.
Peranan kesehatan diantara berbagai faktor pertumbuhan ekonomi dapat digambarkan dalam Diagram 1 dibawah ini. Dalam diagram tersebut dapat dilihat, pembangunan ekonomi disatu fihak, merupakan fungsi dari kebijakan dan institusi (kebijakan ekonomi, pemerintahan yang baik, dan penyediaan pelayanan publik), dan faktor masukan (sumber daya manusia, teknologi, dan modal perusahaan) dilain fihak. Kesehatan mempunyai peranan ekonomi yang sangat kuat terhadap sumber daya manusia dan modal perusahaan melalui berbagai mekanisme seperti digambarkan.

Diagram 1: Kesehatan Sebagai Masukan Untuk Pembangunan Ekonomi

Kebijakan ekonomi
Pemerintahan yang baik
Penyediaan pelayanan publik

Sumberdaya manusia, termasuk:
Pendidikan, pelatihan, perkembangan
Fisik dan kognitif

Kesehatan
Teknologi, termasuk:
Pengetahuan ilmiah yang relevan
untuk menghasilkan inovasi dalam
difusi ekonomi dalam negeri dengan
menggunakan teknologi dari luar

Modal perusahaan, termasuk:
Investasi yang pasti dalam peralatan,
organisasi dan kerjasama karyawan,
peluang investasi untuk menarik
modal

Kesehatan yang buruk akan memberikan pengaruh buruk terhadap pertumbuhan ekonomi, hal ini antara lain terjadi di sub-Sahara Afrika dan Asia Selatan. Beban berat yang diakibatkan oleh penyakit dan pengaruh gandanya terhadap produktivitas, kependudukan, dan pendidikan mempunyai peranan dalam kinerja ekonomi yang buruk dan kronis di negara-negara Afrika. Studi terbaru yang dilakukan oleh Bloom dan Sachs, menemukan bahwa lebih dari setengahnya dari keterbelakangan pertumbuhan di negara-negara Afrika jika dibandingkan dengan dengan negara-negara di Asia Timur, secara statistik dapat diterangkan oleh beban berat akibat penyakit, kependudukan, dan geografis jika dibandingkan dengan variabel-variabel tradisional dari ekonomimakro dan politik pemerintahan. Sebagai contoh, tingginya angka prevalensi penyakit malaria menunjukkan hubungan yang erat dengan penurunan pertumbuhan ekonomi sebesar satu persen atau lebih setiap tahunnya.

Kedua, Kesehatan dan Kemiskinan

Berbagai indikator kesehatan di negara-negara berpendapatan rendah dan menengah jika dibandingkan dengan negara-negara berpendapatan tinggi, memperlihatkan bahwa angka kesakitan dan kematian secara kuat berkorelasi terbalik dengan pendapatan, seperti terlihat dalam Tabel 2 dibawah ini. Studi lain dilakukan oleh Bank Dunia yang membagi keadaan kesehatan antara kelompok penduduk berpenghasilan tinggi dan rendah pada negara-negara tertentu. Sebagai contoh, tingkat kematian anak pada quantil termiskin di Bolivia dan Turki diperkirakan empat kali lebih besar dibandingkan dengan tingkat kematian pada quantil terkaya. Dengan demikian kebijakan yang diarahkan untuk menanggulangi penyakit malaria dan kekurangan gizi secara langsung merupakan implementasi dari kebijakan mengurangi kemiskinan.
Komitmen global untuk meningkatkan status kesehatan secara jelas dicantumkan dalam Tujuan Pembangunan Milenium (Millenium Development Goals-MDGs). Tujuan pembangunan milenium tersebut antara lain: (1) menurunkan angka kematian anak sebesar dua pertiganya pada tahun 2015 dari keadaan tahun 1990; (2) menurunkan angka kematian ibu melahirkan sebesar tiga perempatnya pada tahun 2015 dari keadaan 1990; dan (3) menahan peningkatan prevalensi penyakit HIV/AIDS dan penyakit utama lainnya pada tahun 2015. Tujuan pembangunan milenium difokuskan terhadap pengurangan kemiskinan pada umumnya dan beberapa tujuan kesehatan pada khususnya, sehingga terdapat keterkaitan antara upaya keseluruhan penurunan kemiskinan dengan investasi di bidang kesehatan.

Tabel 2: Angka Harapan Hidup Dan Tingkat Kematian, Menurut Tingkat Kemajuan Pembangunan Negara (1995-2000)

Tingkat Pembangunan Negara Penduduk
(1999)
Juta Rata-rata Pendapatan Tahunan (US$) Angka Harapan Hidup (Tahun) Angka Kematian Bayi (Per-1000) Angka Kematian Anak Balita (Per-1000)
Sangat Terbelakang 643 296 51 100 159
Pendapatan Rendah 1777 538 59 80 120
Pendapatan Menengah-Bawah 2094 1200 70 35 39
Pendapatan Menengah-Atas 573 4900 71 26 35
Pendapatan Tinggi 891 25730 78 6 6
Sub-Sahara Afrika 642 500 51 92 151
Sumber: Human Development Report 2001, Table 8, and CMH Calculation using World

Development Indicators of the World Bank

Beberapa alasan meningkatnya beban penyakit pada penduduk miskin adalah: Pertama, penduduk miskin lebih rentan terhadap penyakit karena terbatasnya akses terhadap air bersih dan sanitasi serta kecukupan gizi. Kedua, penduduk miskin cenderung enggan mencari pengobatan walaupun sangat membutuhkan karena terdapatnya kesenjangan yang besar dengan petugas kesehatan, terbatasnya sumber daya untuk memenuhi kebutuhan dasar, dan terbatasnya pengetahuan untuk menghadapi serangan penyakit.
Konsekuensi ekonomi jika terjadi serangan penyakit pada anggota keluarga merupakan bencana jika untuk biaya penyembuhannya mengharuskan menjual aset yang mereka miliki atau berhutang. Hal ini akan menyebabkan keluarga jatuh kedalam kemiskinan, dan jika tidak bisa keluar dari hal ini akan mengganggu tingkat kesejahteraan seluruh anggota keluarga bahkan generasi berikutnya. Serangan penyakit yang tidak fatal dalam kehidupan awal akan mempunyai pengaruh yang merugikan selama siklus hidup berikutnya. Pendidikan secara luas dikenal sebagai kunci dari pembangunan, tetapi masih belum dihargai betapa pentingnya kesehatan anak dalam pencapaian hasil pendidikan. Kesehatan yang buruk secara langsung menurunkan potensi kognitif dan secara tidak langsung mengurangi kemampuan sekolah. Penyakit dapat memelaratkan keluarga melalui menurunnya pendapatan, menurunnya angka harapan hidup, dan menurunya kesejahteraan psikologis.

Ketiga, Pendekatan Aspek Demografi

Hal yang paling merugikan, namun kurang diperhatikan, biaya yang tinggi dari kematian bayi dan anak dapat ditinjau dari aspek demografi. Keluarga miskin akan berusaha mengganti anaknya yang meninggal dengan cara memiliki jumlah anak yang lebih banyak. Jika keluarga miskin mempunyai banyak anak maka keluarga tersebut tidak akan mampu melakukan investasi yang cukup untuk pendidikan dan kesehatan untuk setiap anaknya. Dengan demikian, tingginya beban penyakit pada keluarga yang memiliki banyak anak akan menyebabkan rendahnya investasi untuk kesehatan dan pendidikan untuk setiap anaknya.
Bukti empiris tentang adanya hubungan antara tingkat fertilitas dengan tingkat kematian anak adalah sangat kuat. Negara-negara yang memiliki angka kematian bayi kurang dari 20, mempunyai angka rata-rata tingkat fertilitas (Total Fertility Rate) sebesar 1.7 anak. Negara-negara dengan tingkat kematian bayi diatas 100 mempunyai angka rata-rata tingkat fertilitas 6,2 anak. Pola ini menuntun pengertian kita bahwa negara-negara yang mempunyai tingkat kematian bayi yang tinggi mempunyai tingkat pertumbuhan penduduk tercepat di dunia dengan segala konsekwensinya.
Ketika angka kematian anak menurun, disertai dengan turunnya tingkat kesuburan, secara keseluruhan tingkat pertumbuhan penduduk juga menurun dan rata-rata umur penduduk akan meningkat. Ratio ketergantungan penduduk juga akan menurun. Perubahan demografi ini akan mendorong keseluruhan peningkatan GNP per kapita dan pertumbuhan ekonomi. Meningkatnya proporsi penduduk usia kerja secara langsung meningkatkan GNP per kapita.

Memilih Intervensi Untuk Kesehatan Yang Lebih Baik

Di berbagai negara khususnya di negara-negara yang sedang berkembang, ketersediaan sumber daya untuk mengatasi masalah kesehatan sangat terbatas, oleh karena itu pemilihan alternatif intervensi kesehatan yang cost-effective menjadi penting. Pada tahun 1978, melalui Deklarasi Alma Ata tujuan kesehatan bagi semua telah disetujui oleh seluruh negara anggota Organisasi Kesehatan Sedunia (World Health Organization-WHO). Beberapa kesepakatan dalam deklarasi tersebut adalah komitmen negara-negara anggota terhadap keadilan kesehatan, lebih memfokuskan pelayanan kesehatan pencegahan (preventive) dan peningkatan (promotive) dibandingkan dengan pengobatan (curative) dan pemulihan (rehabilitative), meningkatkan kerjasama lintas sektoral, dan meningkatkan partisipasi masyarakat.
Sampai saat ini beberapa komitmen tersebut belum dapat diwujudkan. Sebagian besar negara-negara berpendapatan rendah lebih banyak mengalokasikan sumber daya untuk pelayanan kesehatan pengobatan. Hal ini menyebabkan terjadinya inefisiensi alokasi, penggunaan teknologi yang tidak tepat, dan inefisiensi teknis. Hanya sedikit negara yang sukses mencapai kesehatan yang adil dan berhasil menjalin kerjasama lintas sektor dan partisipasi masyarakat dengan baik.

Menilai Status Kesehatan Penduduk

Status kesehatan penduduk biasanya dinilai dengan menggunakan berbagai indikator yang secara garis besar dibagi dalam dua kelompok. Kelompok pertama, berisikan indikator yang menghitung jumlah kematian yang terjadi selama periode tertentu. Contohnya adalah angka kematian kasar (Crude Death Rate-CDR) dan angka kematian bayi (Infant Mortality Rate-IMR). Kelompok penduduk yang mempunyai angka CDR dan IMR yang rendah dikatakan mempunyai status kesehatan yang lebih baik jika dibandingkan dengan kelompok penduduk yang angka CDR dan IMR nya tinggi.
Kelompok kedua, berisikan berbagai indikator yang memperlihatkan jumlah orang yang menderita kecacatan akibat penyakit tertentu. Contohnya adalah jumlah penderita AIDS, Tuberkulosis (TB), Polio, dan sakit mental. Sama dengan kelompok pertama, kelompok penduduk yang mempunyai jumlah penderita AIDS atau TB lebih sedikit dikatakan lebih sehat jika dibandingkan dengan kelompok penduduk yang jumlah penderita penyakit tersebut lebih banyak.
Kedua kelompok indikator tersebut sayangnya tidak menjelaskan kepada kita kapan kematian atau kecacatan terjadi, bagaimana tingkat parahnya penyakit, dan berapa lama mereka menderita. Masyarakat pempunyai nilai atau persepsi yang berbeda tentang hal-hal tersebut.
Untuk mengatasi hal tersebut, pada tahun 1993 kedua kelompok indikator tersebut digabungkan kedalam satu indikator yang disebut DALY ( Disability Adjusted Life Years ) untuk mengukur dengan lebih baik status kesehatan penduduk. DALY menggambarkan jumlah tahun untuk hidup sehat yang hilang sebagai akibat dari kematian dan kecacatan. Satu DALY didefinisikan sebagai satu tahun yang hilang untuk hidup sehat akibat dari kematian dan kecacatan. Penggunaan DALY dapat digunakan untuk membandingkan kesehatan penduduk dari waktu ke waktu atau membandingkan antara satu kelompok penduduk dengan kelompok penduduk lain dengan lebih mudah dan sederhana. Kesimpulannya, DALY mengukur beban yang ditimbulkan oleh penyakit yang diakibatkan oleh kematian dan atau kecacatan yang harus ditanggung oleh masyarakat. Penggunaan indikator DALY dapat dianalogikan dengan penggunaan indikator HDI (Human Development Index) yang dikembangkan oleh UNDP yang merupakan indikator komposit dari kesehatan, pendidikan dan tingkat pendapatan.
Komisi Makroekonomi dan Kesehatan dalam penyusunan laporannya menggunakan DALY dan analisis manfaat biaya. Dalam laporan tersebut satu DALY dinilai sebesar rata-rata pendapatan perkapita dalam setahun.

Beban Penyakit Di Regional Selatan-Timur Asia

Organisasi Kesehatan Sedunia (WHO) telah melakukan perhitungan beban penyakit secara global (Global Burden of Disease-GBD) pada tahun 1999, 2000, dan 2001. Dalam GBD tersebut, penyakit dibagi dalam tiga katagori besar yaitu penyakit menular (Communicable diseases), penyakit tidak menular (Non-communicable diseases), dan kecelakaan (Injuries). Pada Tabel 3 disajikan data perbandingan kehilangan DALY antara Global dengan Regional Timur-Selatan Asia (South-East Asia Region-SEAR).

