defusi inovasi kesehatan1

NAMA:JENY SUPRIATIN
NIM:11105540008
FAK/JURUSAN:SOSPOL/ILMU KOMUNIKASI

Investasi Kesehatan Untuk Pembangunan Ekonomi

Pendahuluan

Tulisan ini dimaksudkan untuk menyamakan pemahaman kita bersama tentang pentingnya peranan investasi kesehatan dalam pembangunan ekonomi. Sumber utama dari tulisan ini berasal dari “Konferensi Regional Anggota Parlemen Tentang Laporan Komisi Makroekonomi dan Kesehatan” yang diselenggarakan oleh World Health Organization (WHO) di Bangkok, Thailand pada tanggal 15 – 17 Desember 2002. Konferensi ini diikuti oleh para anggota parlemen yang berasal 9 negara, yaitu Bangladesh, Bhutan, India, Indonesia, Maldives, Myanmar, Nepal, Sri Lanka, dan Thailand.
Pada Konferensi Tingkat Tinggi Dunia Tentang Pembangunan Sosial (The World Summit For Social Development) di Copenhagen tahun 1995 telah dilakukan pembahasan dengan tema difokuskan pada penanggulangan kemiskinan, penciptaan lapangan kerja dan kesetiakawanan sosial. Dengan latar belakang ini, selanjutnya para Menteri Kesehatan membicarakan tentang peranan kesehatan dalam pembangunan berkelanjutan, pada pertemuannya yang ke-13 bulan September 1995. Para Menteri Kesehatan sangat menyadari tentang keterkaitan antara kemiskinan dengan kesehatan.
Selanjutnya, telah diterbitkan monografi tentang kaitan antara kemiskinan dan kesehatan sebagai issu regional di Asia Tenggara pada bulan Juli tahun 1997. Monografi tersebut antara lain menyimpulkan bahwa kebijakan makroekonomi seharusnya diarahkan untuk menjamin pertumbuhan ekonomi dan pembangunan sosial secara beriringan. Analisis membuktikan bahwa penanggulangan kemiskinan dan peningkatan status kesehatan memerlukan kerangka kebijakan makroekonomi yang kondusif untuk menciptakan pertumbuhan ekonomi yang cepat dan berkeadilan.
Pada pertemuan mereka pada tahun 1997, para Menteri Kesehatan mengadopsi Deklarasi Tentang Pembangunan Kesehatan di Regional Asia Tenggara untuk Abad ke-21. Pada pertemuan tersebut, mereka menyatakan pendiriannya bahwa kesehatan adalah merupakan inti atau pusat untuk pembangunan dan kesejahteraan. Mereka menyadari bahwa terdapat hubungan yang sangat erat antara kemiskinan dengan kesakitan, dan membuat komitmen diantara mereka untuk memenuhi kebutuhan kesehatan bagi penduduk miskin sebagai prioritas yang paling tinggi.
Selanjutnya, dalam Deklarasi tentang Kesehatan Masyarakat di Calcutta, pada bulan November 1999 antara lain meneguhkan komitmen bahwa penangulangan kemiskinan, dan keadilan sosial, yang merupakan elemen utama untuk mewujudkan kesehatan bagi semua. Dengan demikian, keterkaitan antara kesehatan dan pembangunan telah disadari oleh para pemimpin kesehatan dan pembuat kebijakan di regional Asia Tenggara.
Laporan Komisi Makroekonomi dan Kesehatan (selanjutnya disebut Komisi) pada bulan Desember 2001 menekankan pentingnya pembangunan manusia sebagai sentral pembangunan.