Tabel 3: Kehilangan Total DALY Dalam Tahun 1990 dan 1999-2001, pada Tingkat Global dan SEAR (Dalam Juta)

Katagori Penyakit 1990 1999 2000 2001
Global SEAR Global SEAR Global SEAR
Penyakit Menular 318 615 191
(31%) 610
184
(30%) 616 188
(31%)
Penyakit Tidak menular 277 622 156 (25%) 679 187
(28%) 673 177
(26%)
Kecelakaan 534 201 65
(32%) 183 54
(30%) 179 54
(30%)
TOTAL 1129 1438 412
(28%) 1471 425
(29%) 1468 419
(29%)
Sumber: WHO-SEAR, 2002

Pada tabel tersebut dapat dilihat secara global pada tahun 1999 kehilangan total DALY sekitar 1.438 juta. Untuk regional Asia Timur-Selatan pada kehilangan total DALY pada tahun 1999, 2000, dan 2001 berturut-turut sekitar 412, 425, dan 419 juta. Pada regional tersebut, terjadi beban ganda dalam masalah kesehatan yaitu disatu fihak menghadapi masalah penyakit menular (seperti AIDS, TB, dan Malaria) dilain fihak menghadapi penyakit tidak menular (misalnya Kanker, Hipertensi, dan Diabetes).
Komisi telah mengidentifikasi tujuh penyebab utama kematian yang dialami di negara-negara berpendapatan rendah (pendapatan pertahun sekitar US$ 300) yaitu: HIV/AIDS, Malaria, Tuberkulosis/TB, infeksi menular pada anak, masalah kesehatan ibu dan bayi, kekurangan zat gizimikro, dan penyakit akibat merokok.
Komisi tersebut mengarahkan agar dilakukan intervensi langsung terhadap tujuh penyebab utama kematian tersebut, dan intervensi tersebut dilaksanakan melalui pelayanan kesehatan dasar seperti Puskesmas, Puskesmas Pembantu dan jaringannya agar lebih dekat pelayanannya terhadap penderita, disebut dengan sistem Dekat Dengan Klien-DDK (Close to Client-CTC)
Sebagian besar kegiatan yang diperlukan untuk melaksanakan intervensi esensial tersebut tidak memerlukan teknologi canggih atau tenaga kesehatan dengan keahlian tinggi seperti tersedia di Rumah Sakit. Dibawah ini disampaikan beberapa intervensi esensial yang diperlukan untuk menangani berbagai penyakit penyebab utama kematian yaitu sebagai berikut.
HIV/AIDS: Ubah kebiasaan hidup, contohnya hanya melalukan hubungan intim dengan satu partner, gunakan kondom, gunakan transfusi darah yang aman, gunakan jarum suntik yang aman.
Malaria: Gunakan kelambu yang telah dicelup dengan insektisida, lakukan manajemen kasus yang baik.
Tuberkulosis: Manajemen kasus yang lebih baik melalui DOTS (Directly Observed Treatment Short-course)
Penyakit infeksi menular pada anak: Imunisasi, penggunaan oralit atau larutan gula garam
Gangguan kesehatan ibu dan bayi: Pertolongan persalinan oleh tenaga terlatih, imunisasi ibu dengan tetanus-toksoid
Kekurangan zat gizimikro: Yodisasi garam, pemberantasan penyakit cacing pada anak sekolah
Penyakit akibat tembakau: Larangan iklan rokok, naikan pajak rokok.
Meningkatkan Keadilan Melalui Pentargetan Penduduk Miskin Yang Lebih Baik

Memilih intervensi dengan biaya efektif seperti yang telah diuraikan diatas tidak akan secara otomatis meningkatkan keadilan pelayanan kesehatan. Terdapat tiga faktor utama yang mempengaruhi tingkat penggunaan (utilisasi) pelayanan kesehatan secara optimal dan mempengaruhi status kesehatan yaitu hambatan geografik, pembiayaan, dan sosio-antropologis. Dengan melaksanakan sistem DDK diharapkan akan menghilangkan hambatan geografis. Untuk mengatasi hambatan keuangan dianjurkan untuk melaksanakan sistem asuransi kesehatan untuk menggantikan sistem pembayaran pelayanan kesehatan langsung. Asuransi kesehatan, diluar asuransi swasta komersial akan mencegah keluarga jatuh kedalam keadaan melarat. Komisi juga menganjurkan diterapkannya skema skala kecil pembiayaan kesehatan yang berasal dari masyarakat (Di Indonesia dikenal dengan Dana Sehat), sebagai manifestasi partisipasi masyarakat dalam pembangunan kesehatan. Hambatan sosio-antropologi berkaitan dengan bagaimana tanggapan dari sistem kesehatan terhadap kebutuhan pelayanan kesehatan masyarakat, dan seberapa besar jarak ekonomi dan budaya antara pengguna dan penyedia pelayanan kesehatan.

Apa Yang Harus Diperbuat : Sumberdaya Yang Diperlukan

Komisi Makroekonomi dan Kesehatan telah memberikan kontribusi yang sangat penting dalam mendemontrasikan keterkaitan antara peningkatan kesehatan dengan pembangunan ekonomi. Komisi mencatat bahwa ada beberapa jenis penyakit yang memberikan kontribusi yang tinggi terhadap memburuknya keadaan kesehatan, dan terdapat intervensi yang efektif untuk mencegah dan mengobati penyakit tersebut.
Hal ini menggambarkan bahwa banyak keuntungan yang dapat diraih oleh negara-negara berkembang jika pencegahan dan pengobatan lebih diarahkan terhadap penangulangan penyakit- penyakit tersebut.
Komisi memberikan beberapa rekomendasi tentang langkah-langkah yang harus ditempuh untuk meningkatkan intervensi tersebut. Tantangan-tantangan bagi negara-negara di regional Selatan dan Timur Asia untuk menerapkan rekomendasi ini dan menjabarkannya dalam paraktek, akan menjawab beberapa tujuan yang ditetapkan oleh Komisi.

Tingkat Pengeluaran Kesehatan Di Negara-Negara Berpendapatan Rendah

Intervensi esensial yang diperlukan untuk mengurangi tingkat kematian di negara-negara berpendapatan rendah tidaklah mahal, tetapi tidak juga gratis. Komisi telah memperkirakan biaya yang diperlukan untuk melakukan intervensi esensial di negara-negara berpendapatan rendah adalah kurang dari US$ 1.200 per orang per tahun. Paket intervensi dan target serta cakupan intervensi disajikan dalam Tabel 4. Sebagai contoh, diperkirakan cakupan DOTS untuk pengobatan TB akan meningkat dari 44% dari pasien tang terinfeksi menjadi 60% pada tahun 2007, dan 70% pada tahun 2015.

Tabel 4: Cakupan Pelayanan Esensial Yang Harus Ditingkatkan
(Didasarkan atas cakupan pelayanan Tahun 2002)

2002 2007 2015
TB 44% 60% 70%

Malaria
Pengobatan
Pencegahan
31%
2%
60%
50%
70%
70%

HIV
Pencegahan (Diluar sektor Kesehatan)
Pencegahan (Dalam Sektor Kesehatan
10-20%
1- 10%
70%
40%
80%
70%

Perawatan Untuk Infeksi Oportunistik 6-10% 40% 70%

Imunisasi
BCG/DPT/Polio/Hepatitis B
Campak
75%
68%
90%
80%
90%
90%

Perawatan Balita
Infeksi Saluran Nafas
Diare
59%
52%
70%
70%
80%
80%

Pelayanan Kesehatan Ibu
Ante Natal Care (ANC)
65%
80%
90%

Pertolongan Persalinan Oleh Tenaga Terlatih 45% 80% 90%

Kebijakan Pengawasan Merokok (iklan, pajak, konsumen)
20% 80% 80%
Sumber: WHO-SEAR, 2002

Untuk mencapai peningkatan cakupan pelayanan seperti tercantum pada Tabel 4 diatas, pada tahun 2007 diperlukan tambahan biaya US$ 14 per orang per tahun di negara-negara berpendapatan rendah, dan US$ 22 per orang per tahun di negara-negara sangat miskin sebagai tambahan dari pembiayaan kesehatan pada tahun 2002. Dengan kondisi pengeluaran kesehatan di negara-negara berpenghasilan rendah sebanyak US$ 21 per orang maka total pengeluaran pada tahun 2007 menjadi US$ 34 dan menjadi US$ 38 pada tahun 2015. Tingkat pengeluaran ini masih kasar sebagai angka minimum per orang yang diperlukan untuk melakukan intervensi esensial. Perkiraan ini cukup rasional jika dibandingkan dengan pengeluaran biaya kesehatan di negara-negara maju yang besarnya lebih dari US$ 2000 per orang per tahun. Namun disadari bahwa peningkatan biaya yang diharapkan dinegara-negara berpendapatan rendah masih cukup tinggi mengingat daya beli masyarakatnya masih rendah. Pembiayaan khusus diperlukan diantara negara-negara tertentu tergantung dari epidemiologi penyakit dan tingkat pertumbuhan ekonominya.
Sekitar US$ 30-45 harus berasal dari pengeluaraan publik, untuk dua alasan: Pertama, untuk memenuhi pelayanan publik (misalnya pemberantasan penyakit infeksi menular), dimana individu kurang mendapatkan insentif terhadap proteksi untuk dirinya sendiri, dan Kedua, untuk menjamin akses penduduk miskin terhadap pelayanan kesehatan dimana mereka tidak cukup memiliki uang.
Komisi sadar bahwa dengan pengeluaran publik sekitar US$ 30 – 45, belum banyak yang dilakukan guna peningkatan kualitas pelayanan kesehatan seperti halnya pelayanan komprehensif dinegara-negara maju. Perkiraan ini adalah biaya minimal sitem kesehatan untuk menangani penyakit infeksi menular dan pelayanan kesehatan bagi ibu dan bayi yang merupakan proporsi terbesar untuk menghindari kematian di negara-negara berpendapatan rendah. Dengan memberikan intervensi pelayanan kesehatan yang efektif akan meningkatkan kemampuan daerah untuk menanggapi kebutuhan pelayanan kesehatan masyarakat sebagai pra kondisi untuk meningkatkan askes penduduk miskin terhadap fasilitas pelayanan kesehatan umum.

Peningkatan Biaya dan Manfaat Makroekonomi

Peningkatan biaya yang besar bagi intervensi kesehatan esensial akan menyebabkan penurunan secara bermakna beban penyakit di negara-negara berkembang. Perkiraan terbaik dari pengaruh pelayanan kesehatan adalah menurunnya angka kematian total di negara-negara berkembang akibat penyakit infeksi menular dan kesehatan ibu yang rendah sekitar 8 juta per tahun pada tahun 2015, yang hal ini berasosiasi dengan penurunan sekitar 330 juta DALYs. Perkiraan penurunan angka kematian ini dapat dilihat pada Tabel 5.

Tabel 5 : Angka Kematian Dibawah Usia 60 Tahun, Dibandingkan Ada Tidaknya Intervensi, Tahun 1998–2020

1998 2010 2020
Tahun Dasar Tanpa Intervensi Dengan Intervensi Tanpa Intervensi Dengan Intervensi
Grup 1 13,956,996 13,255,530 5,155,625 12,671,000 4,593,479
Infeksi dan kurang gizi 9,073,059 8,903,935 2,849,259 8,763,000 2,804,160
Gangguan Kesehatan Ibu 491,185 360,720 203,645 252,000 87,400
Infeksi Saluran Nafas 2,101,802 2,175,873 718,038 2,080,000 686,400
Gangguan
Kesehatan Perinatal 2,101,802 1,815,001 1,384,682 1,576,000 1,015,519
Sumber: WHO-SEAR, 2002

Jika terjadi peningkatan status kesehatan yaitu meningkatnya angka harapan hidup di negara-negara berpendapatan rendah sebesar 0.5 tahun selama 19 tahun, katakanlah dari 59 tahun menjadi 68 tahun, maka pengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi dapat mencapai sekitar 0.5% per tahun.

Peningkatan Biaya Kesehatan

Analisis perkiraan biaya untuk meningkatkan cakupan intervensi pelayanan kesehatan yang esensial telah dilakukan terhadap 49 kegiatan prioritas di 89 negara miskin. Intervensi ini telah diidentifikasi sebagai kunci keberhasilan untuk menangani keadaan kesehatan bagi penduduk miskin. Perluasan kegiatan ini didasarkan atas tingkat cakupan yang akan dicapai pada tahun 2007 dan 2015 dengan data dasar tahun 2002.
Analisa biaya direncanakan untuk memperkirakan tambahan biaya yang diperlukan untuk perluasan pelayanan yang didasarkan atas kondisi saat ini. Biaya yang diperlukan untuk memperluas kegiatan pelayanan kesehatan dapat dilihat pada Tabel 6.

Tabel 6: Peningkatan Biaya Intervensi Kesehatan

Total Pengeluaran Kesehatan Biaya Inkremental
2002
(Tahun dasar) 2007 2015 2007 2015
Semua Negara 106.1
(3.7%)
162.8
(4.5%) 200.3 (3.9%) 25
(0.7%) 46
(0.9%)
Asia Selatan 36.0
(4.9%)
51.4
(5.7%) 59.8
(4.8%) 7
(0.8%) 11
(0.9)
Catatan: Biaya dalam Juta US$, Angka dalam kurung adalah % dari GNP, Berdasarkan 8 Negara Asia Selatan

Mobilisasi Sumberdaya Dalam Negeri Yang Lebih Besar Untuk Kesehatan
Tidak cukupnya tingkat pengeluaran biaya kesehatan, adalah sebagai refleksi dari kemiskinan. Ketika suatu negara mempunyai GNP sekitar US$ 500 per orang per tahun, walaupun pengeluaran kesehatan sebanding dengan 5% dari GNP maka jumlahnya sekitar US$ 25 per orang per tahun. Terdapat 1,8 miliar penduduk hidup di negara-negara yang pendapatan per kapitanya kurang dari US$ 500, dan terdapat 350 juta penduduk yang hidup di negara-negara tersebut dengan pengeluaran biaya kesehatan kurang dari US$ 25 per orang per tahun. Tidak ada satu pun negara dengan pendapatan US$ 500 atau kurang per tahun mempunyai pengeluaran US$ 30 per orang per tahun untuk kesehatan. Dan tidak ada satu negara pun yang pemerintahnya mengeluarkan US$ 20 per orang per tahun untuk pengeluaran publik untuk kesehatan.
Negara-negara termiskin didunia ditandai dengan teramat rendahnya pengeluaran biaya untuk kesehatan dibanding dengan standar negara-negara berpendapatan tinggi. Walaupun seandainya negara-negara miskin tersebut mengalokasikan sumber daya dalam negeri lebih banyak untuk kesehatan hal ini tidak akan memecahkan masalah mendasar: negara-negara miskin tidak memiliki sumber daya biaya yang dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan pelayanan kesehatan dasar bagi masyarakatnya. Dengan perkiraan US$ 30 – 40 per kapita untuk pelayanan esensial, jumlah ini akan menyerap sekitar 10% dari GNP dari negara miskin tersebut, jauh dari sumber daya dalam negeri yang dapat dimobilisasikan.
Komisi telah menguji secara hati hati peningkatan sumber daya dalam negeri, terutama sumber daya biaya yang dapat dimobilisasi untuk kesehatan di negara-negara berpendapatan rendah. Berkaitan dengan sumber daya sektor publik, kemampuan untuk meningkatkan anggaran kesehatan tentu akan berbeda antar negara hal ini dipengaruhi oleh struktur ekonomi, kemampuan mengumpulkan pajak, kemampuan bayar hutang, dan banyak faktor lainnya. Masih terdapat beberapa kasus dimana pengeluaran publik untuk kesehatan yang sangat rendah mungkin dapat dimobilisasi, tetapi komitmen politik sangat sulit diperoleh. Jika masyarakat secara tegas dapat dibedakan secara geografis maupun etnis, pemerintah cenderung memilih untuk mengalokasikan untuk kelompok minoritas daripada untuk kelompok penduduk yang luas. Begitu pula halnya jika terdapat diskriminasi yang merugikan terhadap perempuan yang bertanggung jawab terhadap perawatan kesehatan keluarga, seringkali perhatian menjadi kurang terhadap kelompok miskin secara keseluruhan.
Dapat juga terjadi pengeluaran kesehatan seringkali menjadi tidak efisien atau bahkan percuma. Keadaan ini terutama terjadi akibat pengeluaran langsung untuk kesehatan oleh orang miskin guna memperoleh pelayanan kesehatan berkualitas rendah dan pengobatan kurang tepat. Di China dan India sebagai contoh, penduduk miskin di desa membayar langsung sekitar 85% palayanan kesehatannya untuk hal-hal yang tidak layak misalnya untuk pembelian obat yang tidak bermutu, dan tenaga kesehatan yang kurang profesional dan tidak memiliki lisensi.
Walaupun sebagian besar negara akan memobilisasi lebih banyak biaya untuk kesehatan, tetapi sangatlah realistik untuk memperkirakan bahwa meningkatnya pendapatan tidak akan lebih dari 1 – 2% dari GNP dinegara-negara berpendapatan rendah. Sebagai pedoman indikatif, diperkirakan bahwa rata-rata di negara berpendapatan rendah akan meningkatkan pengeluaran biaya untuk kesehatan menjadi 1% dari GNP pada tahun 2007 dan 2% pada tahun 2015. Bagi negara-negara dengan pendapatan per kapita US$ 500, kenaikan $ 5 per kapita per tahun pada tahun 2007 dan $ 10 pada tahun 2015 tidaklah cukup untuk menutupi jurang antara biaya untuk pelayanan esensial dengan ketersediaan sumber daya. Salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan melakukan memobilisasi sumber sumber dana dari luar negeri (donor) untuk dapat menutupi kekurangan pembiayaan bagi negara-negara berpendapatan rendah.
Strategi dasar untuk reformasi pembiayaan kesehatan di negara-negara berpendapatan rendah, Komisi menyarankan 6 langkah yaitu: (1) meningkatkan mobilisasi pajak umum untuk kesehatan guna mencapai 1% dari GNP pada tahun 2007 dan 2% pada tahun 2015, (2) meningkatkan bantuan dari negara donor untuk membiayai pengadaan barang publik guna menjamin akses penduduk miskin terhadap pelayanan kesehatan esensial, (3) mengalihkan pengeluaran langsung ke sistem pra bayar, termasuk program pembiayaan masyarakat yang didukung oleh pembiayaan publik jika memungkinkan, (4) menggali inisiatif untuk membantu negara-negara sangat miskin (HIPC), (5) mengatasi inefisiensi sumber daya pemerintah dan digunakan untuk sektor kesehatan, (6) realokasi pengeluaran biaya publik dari pengeluaran yang tidak produktif dan subsidi untuk sektor sosial agar lebih fokus untuk penduduk miskin.

Menghilangkan Hambatan Non-Biaya Untuk Pelayanan Kesehatan

Sebagian besar negara-negara berpendapatan rendah memerlukan upaya khusus untuk meningkatkan pelayanan kesehatan terutama untuk menerapkan sistem DDK dan dukungan manajemen sangat diperlukan. Komisi menilai secara detil berbagai hambatan non-finansial yang harus diatasi, (lihat Tabel 7). Terdapat lima katagori hambatan yaitu sebagai berikut: (1) pada tingkat keluarga dan masyarakat, (2) tingkat pelayanan kesehatan, (3) tingkat kebijakan sektor kesehatan dan manajemen strategik, (4) isu kebijakan publik, dan (5) karakteristik lingkungan.

Tabel 7: Katagorisasi Hambatan

Tingkat Hambatan
Keluarga dan Masyarakat Terbatasnya permintaan untuk intervensi yang efektif
Hambatan untuk menggunakan intervensi yang efektif : fisik, biaya, sosial.
Pelayanan Kesehatan Kurangnya dan tidak meratanya distribusi tenaga profesional kesehatan;
Lemahnya bimbingan teknis, manajemen, dan supervisi;
Tidak cukupnya alokasi obat dan alat kesehatan;
Terbatasnya peralatan dan infrastrutur (termasuk laboratorium dan komunikasi) dan rendahnya aksesibilitas pelayanan kesehatan.
Kebijakan Sektor Kesehatan dan Manajemen Strategik Lemahnya dan tersentralisasinya sistem perencanaan dan manajemen;
Lemahnya kebijakan obat dan peralatan kesehatan;
Tidak memadainya regulasi kefarmasian dan sektor swasta dan praktek industri;
Kurangnya kerjasama dan kemitraan dibidang kesehatan antara pemerintah dan masyarakat sipil;
Kurangnya insentif untuk menggunakan input secara efisien dan tanggapan terhadap kebutuhan pengguna;
Ketergantungan terhadap biaya dari donor sehingga mengurangi fleksibilitas dan rasa memiliki, kebijakan donor bertentangan dengan kebijakan negara.
Kebijakan Publik Antar Sektor Birokrasi pemerintahan
Terbatasnya ketersediaan infrastruktur komunikasi dan transportasi
Karakteristik Lingkungan Belum terciptanya Good Governance
Korupsi, pemerintahan yang lemah, lemahnya hukum;
Ketidak stabilan politik dan keamanan;
Prioritas yang rendah bagi sektor sosial;
Rendahnya akuntabilitas publik;
Terbatasnya kebebasan press.
Lingkungan Fisik
Keadaan iklim dan geografik sebagai peredisposisi timbulnya penyakit;
Keadaan fisik yang menghambat palayanan kesehatan

EMPAT UNSUR POKOK DIFUSI INOVASI

Di muka kami mendefinisikan difusi sebagai proses di mana (1) suatu inovasi (2) dikomunikasikan melalui saluran?saluran tertentu (3) dalam selang waktu (4) di kalangan anggota suatu sistem sosial. Empat unsur pokok difusi itu ialah inovasi, saluran komunikasi, waktu, dan sistem sosial (Gambar 1?1). Keempatnya umum ­nya terdapat dalam setiap kajian difusi, dan dalam setiap program atau kampanye difusi (misalnya kampanye masak air minum di sebuah pedesaan di Peru).
Gambar 1-1. Difusi adalah proses di mana (1) suatu inovasi (2) dikomunikasikan melalui saluran?saluran tertentu (3) dalam selang waktu (4) di kalangan anggota suatu sistem sosial.

INOVASI

Inovasi adalah gagasan, tindakan atau barang yang dianggap baru oleh seseo ­rang atau satuan pengguna lain. Selama berkenaan dengan perilaku manusia, ti ­dak terlalu dipersoalkan apakah suatu ide itu “secara obyektif” baru (seandainya di ­ukur dengan selang waktu sejak pertama kali digunakan atau ditemukan) atau ti ­dak. Pandangan seseorang tentang kebaruan suatu ide menentukan reaksinya ter ­hadap ide tersebut. Apabila ide itu dipandang baru oleh seseorang, maka itu ino ­vasi.

Kebaruan suatu inovasi mencakup tidak sekedar “baru mengetahui”. Sese ­orang mungkin telah cukup lama mengetahui (kenal) suatu inovasi tetapi belum menentukan sikap (berkenan atau tak berkenan) terhadapnya, atau belum menga ­dopsi atau menolaknya. Aspek “kebaruan” suatu inovasi bisa dinyatakan dalam batasan pengenalan, persuasi (penyikapan), atau keputusan untuk menggunakan.
Hendaknya kita tidak beranggapan bahwa semua inovasi itu perlu disebarkan dan dipakai. Nyatanya, ada beberapa kajian tentang inovasi yang menunjukkan bahwa suatu inovasi itu berbahaya dan boros yang umumnya tidak diperlukan, baik oleh perseorangan maupun sistem sosial. Lebih dari itu, inovasi yang sama mungkin diperlukan oleh pemakai da ­lam situasi tertentu tetapi tidak diperlukan oleh calon pengguna lain dalam suatu situasi yang berbeda. Misalnya, alat pemetik tomat mekanis telah diadopsi dengan cepat oleh para petani?niaga besar di California, tetapi mesin ini terIalu mahal bagi penanam tomat berskala kecil, dan karena itu ribuan petani kecil itu telah tergusur dari produksi tomat.

INOVASI TEKNOLOGI, INFORMASI DAN KETAKPASTIAN

Hampir semua ide baru yang dikupas dalam buku ini adalah inovasi teknologis, dan kami sering menggunakan kata inovasi bersinonim dengan teknologi. Teknologi adalah suatu rancangan untuk tindakan instrumental yang mengurangi ketakpasti ­an sebab akibat yang berkenaan dengan pencapaian suatu hasil yang diinginkan. Suatu teknologi biasanya punya dua unsur: (1) perangkat keras, terdiri dari per ­kakas yang membentuk teknologi itu sebagai obyek materia atau fisika, dan (2) perangkat lunak, terdiri dari pokok informasi untuk perkakas itu. Misalnya, kita sering berbicara tentang “perangkat keras komputer” yang terdiri dari semi konduk ­tor, transistor, koneksi?koneksi listrik, chasis yang melindungi atau menjadi tempat komponen?komponen listrik itu, dan “perangkat lunak” nya yang berupa aspek?as ­pek informasional lainnya mengenai perkakas ini yang memungkinkan kita meng ­gunakannya untuk memperluas kemampuan manusia di dalam memecahkan ma ­salah tertentu. Di sini kita melihat contoh persitindakan (interaksi) yang erat antara suatu perkakas dengan cara menggunakannya. Lekatan sosial aspek?aspek perang ­kat keras teknologi biasanya kurang tampak dibanding aspek?aspek permesinan dan perlengkapannya, dan dengan demikian kita sering berpikir tentang teknologi sebagaian besar dalam arti perangkat keras. Memang, kadang?kadang sisi perang ­kat keras teknologi itu dominan. Tetapi ada kalanya suatu teknologi hampir selu ­ruhnya terdiri dari informasi (perangkat lunak); misalnya filsafat politik konservatif, ide keagamaan seperti Children of God atau Islam Liberal, Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA), dsb. Penyebaran inovasi?inovasi perangkat lunak seperti itu telah diteliti, walaupun ada masalah metodologis dalam kajian macam itu, yakni bahwa pengadopsiannya tidak begitu mudah dilacak atau diamati secara lahiriah.

Meskipun unsur perangkat lunak teknologi sering tak begitu jelas kelihatan, hendaknya kita ingat bahwa hampir teknologi itu merupakan adonan aspek?aspek perangkat?keras dan perangkat?lunak. Sesuai dengan definisi kami tentang tekno ­logi, bagi seseorang ia merupakan alat pengurang ketidakpastian yang dimung ­kinkan dengan adanya informasi mengenai hubungan sebab akibat yang menda ­sari teknologi itu. Informasi ini biasanya berasal dari kegiatan Penelitian dan Pe ­ngembangan llmiah ketika teknologi itu dikembangkan. Kadang?kadang suatu tek ­nologi baru muncul dari praktek keseharian (bukan hasil litbang, walaupun kemu ­dian dievaluasi secara ilmiah sebelum disebarluaskan). Jadi pada umumnya suatu inovasi teknologi setidak?tidaknya berderajat keuntungan atau berkemanfaatan ba ­g! calon pemakainya. Tetapi kemanfaatan ini tidak selalu tampak gamblang atau luar biasa (spektakuler), terutama menurut pandangan para calon pemakai yang diharapkan menggunakannya. Jarang mereka merasa yakin bahwa suatu inovasi merupakan pengganti yang lebih unggul daripada praktek sebelumnya.
Maka dari itu inovasi teknologi juga menciptakan ketidakpastian di benak calon penggunanya (mengenai akibat?akibat yang diharapkan), dan di lain pihak mem ­beri peluang untuk mengurangi ketakpastian itu. Yang terakhir itu (bahwa inovasi mengurangi ketakpastian melalui informasi yang melekat padanya) menunjukkan kemanjuran yang mungkin dimiliki inovasi dalam memenuhi kebutuhan terasa se ­seorang atau dalam memecahkan masalah nyata yang dia hadapi; kemanfaatan ini mendorong seseorang untuk berusaha lebih keras mempelajari suatu inovasi. Jika pencarian informasi itu telah mengurangi ketidakpastian mengenai akibat?akibat yang diharapkan dari inovasi samapai pada tingkat yang dapat diterima olch sese ­orang, maka diambillah keputusan untuk mengadopsi atau menolak inovasi itu. Bila ide baru itu digunakan, akan di-peroleh informasi evaluatif mengenai inovasi teknologi itu, dan ketakpastian mengenai akibat?akibatnya menjadi terkurangi. Ja ­di, pada hakekatnya proses keputusan inovasi adalah kegiatan pencarian dan pe ­mrosesan informasi sebab seseorang terdorong untuk mengurangi ketidakpastian mengenai keuntungan dan kerugian inovasi itu.

Agar jelas, kita perlu membedakan dua macam informasi mengenai inovasi teknologi:
Informasi perangkat lunak, yang melekat pada suatu teknologi dan berfungsi mengurangi kepastian mengenai hubungan sebab?akibat berkenaan dengan pencapaian hasil yang diharapkan.
Informasi penilaian?inovasi, yang merupakan pengurang ketakpastian mengenai akibat?akibat yang diharapkan dari suatu inovasi.

Pertanyaan pokok yang biasanya diajukan seseorang mengenai informasi per ­angkat?lunak adalah “Inovasi apakah itu, bagaimana cara kerianya?” “Mengapa bisa begitu?”Sebaliknya, orang biasanya ingin memperoleh informasi penilaian ­ inovasi dengan mengajukan pertanyaan “Apa akibat/hasil yang diperoleh dari pe ­makaian inovasi itu?”; “Apa untung dan ruginya inovasi itu bagi diri saya?“.

RUMPUN TEKNOLOGI

Salah satu dari berbagai masalah konseptual dan metodologi yang dihadapi para peneliti dan praktisi difusi adalah penentuan batas kapan sesuatu itu disebut inovasi teknologi. Intinya, bagaimana menentukan kapan suatu inovasi tidak lagi disebut inovasi dan kapan sesuatu yang lain mulai disebut inovasi? Bila suatu ino ­vasi adalah gagasan yang dianggap baru, masalah batasan ini seharusnya di?jawab para calon pemakai yang akan merespon gagasan itu. Memang, pendekatan inilah yang digunakan para pakar difusi dan para peneliti pasar dalam kajian?kajian “pe ­nentuan posisi’. Misalnya, suatu kajian tentang difusi “daur?ulang” (pengolahan ulang barang bekas) di California menemukan bahwa para ibu rungga mendaur ulang kertas (majalah, koran) sebetulnya berkemungkinan mendaur?ulang botol dan kaleng bekas, tetapi banyak keluarga yang hanya mendaur ulang kertas bekas (Leonard?Barton dan Rogers, 1980a); diduga, kedua perilaku pen?daur?ulangan itu merupakan dua inovasi yang menjadi bagian dari suatu rumpun yang bersitaut. Rumpun teknologi terdiri dari satu atau lebih unsur?unsur teknologi yang terpisah yang dipandang bersitaut erat. Beberapa agen pembaru ada yang menganjurkan penggunaan suatu rumpun atau paket inovasi karena mereka tahu bahwa dengan demikian inovasi?inovasi itu lebih cepat diadopsi.

SIFAT INOVASI

Seharusnya kita tidak beranggapan bahwa inovasi itu satuan?satuan kupasan yang sama, seperti kadang?kadang dilakukan di masa lalu; yang demikian itu pe ­nyederhanaan yang terialu kasar. Kalau inovasi blue jeandan kalkulator saku ha ­nya memerlukan waktu 5 atau 6 tahun untuk menyebar ke seluruh konsumen di Amerika Serikat, ide?ide baru lainnya seperti sabuk-pengaman di jok mobil me ­merlukan berpuluh tahun untuk bisa tersebar rata penggunaannya oleh pengendara mobil di AS. Pandangan orang mengenai sifat?sifat inovasi dapat membantu menjelaskan perbe ­daan kecepatan adopsi inovasi satu dari yang lain.

1. Keuntungan relatif(relative advantage) adalah sejauh mana suatu inovasi dianggap lebih baik (menguntungkan) dari ­pada gagasan sebelumnya. Tingkat keuntungan relatif dapat diukur dengan tolok ekonomi, tetapi faktor?faktor seperti prestise sosial, kenyamanan dan kepuasan seringkali ju ­ga merupakan unsur yang penting. Persoalannya bukanlah seberapa banyak suatu inovasi memberi keuntungan “nyata”, melainkan apakah seseorang me ­mandang inovasi itu menguntungkan. Semakin besar keuntungan relatif suatu ino ­vasi diketahui, semakin cepat kemungkinan pengadopsiannya.

2. Kesesuaian(compatibility) adalah sejauh mana suatu inovasi dipandang sejalan dengan nilai- ­nilai yang ada, pengalaman sebelumnya, dan kebutuhan para calon pemakai. Ga ­gasan yang tidak sesuai dengan nilai?nilai dan norma?norma sosial yang lazim akan tidak diadopsi secepat inovasi yang sesuai. Pengadopsian inovasi yang tidak sesuai biasanya memerlukan mengadopsi nilai?nilai baru terlebih dulu. Contoh inovasi yang tidak sesuai adalah penggunaan alat?alat kontrasepsi di negara?negara yang kepercayaan agamanya menentang penggunaan teknik?teknik keluarga berencana, seperti di negara/masyarakat Muslim dan Katolik.

3. Kerumitan(complexity) adalah sejauh mana suatu inovasi dipandang sulit dipahami dan/atau dipakainya. Beberapa inovasi ada yang mudah dipahami oleh kebanyakan warga masyarakat, ada inovasi yang mungkin lebih rumit, dan yang demikian ini biasanya akan diadopsi lebih lambat. Misalnya, penduduk desa Los Molinos tidak memahami teori bakteri yang diterangkan petugas kesehatan sebagai alasan per ­lunya memasak air minum. Umumnya gagasan baru yang lebih mudah dipahami akan lebih cepat diadopsi daripada inovasi yang mensyaratkan pemakainya untuk terlebih dulu mempelajari pengetahuan dan ketrampilan baru.

4. Ketercobaan(trialability)adalah sejauh mana suatu inovasi dapat dicoba dalam skala ke ­cil. Gagasan baru yang dapat dicoba pada tempat percobaan (misalnya demplot pertanian) umumnya lebih cepat diadopsi daripada inovasi yang tidak dapat di ­coba. Ryan dan Gross (1943) menemukan bahwa setiap orang yang menjadi res ­pondennya di Iowa mengadopsi jagung hibrida dengan terlebih dulu mencobanya kecil-kecilan. Jika jagung baru itu tidak dapat dicoba sebagai percontohan, kecepat ­an adopsinya mungkin lambat. Suatu inovasi yang dapat dicoba, mengurangi ke ­tidakpastian orang yang mempertimbangkan untuk mengadopsinya.

5. Keteramatan(observability) adalah sejauh mana hasil suatu inovasi dapat dilihat orang lain. Semakin mudah hasil suatu inovasi dapat diamati oleh seseorang semakin besar kemungkinannya untuk diadopsi. Teramatinya hasil suatu inovsi merangsang te ­man?teman dan para tetangga pemakai untuk mendiskusikan dan bertanya ke ­padanya untuk memperoleh informasi?penilaian mengenai inovasi itu. Pemanas air tenaga matahari yang diletakkan di atap (genting) perumahan akan tampak dengan jelas, dan suatu sigi di California menunjukkan bahwa para pemakai alat pemanas air itu memperlihatkan kepada rata?rata 6 orang temannya (Rogers dkk, 1979). Sekitar seperempat penghuni perumahan di California mengetahui orang?orang yang telah mengadopsi alat pemanas air tenaga matahari (walaupun hanya 2,5% penghuni yang telah mengadopsi pada tahun 1979), dan sekitar dua pertiga dari mereka telah melibat?libat peralatan temannya. Para pemakai alat ini banyak di ­jumpai di beberapa rumpun perumahan di California, di mana tiga atau empat pemakai tinggal di lokasi/blok yang sama. Beberapa inovasi lain seperti komputer keluarga (Personal Computer atau video yang relatif kurang tampak, tersebar lebih lambat.

Umumnya inovasi yang oleh para calon pemakainya dipandang punya ke ­untungan relatif lebih tinggi, lebih sesuai, dapat dicoba dan bisa diamati hasilnya, serta tidak terIalu rumit akan lebih cepat diadopsi dari pada inovasi lain yang ku ­rang. Sebetulnya bukan hanya kualitas inovasi saja yang mempengaruhi kece ­patan adopsi, tetapi penelitian?penelitian yang Ialu menunjukkan bahwa kelima si ­fat itulah yang paIing penting sebagai penjelas kecepatan adopsi.

REINVENSI

Sampai kira?kira pertengahan tahun 1970an, diduga kualitas inovasi itu per ­manen, tidak berubah selama proses penyebarannya.Saya ingat ketika mewa ­wancarai seorang petani Iowa mengenai pemakaian obat semprot pembasmi rum ­put 2,4 D pada tahun 1954. Dalam menjawab pertanyaan saya “apakah Anda meng ­gunakan inovasi 2,4 D”, petani itu menjelaskan agak rinci cara?cara tertentu yang tidak lazim dalam menggunakan obat itu di ladangnya. Pada akhir wawancara, saya begitu saja mencatat responden ini sebagai “pengguna” pada kuesener saya. Konsep reinvensi belum ada dalam konsep teoritik saya, maka saya memasukkan penga ­laman orang itu ke dalam salah satu pengkategorian pengguna yang saya miliki pa ­da waktu itu.

Kemudian, pada tahun 1970an, para pakar difusi mulai menaruh perhatian lebih besar terhadap konsep reinvensi, yang didefinisikein sejauh mana suatu ino ­vasi diubah oleh seorang pemakai dalam proses pengadopsian dan petaksanaan ­nya. Beberapa peneliti mengukur reinvensi sebagai sejauh mana penggunaan ide baru oleh seseorang menyimpang dari versi asli pada saat dipromosikan lem ­baga, pembaharuan (Eveland et al 1971). Begitu para pakar mengenal konsep ini dan mengadakan pengukuran terhadapnya, mereka menjumpai bahwa terjadi invensi dan reinvensi pada beberapa inovasi. Ada beberapa inovasi yang agaknya sulit atau ti ­dak mungkin direinvensi oleh petani, misalnya jagung hibrida tidak mungkin de ­ngan mudah direinvensi oleh petani, karena penyilangan bibit itu dilakukan secara genetik yang terlalu canggih untuk mengubahnya. Tetapi ada inovasi?inovasi yang sifatnya lebih lentur, dan bisa direinvensi oleh kebanyakan pemakai dengan jalan menggunakan inovasi itu dalam berbagai cara, yang berbeda dari petunjuk aslinya.

Karena itu kita harus ingat bahwa suatu inovasi belum tentu statis, tidak be ­rubah selama proses penyebarannya. Dan, mengadopsi inovasi bukanlah tindakan yang pasif dengan menerapkan ide?ide baru itu persis apa adanya (standar) tanpa perubahan. Jika suatu inovasi telah tercipta, kita harus mengkomunikasikannya bila ber ­harap inovasi itu tersebar.

Sekarang beralih kita pada unsur kedua difusi

SALURAN KOMUNIKASI

Di muka, kami mendefinisikan komunikasi sebagai suatu proses di mana para pelakunya menciptakan dan bertukar informasi satu sama lain untuk mencapai ke ­samaan paham. Difusi adalah tipe khusus komunikasi, yakni informasi yang diper ­tukarkan adalah ide?ide baru. Inti proses difusi adalah pertukaran informasi, yakni seseorang mengkomunikasikan suatu ide baru kepada orang lain. Pada dasarnya bentuk proses itu meliputi unsur?unsur (1) suatu inovasi, (2) seseorang atau unit adopsi yang punya pengetahuan atau pengalaman dalam penggunaan informasi-inovasi itu, (3) orang lain yang belum mengetahui/menggunakan inovasi itu, dan (4) saluran komunikasi yang menghubungkan kedua unit (orang) itu. Saluran komunikasi adalah jalur le ­wat suatu pesan sehingga bisa tersampaikan dari seseorang kepada orang lain. Sifat hubungan pertukaran informasi antara dua pasangan individu menentukan jalan mana seorang yang dipakai sumber untuk menyalurkan inovasi itu kepada penerima, dan bagaimana efek penyaluran itu.

Misalnya, saluran media massa biasanya merupakan cara/alat penyalur pesan yang menggunakan media seperti radio, televisi, koran dsb yang memungkinkan seorang sumber dapat menjangkau khalayak dalam jumlah besar. Sebaliknya, saluran antar pribadi lebih efektif dalam mempengaruhi seseorang mengadopsi ide baru, terutama dalam mempengaruhi seseorang untuk mengadopsi ide baru, ter ­utama bila saluran antar pribadi itu menghubungkan dua atau lebih yang meru ­pakan teman karib. Saluran antar pribadi adalah pertukaran informasi antara dua orang atau lebih secara tatap muka.

Hasil berbagai penelitian difusi menunjukkan bahwa kebanyakan orang tidak mengevaluasi suatu inovasi berdasarkan kajian ilmiah mengenai konsekuensi?konsekuensinya, walaupun evaluasi obyektif seperti itu ”terutama bagi orang yang pa ­ling awal mengadopsi ”bukannya tidak penting. Kebanyakan orang berpegang ter ­utama pada penilaian subyektif yang disampaikan kepada mereka oleh orang-orang yang sepadan dengan dirinya yang telah lebih dulu mengadopsi inovasi. Ketergantungan kepada pengalaman yang dikomunikasikan para teman dekat ini menunjukkan bahwa inti proses difusi adalah percontohan dan imitasi oleh para calon pemakai kepada teman?temannya yang berada dalam jaringan komunikasi ­nya yang telah memakai inovasi itu lebih awal.

HETEROFILI DAN DIFUSI

Prinsip pokok komunikasi antar manusia adalah bahwa pengalihan (transfer) ide?ide umumnya terjadi antara dua orang yang sepadan atau homofilus. Homofili ada ­lah sejauh mana orang yang berinteraksi itu ada kemiripan dalam ciri?ciri tertentu, seperti kepercayaannya, pendidikannya, status sosialnya, dsb. Dalam suatu situasi yang bisa memilih, bila seseorang dapat berinteraksi dengan siapa saja yang ia kehen ­daki, ada kecenderungan kuat orang akan memilih berkomunikasi dengan orang yang paling sepadan dengan dirinya.

Banyak alasan berkait dengan prinsip homofili. Orang?orang yang punya ke ­miripan satu sama lain biasanya menjadi anggota kelompok yang sama, tinggal dan bekerja di tempat yang berdekatan, dan memiliki minat yang sama. Kedekatan fisik dan sosial seperti itu memungkinkan terjadinya komunikasi yang homofilus. Komunikasi semacam itu mungkin lebih efektif, karena mengasyikkan. Kemung ­kinan lebih efektif terjadi bila dua orang yang berkomunikasi itu homofilus (se ­padan). Karena mereka bertukar istilah yang saling mereka mengerti, mengguna ­kan bahasa daerah, dan memiliki sifat?sifat pribadi dan sosial yang mirip, pengko ­munikasian ide?ide mungkin mempunyai efek yang lebih besar dalam arti perole ­han pengetahuan, pembentukan dan perubahan sikap, dan perubahan perilaku nyata. Bila ada kesepadanan, komunikasi antara dua orang mungkin akan lebih mengasyikkan (gayeng. jw).

Salah satu masalah penting dalam pengkomunikasian inovasi adalah biasanya partisipannya sangat heterofilius. Agen pembaru umumnya secara teknis lebih kompeten daripada kliennya. Perbedaan ini seringkali membawa pada komunikasi yang tidak efektif. Mereka tidak berbicara dengan “bahasa” yang sama. Memang, bila dua orang identik pemahaman dan pengalamannya tentang inovasi, akan ti ­dak terjadi difusi dalam interaksi mereka sebab tidak ada informasi baru yang dipertukarkan. Sifat difusi menuntut setidak?tidaknya ada beberapa tingkat hetero ­fili antara dua orang yang berkomunikasi. Idealnya, agen pembaru dan kliennya sepadan (homofili) dalam variabel?variabel lain (misalnya pendidikan, status sosial, dsb) tetapi hetero ­fili dalam hal inovasi. Biasanya heterofili yang terjadi pada dua orang yang terlibat dalam komunikasi inovasi menyangkut semua aspek, karena pengetahuan dan pengalaman tentang inovasi tersebut berkaitan erat dengan status sosial, pendidikan dan sebagainya.

JANGKA WAKTU

Waktu merupakan unsur penting dalam proses difusi. Kebanyakan penelitian ilmu?ilmu tingkah laku mengabaikan dimensi waktu. Waktu, merupakan aspek pen ­ting dalam, proses komunikasi, tetapi kebanyakan penelitian komunikasi (yang bu ­kan difusi) tidak memasukkannya secara eksplisit. Barangkali ini merupakan suatu konsep dasar yang tidak dapat dijelaskan dalam arti sesuatu yang lebih funda ­mental (Withrow 1980: 372). Waktu tidak terpisah dari peristiwa, bahkan ia meru ­pakan aspek setiap kegiatan.

Pemasukan waktu sebagai suatu variabel dalam penelitian difusi merupakan salah satu kekuatannya, tetapi pengukuran dimensi waktu (seringkali dengan mengandalkan ingatan responden) dapat dicela. Dimensi waktu masuk ke dalam bahasan difusi berkenaan dengan (1) proses keputusan inovasi di mana seseorang menjalani pro ­ses mulai dari kenal inovasi sampai dengan pengadopsian atau penolakannya, (2) keinovatifan seseorang atau unit adopsi ”yakni relatif lebih awal/akhir suatu ino ­vasi diadopsi ”dibanding dengan anggota sistem sosial atau unit adopsi lain ­nya, dan (3) kecepatan adopsi suatu inovasi dalam suatu sistem sosial yang biasanya diukur dengan jumlah anggota sistem yang mengadopsi inovasi dalam jangka waktu tertentu.

PROSES KEPUTUSAN INOVASI

Proses keputusan inovasi adalah suatu proses yang dijalani seseorang (atau unit adopsi lain) mulai dari pertama kali tahu inovasi kemudian menyikapi, meng ­ambil keputusan untuk memakai (mengadopsi) atau menolaknya, dan melaksana ­kan penggunaan ide baru itu. Kami merumuskan 5 tahap pokok da ­lam proses itu: (1) tahap pengenalan, (2) tahap persuasi, (3) tahap keputusan, (4) tahap pelaksanaan, dan (5) tahap konfirmasi.

Tahap Pengenalan terjadi ketika seseorang dihadapkan pada adanya ino ­vasi dan memahami bagaimana inovasi itu berfungsi. Tahap Persuasi terjadi ketika se ­seorang menyikapi inovasi, berkenan atau tidak berkenan. Tahap Keputusan terjadi ketika sese ­orang terlibat dalam kegiatan yang mengarah pada pemilihan untuk menerima atau menolak inovasi. Tahap Pelaksanaan (implementasi) berlangsung ketika seseorang menerapkan penggunaan inovasi dalam kehidupannya sehari?hari. Biasanya pada tahap implementasi ini terjadi reinvensi. Tahap Konfirmasi terjadi ketika seseorang mencari penguatan (reinforcement)terhadap keputusan inovasi yang telah ia buat, tetapi mungkin saja ia mengubah keputusan bila ia berhadapan dengan pesan?pesan yang negatif tentang inovasi.

Telah kami kemukakan bahwa proses keputusan inovasi adalah usaha penca ­rian dan pemrosesan informasi dalam rangka memperkecil ketakpastian mengenai inovasi. Pada tahap pengenalan, seseorang terutama mencari informasi perangkat lunak yang terkandung dalam dalam inovasi teknologis, yang mengurangi ketak ­pastian mengenai hubungan sebab?akibat antara kemampuan inovasi itu dengan pemecahan masalah. Pada tahap ini seseorang ingin tahu inovasi apa (yang me ­reka hadapi) itu, dan bagaimana inovasi bekerja (dapat memecahkan masalah). Saluran media massa dapat secara efektif menyalurkan informasi?infomasi ini.

Tetapi meningkat pada tahap persuasi, dan terutama pada tahap keputusan, seseorang mencari informasi penilaian?inovasi dalam rangka mengurangi ketak ­pastian akibat?akibat yang diharapkan dari inovasi. Di sini seseorang ingin menge ­tahui keuntungan dan kerugian penggunaan inovasi itu bagi dirinya. Jaringan ko ­munikasi antar pribadi dengan teman?teman dekatiah terutama yang membawa informasi evaluatif mengenai suatu inovasi. Evaluasi subyektif mengenai gagasan baru itu mungkin berpengaruh besar pada seseorang pada tahap keputusan, dan mungkin pula pada tahap pengukuhan.

Proses keputusan inovasi dapat mengarah pada penerimaan (adopsi), yakni suatu keputusan untuk sepenuhnya menggunakan inovasi sebagai cara terbaik, atau mengarah pada penolakan yaitu keputusan untuk tidak menggunakan ino ­vasi. Keputusan itu nantinya dapat berubah: misalnya, terjadi penghentian (dis ­continuation)yaitu suatu keputusan untuk menolak inovasi setelah tadinya menga ­dopsi. Penghentian terjadi karena seseorang tidak puas dengan suatu inovasi, atau karena inovasi itu digeser oleh ide baru yang lebih baik. Mungkin pula seseorang mengadopsi inovasi telah tadinya memutuskan untuk menolaknya. Adopsi terlam ­bat dan penghentian terjadi dalam tahap pengukuhan dari proses keputusan ino ­vasi.

Proses keputusan inovasi berdimensi waktu dalam arti bahwa kelima tahap itu biasanya berlangsung dalam suatu urutan waktu mulai dari pengenalan, persuasi, keputusan, pelaksanaan dan konfirmasi. Periode keputusan inovasi adalah lama waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan seluruh proses keputusan inovasi. Perkecualian pada urutan kelima tahap itu tentu saja ada, misalnya tahap ke ­putusan mendahului tahap persuasi.

Demi ringkasnya, kami membatasi pembahasan mengenai proses keputusan inovasi kali hanya pada keputusan perseorangan, jadi keputusan inovasi optional ­-individual. Namun banyak keputusan inovasi yang dibuat oleh organisasi atau unit pengadopsi yang bukan perseorangan. Misalnya, suatu perusahaan memutuskan untuk membeli program pengolah kata (word processor) berdasarkan keputusan staf atau keputusan pimpinan; pekerja pada perusahaan itu secara pribadi tidak punya suara dalam pengambilan keputusan inovasi, atau hanya kecil. Bila suatu keputus ­an inovasi dibuat oleh suatu sistem, bukan oleh perseorangan, proses keputusan itu biasanya lebih rumit. Itulah, waktu merupakan dimensi penting dalam proses keputusan inovasi.

KEINOVATIFAN DAN KATEGORI PENGGUNA

Keinovatifan adalahsejauh mana seseorang atau unit adopsi relatif lebih awal/akhir mengadopsi ide?ide baru dibanding anggota sistem sosial lainnya. Dari ­pada menyebut seseorang “kurang inovatif daripada rata?rata anggota sistem sosial lainnya” akan lebih berguna dan lebih efisien menyebutnya “mayoritas akhir” atau kategori pengguna lainnya. Sebutan pendek seperti itu menghemat kata, dan mem ­perjelas pemahaman, karena penelitian difusi menunjukkan bahwa setiap anggota kategori pengguna memiliki banyak kesamaan. Bila seseorang termasuk kategori mayoritas akhir, maka seperti kebanyakan orang yang berada dalam kategori ini, dia rendah status sosialnya, tidak banyak menerpa media massa, memperoleh ide- ­ide baru dari teman?temannya melalui saluran antar pribadi. Dengan cara yang sama kami akan memberi uraian singkat keempat kategori pengguna lainnya. Ka ­tegori pengguna adalah pengkategorian anggota suatu sistem sosial berdasar ke ­inovatifannya, menjadi: (1) inovator, (2) pemuka, (3) mayoritas awal, (4) mayoritas akhir, dan (5) kolot.

Inovator adalah pencari informasi ide?ide baru yang aktif. Mereka sangat se ­ring bertatap media massa dan jaringan komunikasi antar pribadinya sangat luas, biasanya menjangkau keluar wilayah (sistem sosial)nya sendiri. Para inovator dapat mengatasi ketakpastian mengenai inovasi jauh lebih baik daripada kelompok peng ­guna lainnya. Sebagai orang yang pertama kali mengadopsi ide baru di lingkungan sistem sosialnya, mereka tidak bergantung pada penilaian subyektif anggota sistem sosial lainnya tentang inovasi.
Pengukuran keinovatifan dan pengklasifikasian anggota sistem sosial ke dalam kategori pengguna itu, tentu saja, didasarkan pada waktu relatif pengadopsian suatu inovasi.

KECEPATAN ADOPSI

Inilah dimensi ketiga keterkaitan waktu dalam difusi inovasi. Kecepatan adopsi adalah kecepatan relatif pengadopsian suatu inovasi oleh suatu sistem sosial. Bila jumlah orang yang mengadopsi inovasi digrafikkan secara kumulatif berdasar waktu pengadopsiannya, hasilnya adalah suatu kurva bentuk?S. Pada awaInya (pada bulan atau tahun?tahun pertama), hanya sedikit orang yang mengadopsi inovasi. Mereka inilah para inovator. Tetapi, sebentar kemudian kurva difusi mulai menan ­jak, begitu bertambah banyak orang mengadopsi inovasi. Kemudian lintasan ke ­cepatan adopsi mulai mendatar, karena semakin sedikit orang yang belum meng ­adopsi. Akhimya kurva bentuk?S mencapai asimtotnya (garis lurus mendekati kur ­va, tetapi tidak memotongnya pada jarak yang tipis sekali), berakhirlah proses di ­fusi.

Kebanyakan inovasi punya kurva kecepatan adopsi berbentuk?S. Tetapi ada variasi kelandaian “S”nya antara inovasi satu dengan lainnya; beberapa ide baru menyebar relatif cepat dan kurva S?nya sangat curam, inovasi yang lain mungkin lebih lambat menyebarnya dan kurva?S nya lebih landai. Salah satu isu yang di ­lemparkan oleh peneliti difusi adalah mengapa beberapa inovasi punya kecepatan adopsi tinggi sedangkan yang lain rendah (misalnya lihat Gambar 1?1)

4.SISTEM SOSIAL

Sistem sosial didefinisikan sebagai satu kesatuan unit?unit yang bersitaut dan terikat dalam kerjasama pemecahan masalah untuk mencapai tujuan bersama. Anggota atau unit anggota sistem sosial bisa perseorangan, kelompok informal, or ­ganisasi, atau subsistem. Sistem sosial yang dianalisis dalam kajian difusi bisa petani di pedesaan Asia Tenggara, perguruan tinggi di Wisconsin, para dokter di rumah sakit umum, atau semua konsumen di Amerika Serikat. Setiap unit dalam suatu sistem sosial dapat dibedakan dari unit?unit lainnya. Semua anggota/unit bekerjasama paling tidak dalam mencari pemecahan masalah umum dalam rang ­ka mencapai tujuan masing?masing secara timbal bahk. Pertukaran tujuan umum inilah yang mengikat sistem itu.
Perlu diingat bahwa difusi itu terjadi dalam suatu sistem sosial, karena itu struktur sosial suatu sistem mempengaruhi penyebaran inovasi. Sistem sosial mem ­punyai batas?batas di mana suaiu inovasi menyebar. Berkenaan dengan sistem sosial ini kita membahas beberapa topik pengaruh struktur sosial terhadap difusi, peranan pemuka pendapat dan agen pembaru, tipe?tipe keputusan inovasi, dan konsekuensi inovasi. Semua ini mencakup hubungan antara sistem sosial dengan proses difusi yang terjadi di dalamnya.

STRUTUR SOSIAL DAN DIFUSI

Selama unit?unit dalam suatu sistem sosial tidak identik perilakunya, maka di dalamnya terdapat struktur sosial. Strukturadalah susunan yang terpola dari unit?unit sistem sosial. Struktur ini menyebabkan keteraturan dan kestabilan perilaku orang ­-orang dalam sistem sosial, dan ini memungkinkan dibuatnya perkiraan perilaku se ­cara lebih akurat. Jadi struktur memberi sejumlah informasi yang dapat mengu ­rangi ketakpastian. Struktur dalam organisasi birokrasi seperti instansi pemerintah barangkali merupakan contoh yang baik; di situ ada struktur sosial yang sudah mapan dalam bentuk posisi?posisi hirarkhis, di mana pegawai yang berada pada posisi atasan punya hak untuk memerintah pegawai yang berada pada posisi ba ­wahan, dan perintah itu harus dikerjakan. Hubungan sosial yang terpola di an ­tara anggota sistem sosial seperti itu membentuk suatu struktur sosial formal.

Di samping struktur formal ini, di antara unit?unit suatu sistem sosial ada struk ­tur sosial informal dalam bentuk jaringan antar pribadi yang menghubungkan para anggota suatu sistem sosial, yang menentukan siapa yang berinteraksi dengan sia ­pa dalam kesempatan tertentu. Kami mendefinisikan struktur komunikasi macam ini sebagai unsur?unsur pembeda yang dapat dikenali dalam arus komunikasi yang terpola dalam suatu sistem sosial. Di muka telah kami jelaskan prinsip homofili, di mana kebanyakan orang dalam suatu sistem sosial berbincang dengan orang yang mirip dengannya; suatu struktur komunikasi sering terbentuk dalam suatu sistem sosial di mana sejumlah orang yang homofili mengelompok dalam suatu klik. Ketia ­daan struktur komunikasi dalam suatu sistem sosial akan terjadi dalam suatu situasi di mana seseorang berbicara satu sama lain secara merata. Situasi macam itu bisa terjadi ketika sekelompok orang yang betul?betul belum saling kenal perta?ma kaii berkelompok. Tetapi pola yang teratur segera terbentuk dalam jaringan komunikasi di antara mereka. Dan aspek?aspek struktur komunikasi itu sebagian dapat dipakai untuk memperkirakan perilaku anggota sistem sosial itu.

Struktur suatu sistem sosial dapat memudahkan atau menghalangi difusi inovasi ke dalamnya. Dampak struktur sosial dalam difusi inovasi merupakan minat khusus para ahli sosiologi dan psikologi sosial, dan bagaimana struktur komunikasi dalam suatu sistem mempengaruhi difusi merupakan topik yang menarik bagi pakar komunikasi. Katz (1961) menyatakan “Tidaklah mungkin mengkaji difusi tanpa pengetahuan tentang struktur sosial di mana para calon pemakai berada, sebagai ­mana halnya tidaklah mungkin mengkaji sirkulasi darah tanpa pengetahuan yang tepat tentang struktur pembuluh darah dan urat nadi .

Dibanding dengan aspek?aspek penelitian difusi lainnya, relatif hanya sedikit, kajian tentang bagaimana struktur komunikasi suatu sistem mempengaruhi penye ­baran dan pengadopsian inovasi di dalam suatu sistem itu. Salah satu penjelasannya barangkali, secara metodologis ini memang agak rumit menguraikan pengaruh struktur sistem terhadap difusi, terlepas dari efek?efek sifat pribadi yang membentuk sistem itu. Tetapi marilah kita melihat suatu ilustrasi efek sistem, pengaruh struktur dan komposisi suatu sistem terhadap perilaku anggota sistem. Contoh kami ambil dari kajian Rogers dan Kincaid (198l): dua wanita Korea, keduanya butahuruf, te ­lah kawin, punya anak dan berusia 28 tahun. Suami kedua wanita itu lulusan SMA, punya ladang seluar 5 acre. Orang mungkin menduga kedua wanita itu bersikap sama (suka atau tidak suka) terhadap alat kontrasepsi.

Tetapi kedua wanita itu berbeda dalam satu hal yang penting: mereka tinggal di desa yang berbeda, satu di desa A dan satunya di desa B. Tingkat adopsi KB di desa A mencapai 57% sedangkan di B 26%. Jelas struktur sosial dan komunikasi sosial kedua desa itu sangat berbeda berkenaan dengan difusi alat kontrasepsi, walaupun inovasi?inovasi ini telah sama?sama dipromosikan di kedua desa itu oleh BKKBN Korea. Tentu kita menduga bahwa wanita di desa A lebih berkenan mengadopsi alat kontrasepsi daripada para wanita di desa B karena efek sistem: teman?teman dan tetangga nyonya A banyak kemiripan, dan karena mereka telah menga?dopsi maka hal ini mendorong nyonya A untuk juga mengadopsi, di samping pemuka masyarakat di desa A menganjurkan keluarga berencana, semen ­tara di desa B tidak.

Dari contoh ini kita dapat melihat bahwa suatu sistem sosial punya pengaruh terhadap difusi dan pengadopsian inovasi, mcialui efek variabel?variabel seperti ciri?ciri individual anggota sistem. Keinovatifan seseorang dipengaruhi baik oleh ciri?ciri orang itu sendiri maupun oleh sifat?sifat sistem sosial di mana orang itu menjadi anggotanya.

NORMA SISTEM DAN DIFUSI

Penefitian di Korea oleh Rogers dan Kincaid (1981) juga menguraikan pen ­tingnya norma?norma desa dalam mempengaruhi kecepatan difusi cara?cara KB. Dari kajian terhadap 24 desa ditemukan perbedaan besar antara suatu desa de ­ngan lainnya, baik pada tingkat adopsi KB maupun dalam adopsi jenis?jenis alat kontrasepsi tertentu. Salah satu desa telah mencapai 51% adopsi IUD dan hanya satu yang menjadi pengguna vasektomi. Ada desa yang semua penggunanya memilih pil sebagai alat kontrasepsi. Jelas bahwa perbedaan?perbedaan ini bukan disengaja oleh program KB di Korea, yang telah mempromosikan semua jenis alat kontrasepsi ke semua desa selama 10 tahun sebelum penelitian ini dilakukan. Penjelas perbedaan perilaku kontraseptif dari satu desa dengan desa lain itu ber ­sumber dari norma?norma yang ada pada masing?masing desa.

Norma adalah pola perilaku yang sudah tetap bagi para anggota suatu sistem sosial. Norma itu menentukan suatu rentangan perilaku yang dapat ditoleransi dan yang tidak, serta bertindak sebagai pedoman atau ukuran bagi anggota suatu sistem sosiall.

Norma sistem dapat menjadi rintangan perubahan, seperti contoh dalam kam ­panye masak air minum di masyarakat Los Molinos Peru. Rintangan terhadap masuknya ide?ide baru seperti itu. Sering dijumpai pada norma?norma yang berke ­naan dengan kebiasaan makan minum. Di India misalnya, pensucian sapi yang merata di pedesaan telah menghalangi usaha untuk meningkatkan gizi dengan daging sapi walaupun ribuan penduduk desa dalam keadaan kurang gizi. Daging babi juga tidak dimakan oleh orang Muslim dan Yahudi. Kebanyakan orang Asia dan Amerika Latin makan nasi poles, walaupun sebetuInya nasi yang tidak di ­poles kadar gizinya lebih tinggi. Itu adalah contoh?contoh norma budaya dan kea ­gamaan. Norma?norma dapat berlaku pada suatu bangsa, suatu masyarakat, suatu organisasi atau suatu sistem lokal misalnya satu desa.

Daftar Pustaka

WHO Regional Office For South-East ASIA( 2002): Regional Conference of Parliamentarians on the Report of the Commission on Macroeconomics and Health :Health and Development Regional Initiatives, Bangkok, Thailand 15 – 17 December 2002.

WHO Regional Office For South-East ASIA( 2002): Regional Conference of Parliamentarians on the Report of the Commission on Macroeconomics and Health: Selecting Interventions For Better Health Outcomes, Bangkok, Thailand 15 – 17 December 2002.

WHO Regional Office For South-East ASIA( 2002): Regional Conference of Parliamentarians on the Report of the Commission on Macroeconomics and Health: What needs to be done: Resources to do the needful Bangkok, Thailand 15 – 17 December 2002.
http://www.bappenas.go.id/get-file-server/node/8547/
http://www.imadiklus.com/…/materi-perkuliahan-difusi-inovasi-unsur-unsur-difusi. Html
repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/20857/4/Chapter%20II.pdf

keindahan alam bawah laut

This slideshow requires JavaScript.

LAUT JAWA

Laut Jawa adalah perairan dangkal dengan luas kira-kira 310.000 km2 di antara Pulau Kalimantan, Jawa, Sumatera, dan Sulawesi di gugusan kepulauan Indonesia. Laut ini relatif muda, terbentuk pada Zaman Es terakhir (sekitar 12.000 tahun Sebelum Masehi) ketika dua sistem sungai bersatu. Di barat lautnya, Selat Karimata yang menghubungkannya dengan Laut China Selatan. Di bagian barat daya, laut ini terhubung ke samudra Indonesia melalui selat Sunda. Pada masa lalu, Selat Karimata dan Laut Jawa ini dikenal pula sebagai Laut Sunda[rujukan?].
Di Laut Jawa terdapat beberapa gugusan pulau dan kepulauan: Kepulauan Seribu di utara Kabupaten Tangerang dan secara administratif masuk dalam wilayah DKI Jakarta, Kepulauan Karimun Jawa yang masuk administrasi Jawa Tengah, Pulau Bawean dan pulau-pulau kecil di sekitarnya, Kepulauan Masalembo, dan Pulau Kangean beserta pulau-pulau kecil di sekitarnya yang berada di bawah administrasi Provinsi Jawa Timur.
Perikanan adalah kegiatan ekonomi penting di Laut Jawa. Ada 3000 lebih spesies kehidupan laut di daerah ini. Laut Jawa, khususnya di bagian barat memiliki cadangan minyak bumi dan gas alam yang dapat dieksploitasi.
Daerah sekitar Laut Jawa merupakan daerah tujuan pariwisata populer. Selam scuba menawarkan kesempatan untuk menjelajahi dan memfoto gua bawah laut, kapal tenggelam, terumbu karang, dan kehidupan bawah air. Beberapa taman nasional berada di daerah ini. Dekat Jakarta, di Kepulauan Seribu adalah Taman Nasional Ujung Kulon. Karimun Jawa adalah taman nasional yang terdiri dari dua puluh tujuh pulau. Pulau Menjagan, dekat Bali, adalah taman nasional “secluded”.
Dalam sejarah Perang Dunia II, Laut Jawa merupakan lokasi naas bagi pasukan Sekutu. Pada bulan Februari dan Maret 1942, angkatan Laut Belanda, Britania, Australia, dan Amerika Serikat nyaris dihancurkan serangan Jepang.
Sumber:http://id.wikipedia.org/wiki/Laut_Jawa

This slideshow requires JavaScript.

Usaha Nasi Kotak

PROPOSAL
“Mendirikan usaha “Nasi kotak”
Tugas kewirausahaan akhir
Sekolah

Penyusun :
Jeny Supriatin
3 TKJ 7
SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN
NEGERI UDANAWU
TAHUN 2010 / 2011
Jln.Raya Slemanan Telp (0355) 7709422
UDANAWU BLITAR
DAFTAR ISI

Halaman Judul i
Kata Pengantar ii
Daftar Isi iii
BAB I Pendahuluan
1.1 Latar Belakang 1
1.2 Tujuan 1
1.3 Sasaran 2
1.4 Nama Usaha 2
1.5 Tempat Usaha 2
1.6 Waktu Operasional 2
BAB II Analisa Situasi
2.1 Resiko dan Hambatan 3
2.2 Situasi Persaingan 3
2.3 Sasaran 3
2.4 Promosi Penjualan 3
2.5 Keuangan 4
2.5.1 Rencana Modal 4
2.5.2 Perekrutan Biaya Operasional 4
2.5.3 Rencana Penghasilan/Laba/Rugi 7
BAB III Penutup
3.1 Saran 8
3.2 Kesimpulan 8

KATA PENGANTAR

Puji syukur atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan rahmat serta hidayahnya sehingga saya dapat menyelesaikan proposal rencana pendirian usaha ini sebagai salah satu syarat kelulusan tahun ajaran 2010-2011 dengan tepat waktu tanpa halangan suatu apapun.
Dalam proposal ini membahas tentang “ Mendirikan Usaha Ketring “ kecil-kecilan,dengan adanya makalah ini diharapkan para pembaca mampu membuat rancangan rencana kegiatan usaha dengan baik.Tanpa adanya perencanaan pasti usaha tersebut tidak dapat berjalan dengan lancar.
Makalah ini membahas tentang latar belakang pendirian usaha,tujuan.sasaran,tempat usaha,analisa situasi,resiko dan hambatan usaha,sasaran,cara mendapatkan modal yang dilengkapi dengan rincian keuangan dalam membuka usaha ketring.
Saya ucapkan terima kasih kepada :
1. Drs.Hartoyo, MM sebagai Kepala Sekolah SMKN I UDANAWU
2. Bpk Slamet Sutresno, S.Pd selaku Wali Kelas 3 Tkj 7
3. Ibu Ika Rahmawati, SPd selaku guru pembimbing mata diklat kewirausahaan
4. Serta temen-temen yang telah membantu menyelesaikan proposal ini.
Tak ada gading yang tak retak.Demikian juga dengan proposal ini,untuk itu kritik dan saran senantiasa akan diterima dengan tangan terbuka.Sebagai bahan penyempurnaan proposal berikutnya.
Harapan kami,semoga proposal ini dapat membantu para pembaca untuk membuat usaha baru.

Penyusun
BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Saat ini marak masalah tentang anak keracunan makaman,makanan yang di konsunsinya mengandung bahan berbahaya diantaranya : pemanis buatan,pewarna buatan , bahkan pengawet yang tidak seharusnya di masukkan ke makanan,hal tersebut mengakibatkan hal yang fatal bagi kesehatan.
Dalam pembuatan proposal ini saya bertujuan agar anak-anak sekolah tidak jajan jajanan sembarangan,mareka bias meng konsumsi makanan yang sehat, yang memenuhi cakupan gizi yang di perlukan oleh tubuh oleh karena itu saya akan menbantu mereka agar makanan yang dimakannya bias terjamin mutunya, kebersihan & menghemat uangsaku,agar tidak jajan sembarangan.karena snekyang beredar dipasaran sangat berbahaya bagi kesehatannya.maka dari itu kita harus mengaturnya sejak dini.
1.2 Tujuan
A. Tujuan Pendirian usaha
Usaha ini saya dirikan agar para siswa siswi sakolah agar dapat makan,makanan yang bergizi hemat uang saku & praktis. Dan juga para ibu tidak kwatir terhadap makanan yang dikonsumsi oleh anaknya.
B. Tujuan Pembuatan proposal
Proposal yang saya buat ini bertujuan untuk :
1. Sebagai tugas akhir mata diklat Kewirausahaan
2. Sebagai persaratan ujikompetensi mata diklat Kewirausahaan
3. Untuk menambah pengetahuan dalam merencanakan pendirian suatu usaha.

1.3 Sasaran
Dalam usaha ini sasaran yang saya tuju adalah para siswa TK,SD, SMP&SMA sederajat dan semua orang yang ingian memesan ketring jika ada hajatan.
1.4 Nama Usaha
Saya mendirikan usaha ini dengan nama “KETRING RESTU IBU” agar para pelanggan tertarik dengan usaha saya .
1.5 Tempat Usaha
Usaha ini saya dirikan di rumah saya dengan alamat”desa Bacen rt:1 rw: 3 kecamatan Ponggok kabupaten Blitar”.
1.6 Waktu Operasional
Usaha ketring ini buka dari jam 06:00 sampai jam 21:00 buka setiap hari. Untuk mengantar kesekolah hanya hari senin sanpai sabtu saja

BAB II ANALISA SITUASI

2.1 Resiko & hambatan
Dalam pendirian usaha ini resiko yang mungkin saya temui adalah :
1. Modal yang dikeluarkan tidak kembai
2. Konsumen tidak berniat pada produk yang dijual
3. Produk yang dijual tidak habis
4. Konsumen komplen
5. tempat penitipan makanan tidak menarima.

Hambatan hambatan yang mungkin saya terima:
1. Harga bahan baku meningkat
2. Biaya oprasional meningkat
3. Biaya karyawan mahal
4. Karyawan mogok karja

2.2 Situasi persaingan
Banyak usaha yang sejenis dengan usaha yang saya dirikan.mungkin itu dapat saya jadikan penyemangat untuk kemajuan usaha saya . pesaing bukan berarti musuhmungkin bahkan dapat menjadi kawan dalam bisnis kita.
Maka dari itu saya harus pandai-pandai memanfaatkan keadan, kunci dari keberhasilan kejujuran& kedisiplinan.
2.3 Sasaran
Dalam usaha ini sasaran yang saya tuju adalah para siswa TK,SD, SMP&SMA sederajat yang berminat pada produk yang saya jual.
2.4 Promosi Penjualan
Agar usaha ketring saya dapat berjalan lancar saya melakukan promosi dengan cara
1. Mendatangi kantin-kantin sekolahan & berkerjasama dengannya. Laba yang diperoleh akan dibagi.
2. Membuat sepanduk di depan rumah.
2.5 Keuangan
2.5.1 Rencana Modal
Modal dalam usaha saya ini adalah uang dari orang tua saya
Sebesar Rp 700.000,00
2.5.2 Perkiraan Biaya Oprasional
Produk yang dijual
A. Nasi Campur (Paket 1)
No Nama Bahan Satuan Harga satuan Harga
1 Beras 3 kg Rp 6.000 Rp 18.000
2 Telur 1 kg Rp 11.000 Rp 11.000
3 Mie 1 bungkus Rp 5.000 Rp 5.000
4 Kentang ½ kg Rp 7.500 Rp 7.500
5 Sawi 2 ikat Rp 2.000 Rp 4.000
Jumlah Rp 45.000

B. Nasi Campur (Paket 2)
No Nama Bahan Satuan Harga satuan Harga
1 Beras 3 kg Rp 6.000 Rp 18.000
2 Ayam 1 kg Rp 20.000 Rp 20.000
3 Mie 1 bungkus Rp 5.000 Rp 5.000
4 Kulit pangsit ½ kg Rp 6.000 Rp 6.000
5 Sawi 2 ikat Rp 2.000 Rp 4.000
Jumlah Rp 53.000

C. Nasi Pecel
No Nama Bahan Satuan Harga satuan Harga
1 Beras 3 kg Rp 6.000 Rp 18.000
2 Tempe 5 potong Rp 2.000 Rp 10.000
3 Capar ½ kg Rp 2.500 Rp 2.500
4 Kacang panjang 2 ikat Rp 2.500 Rp 5.000
5 Sawi 2 ikat Rp 2.000 Rp 4.000
6 Timun ½ kg Rp 4.000 Rp 4.000
7 Kemanggi ¼ kg Rp 1.000 Rp 1.000
Jumlah Rp 44.500

D. Nasi Pecel Lele

No Nama Bahan Satuan Harga satuan Harga
1 Beras 3 kg Rp 6.000 Rp 18.000
2 Lele 3 kg Rp 14.000 Rp 42.000
3 Tempe 2 potong Rp 2.000 Rp 4.000
4 Kacang panjang 1 kg Rp 2.500 Rp 2.500
5 sawi 2 ikat Rp 2.000 Rp 4.000
6 Timun ½ kg Rp 4.000 Rp 4.000
7 Kemanggi ¼ kg Rp 1.000 Rp 1.000
Jumlah Rp 74.500

E. Nasi Kuning
No Nama Bahan Satuan Harga Satuan Harga
1 Beras 3 kg Rp 6.000 Rp 18.000
2 Tempe 3 potong Rp 2.000 Rp 6.000
3 Ayam 1 kg Rp 20.000 Rp 20.000
4 Telur ½ kg Rp 6.000 Rp 6.000
5 Mie 1 bungkus Rp 5.000 Rp 5.000
6 Sawi 1 ikat Rp 2.000 Rp 2.000
7 Timun ½ kg Rp 4.000 Rp 4.000
Jumlah Rp 61.000

Bumbu yang dibutuhkan :
No Nama Bahan Satuan Harga satuan Harga
1 Bawang merah 2 kg Rp 16.000 Rp 32.000
2 Bawang putih 1 kg Rp 18.000 Rp 18.000
3 Cabai 1 kg Rp100.000 Rp100.000
4 Garam 1 bungkus Rp 2.000 Rp 2.000
5 Kacang 1 kg Rp 13.000 Rp 13.000
6 Asem 1 bungkus Rp 1.000 Rp 1.000
7 Daun jeruk 1 plastik Rp 500 Rp 500
8 Gula merah ¼ kg Rp 2.500 Rp 2.500
9 Minyak goreng 3 liter Rp 11.000 Rp 33.000
10 Tepung ½ kg Rp 4.000 Rp 4.000
11 Rempah-rempah – Rp 5.000 Rp 5.000
Jumlah Rp 209.000

Pembungkus Rp 18.000
Total Pengeluaran per hari Rp 505.000,00
Total Pengeluaran dalam satu bulan Rp 505.000,00 x 30 = Rp 15.150.000

2.5.3 Rencana Penghasilan
Anggaran keuntungan
1. Nasi Campur (Paket 1)
36 x Rp 2.500 = Rp 90.000
2. Nasi Campur (paket 2)
36 x Rp 3.000=Rp 108.000
3. Nasi Pecel
36 x Rp 3.000=Rp 108.000
4. Nasi Pecel Lele
36 x Rp 4.000=Rp 144.000
5 Nasi Kuning
36 x Rp 4.000=Rp 144.000 +
Rp 594.000 x 30 hari = Rp17.820.000
Laba = pendapatan – pengeluaran =17.820.000-15.150.000= Rp 2.670.000
Laba Rp 2.670.000 dalam jangka waktu satu bulan

BAB III PENUTUP

3.1 Saran
Demikian proposal yang saya buat ini. Semoga bermanfaat bagi kita semua ,kususnya bagi pembaca proposal inimeskipun proposal ini sudah selesai namun saya mengharap ktitik & saran darui semuanya agar usaha saya dapat berjalan dengan lancar.
Apa bila ada kesalahan dalan penulisan kata-kata mohon dimaklumi .kesempurnan hanya milik Tuhan yang maha esa.
3.2 Kesimpulan
Demikian proposal dari saya yang berisi tentang rencana pendirian usaha ketring kecil-kecilan , usaha ini sangat mudah di jalankan dan hasilnya sangat menjanjikan sekali, namun keberhasilan suatu usaha sangt bergantung dengan pengusahanya kejujuran dan kedisplinan adalah kunci keberhasilan
Dalam usaha ini saya dapat mengetahui cara-cara menyusun proposal dengan benar , dan saya juga dapat menggambarkan bagaimana menjadi seorang pengusaha yang sukses , sesuai usaha yang kita pilih .

konfigurasi proxy

konfigurasi proxy
#     NETWORK 0PTIONS
# – – – – – – – – – – -
http_port 10.10.10.4:3128 transparent
icp_port 0

# OPTIONS WHICH AHIOI ALL CACHE 01/1
# – – – – – – – – – — -
cache_mem 8 MB

cahce_swap_low 90
cache_swap_high 95

maximum_object_size 40 MB

minimum_object_size 0 KB
maximum_object_size_in_memory 16 KB
ipcache_size 1024
ipcache_low 90
ipcache_high 95
fgdncache_size 1024

cache_replacement_policy heap LFUDA
memory_replacement_policy heap LFUDA

# LOGFILE PATHNAMES AND CACHE DIRECTORIES
# – – – – – – – – – -
cache_dir diskd /cache1 21000 16 256 01=72 02=64
cache_dir diskd /cache2 21000 16 256 01=72 02=64

cache_access_log /var/log/squid/access.log
cache_log none
cache_store__log none
#cache_swap_log /var_spool/squid
#pid_filename /var/spool/squid/squid.pia

log_ip_on_direct on
mime_table /etc/squid/mime.conf
__________________________________________________________________
log_mime_hdrs off
#referer_log

debug_options ALL.1
log_fqdn off
client_netmask 255.255.255.255

# OPTIONS FOR EXTERNAL SUPPORT PROGRAMS
# – – – – – – – – – – – – – -

ftp_user Squid@
auth_param basic children 5
auth_param basic realm Squid proxy-caching web server
auth_param basic credentialsttl 2 hours
auth_param basic casesensitive off

# OPTIONS FOR TUNING THE CACHE
# – – – – – – – – – – – – – – – – -

request_header_max_size 15 KB
request_body_max_size 10 MB

refresh_pattern -1 cgi-bin   1     20% 2
refresh_pattern -1 \?        1     20% 2

refresh_pattern -i \.asp$         4800   50%  22160
refresh_pattern -i \.acgi$        4800   50%  22160
refresh_pattern -i \.cgi$         4800   50%  22160
refresh_pattern -i \.shtml$       4800   50%  22160
refresh_pattern -i \.php3$        4800   50%  22160
refresh_pattern -i \.pl$          4800   50%  22160
refresh_pattern -i \.bom\.gov\.au   30   20%  120
refresh_pattern -i \.html$        4800   50%  22160
refresh_pattern -i \.htm$         4800   50%  22160
refresh_pattern -i \.gif$         22160  95%  43260
refresh_pattern -i \.jpg$         22160  95%  120960
refresh_pattern -i \.class$       10080  90%  43200
refresh_pattern -i \.zip$         22160  95%  43200
refresh_pattern -i \.jpeg$        22160  95%  120960
refresh_pattern -i \.mid$         22160  95%  120960
refresh_pattern -i \.exe$         22160  95%  120960
refresh_pattern -i \.thm$         10080  90%  43200
refresh_pattern -i \.wav$         22160  95%  120960
refresh_pattern -i \.txt$         22160  95%  43200
refresh_pattern -i \.cab$         22160  95%  120960
refresh_pattern -i \.au$          22160  95%  120960
refresh_pattern -i \.mov$         22160  95%  120960
refresh_pattern -i \.xbm$         10080  90%  43200
refresh_pattern -i \.ram$         22160  95%  120960
refresh_pattern -i \.avi$         22160  95%  120960
refresh_pattern -i \.chtml$       4800   90%  22160
refresh_pattern -i \.thb$         10080  90%  43200
refresh_pattern -i \.dcr$         22160  95%  43200
refresh_pattern -i \.bmp$         22160  95%  120960
refresh_pattern -i \.phtml$       4800   50%  22160
refresh_pattern -i \.mpg$         22160  95%  120960
refresh_pattern -i \.pdf$         22160  95%  120960
refresh_pattern -i \.art$         10080  90%  43200
refresh_pattern -i \.swf$         22160  95%  43200
refresh_pattern -i \.mp3$         22160  98%  120960
refresh_pattern -i \.ra$          10080  95%  120960
refresh_pattern -i \.spl$         10080  90%  43200
refresh_pattern -i \.viv$         10080  95%  120960

refresh_pattern -i \.goc$         22160  95%  43200
refresh_pattern -i \.gz$          22160  95%  120960
refresh_pattern -i \.Z$           22160  95%  120960
refresh_pattern -i \.tgz$         22160  95%  120960
refresh_pattern -i \.tar$         22160  95%  120960
refresh_pattern -i \.vrm$         10080  90%  43200
refresh_pattern -i \.vrml$        10080  90%  43200
refresh_pattern -i \.aif$         10080  95%  43200
refresh_pattern -i \.aifc$        10080  90%  43200
refresh_pattern -i \.aiff$        10080  90%  43200
refresh_pattern -i \.arj$         10080  90%  43200
refresh_pattern -i \.c$           10080  90%  43200
refresh_pattern -i \.cpt$         10080  90%  43200
refresh_pattern -i \.dir$         10080  90%  43200
refresh_pattern -i \.dxr$         10080  90%  43200
refresh_pattern -i \.hqx$         10080  90%  43200
refresh_pattern -i \.jpe$         22160  95%  120960
refresh_pattern -i \.lha$         22160  95%  120960
refresh_pattern -i \.lzh$         22160  95%  120960
refresh_pattern -i \.midi$        22160  95%  120960
refresh_pattern -i \.movie$       22160  95%  120960
refresh_pattern -i \.mp2$         22160  95%  120960
refresh_pattern -i \.mpe$         22160  95%  120960
refresh_pattern -i \.mpeg$        22160  95%  120960
refresh_pattern -i \.mpga$        10080  95%  120960
refresh_pattern -i \.pl$          10080  90%  43200
refresh_pattern -i \.ppt$         22160  95%  120960
refresh_pattern -i \.ps$          10080  95%  43200
refresh_pattern -i \.qt$          22160  95%  120960
refresh_pattern -i \.qtm$         22160  95%  120960
refresh_pattern -i \.ras$         10080  90%  43200
refresh_pattern -i \.sea$         10080  90%  43200
refresh_pattern -i \.sit$         10080  90%  43200
refresh_pattern -i \.tjf$         10080  90%  43200
refresh_pattern -i \.tiff$        10080  90%  43200
refresh_pattern -i \.snd$         10080  90%  43200
refresh_pattern -i \.wrl$         10080  90%  43200
refresh_pattern -i \.//           1440   20%  10080

refresh_pattern ^gopher://        1440    0%  1440
refresh_pattern .                 0      20%  43200

quick_abort_min 0
quick_abort_max 0
quick_abort_pct 95

negative_ttl 5 minutes
positive_dns_ttl 6 hours
negative_dns_ttl 5 minutes
range_offset_limit 0 KB

# TIMEOUTS
# – – – – – – – – – – – – – – – – – – – — – — — -

forward_timeout 4 minutes
connect_timeout 1 minute
# peer connect timeout 30 seconds
read_timeout 15 minutes
request_timeout 5 minutes
persistent_request_timeout 1 minutes

client_lifetime 1 day
half_closed_clients off
pconn_timeout 120 seconds
shutdown_lifetime 3 seconds

# ACCESS CONTROLS
# – – – – – – – – – – – – – – – – –  – – – – – – – – -

#acl myexanple dst_as 1241
#acl password proxy_auth REQUIRED
#acl fileupload req_mime_type -i ^multipart/form-data$
#acl javascript rep_mime_type -i ^applications/x-javascripts

acl all src.0.0.0.0/0.0.0.0
acl manager proto cache_object
acl localhost src 127.0.0.1/255.255.255.255
acl to_localhost dst 127.0.0.0/8
acl lokal src 172.16.0.0/24 172.31.0.0/30 172.31.0.4/30 10.10.10.0/29 172.31.0.8/30 172.31.0.12/30 192.168.254.0/24
acl lokal-domain dstdomain localhost 10.10.10.2 117.103.56.248
acl jam_kantor_download time MTWHFA 07:00-15:30
acl jam_kantor_porno time MTWHFA 07:00-12:30
acl SSL_ports port 443 563
acl Safe_ports port 80          # http
acl Safe_ports port 21          # ftp
acl Safe_ports port 443 563     # https,snews
acl Safe_ports port 70          # gopher
acl Safe_ports port 210         # wais
acl Safe_ports port 1025-65535  # unregistered port
acl Safe_ports port 280         # http-mgmt
acl Safe_ports port 488         # gss-http
acl Safe_ports port 591         # filemaker
acl Safe_ports port 777         # multiling http
acl CONNECT method CONNECT

always_direct allow localhost lokal-domain

#acl cara-1 dstdomain “/etc/squid/domain-terlarang”
#http_access deny cara-1

#acl cara-2 url regex -i “/etc/squid/kata-terlarang”
#http_access deny cara-2

acl download url_regex -i “/etc/squid/download”
http_access deny download jam_kantor_download

acl porno url_regex -i “/etc/squid/porno”
http_access deny porno jam_kantor_porno

http_access allow manager localhost
http_access allow manager lokal
http_access deny manager
http_access deny !Safe_port
http_access deny CONNECT !SSL_port
http_access deny to localhost
http_access allow lokal
http_access allow localhost
http_access deny all

http_reply_access allow all
icp_access deny all
miss_access allow lokal
miss_access deny all

reply_header_max_size 20 KB
reply_body_max_size 0 allow all

header_access Accept-Encoding allow all
header_access Via allow all

# ADMINISTRATIVE PARAMETERS
# – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – — -

cache_mgr team ict@smkn1kediri.sch.id
cache_effective user proxy
cache_effective_group proxy
visible_hostname proxy.smkn1kediri.sch.id
unique_hostname proxy.smkn1kediri.sch.id

# HTTPD-ACCELERATOR OPTIONS
# – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – –  -

#httpd_accel_host virtual
#httpd_accel_port 80
#httpd_accel_single_host off
#httpd_accel_with proxy on
#httpd_accel_user_host_header on

# MISCELLANEOUS
# – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – — – -

logfile_rotate 1

# append_domain .yourdomain.com
tcp_recy_bufsize 0 bytes

# memory_pools on
# memory_pools limit  (bytes)

forward_for on

# cachemgr_passwd secret shutdown
cachemgr_passwd aloh4 into stats/objects
# cachemgr_passwd disable all

store_avg_object_size 13 KB
store_object_per_bucket 20

# DELAY POOL PARAMETERS (all require DELAY POOLS compolation option)
# – – – – – – – – – – – – – – – — – – – – – – – – – — – – – – —  – – – -

acl dl1 rep_mime_type -i ^applications/octet stream$ ^audio/mpeg$ ^vidio/mpeg$
acl dl2 rep_mime_type -i ^audio/x-realaudion$ ^audio/x pn-realaudion$
acl dl3 urlpath_regex -i \.mp3$ \.mov$ \.wav$ \.wav$ \.mpeg$ \.asft \.150$
acl dl4 proto FTP
acl dltime time 10:00-13:30
delay pools 2       # 2 delay pools
delay_class 1 2    # pool 1 is a class 2 pool
delay_class 2 2    # pool 2 is a class 2 pool
delay_access 1 allow lokal dl1 dltime
delay_access 1 allow lokal dl2 dltime
delay_access 1 allow lokal dl3 dltime
delay_access 1 deny all
delay_access 2 allow lokal dl4 dltime
delay_access 2 deny all
delay_parameters 1 15360/-1 15360/131072
delay_parameters 2 -1/-1 15360/-1
delay_initial_bucket_level 50

uri_whitespace strip
nonhierarchical_direct on
prefer_direct off

strip_query_terms on
coredump_dir none
ignore_unknown_nameservers on

# ERROR DIRECTORY
# – – – – – – – – – – — – -

client_persistent_connections on
server_persistent_connections on

pipeline preferch off

store-dir_select_algorithm round-robin
ie refresh on