Keterkaitan Antara Kesehatan dan Pembangunan

Laporan Komisi, menganalisis berbagai hubungan keterkaitan antara kesehatan dengan pembangunan ekonomi yang dapat diterangkan melalui berbagai mekanisme. Berikut ini akan diuraikan pembahasan terhadap tiga fokus area, yaitu pertama, kesehatan dan pembangunan, kedua, kesehatan dan kemiskinan, dan ketiga, pendekatan dari aspek demografi.
Pertama, Kesehatan dan Pembangunan.
Pada tingkat mikro yaitu pada tingkat individual dan keluarga, kesehatan adalah dasar bagi produktivitas kerja dan kapasitas untuk belajar di sekolah. Tenaga kerja yang sehat secara fisik dan mental akan lebih enerjik dan kuat, lebih produktif, dan mendapatkan penghasilan yang tinggi. Keadaan ini terutama terjadi di negara-negara sedang berkembang, dimana proporsi terbesar dari angkatan kerja masih bekerja secara manual. Di Indonesia sebagai contoh, tenaga kerja laki-laki yang menderita anemia menyebabkan 20% kurang produktif jika dibandingkan dengan tenaga kerja laki-laki yang tidak menderita anemia. Selanjutnya, anak yang sehat mempunyai kemampuan belajar lebih baik dan akan tumbuh menjadi dewasa yang lebih terdidik. Dalam keluarga yang sehat, pendidikan anak cenderung untuk tidak terputus jika dibandingkan dengan keluarga yang tidak sehat.
Pada tingkat makro, penduduk dengan tingkat kesehatan yang baik merupakan masukan (input) penting untuk menurunkan kemiskinan, pertumbuhan ekonomi, dan pembangunan ekonomi jangka panjang. Beberapa pengalaman sejarah besar membuktikan berhasilnya tinggal landas ekonomi seperti pertumbuhan ekonomi yang cepat didukung oleh terobosan penting di bidang kesehatan masyarakat, pemberantasan penyakit dan peningkatan gizi. Hal ini antara lain terjadi di Inggris selama revolusi industri, Jepang dan Amerika Selatan pada awal abad ke-20, dan pembangunan di Eropa Selatan dan Asia Timur pada permulaan tahun 1950-an dan tahun 1960-an.
Informasi yang paling mengagumkan adalah penelusuran sejarah yang dilakukan oleh Prof. Robert Fogel, yang menyatakan bahwa peningkatan ketersediaan jumlah kalori untuk bekerja, selama 200 tahun yang lalu mempunyai kontribusi terhadap pertumbuhan pendapatan per kapita seperti terjadi di Perancis dan Inggris. Melalui peningkatan produktivitas tenaga kerja dan pemberian kalori yang cukup, Fogel memperkirakan bahwa perbaikan gizi memberikan kontribusi sebanyak 30% terhadap pertumbuhan pendapatan per kapita di Inggris.
Bukti-bukti makroekonomi menjelaskan bahwa negara-negara dengan kondisi kesehatan dan pendidikan yang rendah, mengahadapi tantangan yang lebih berat untuk mencapai pertumbuhan berkelanjutan jika dibandingkan dengan negara yang lebih baik keadaan kesehatan dan pendidikannya. Pada Tabel 1 dibawah ini ditunjukkan tingkat pertumbuhan dari beberapa negara sedang berkembang pada periode 1965-1994. Pengelompokan negara-negara tersebut didasarkan atas tingkat pendapatan dan angka kematian bayi (sebagai proksi dari seluruh keadaan penyakit pada tahun 1965). Tabel tersebut menjelaskan di negara-negara dengan tingkat angka kematian bayi yang rendah menikmati tingkat pertumbuhan ekonomi yang tinggi pada periode tertentu.

Tabel 1: Tingkat Pertumbuhan Pendapatan Per Kapita, 1965-1994
( Didasarkan atas Pendapatan dan Angka Kematian Bayi, 1965)

Angka Kematian Bayi (AKB),1965 AKB 150
Tahun Dasar Pendapatan, 1965
GDP US$ 6000


5.9
2.8
1.9
3.7
3.4
1.8
1.7
-0.5
1.0
1.1
1.1
0.3

0.1
-0.7
2.5


Sumber: WHO-SEAR, 2002

Terdapat korelasi yang kuat antara tingkat kesehatan yang baik dengan pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Secara statistik diperkirakan bahwa setiap peningkatan 10% dari angka harapan hidup (AHH) waktu lahir akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi minimal 0.3–0.4% pertahun, jika faktor-faktor pertumbuhan lainnya tetap. Dengan demikian, perbedaan tingkat pertumbuhan tahunan antara negara-negara maju yang mempunyai AHH tinggi (77 tahun) dengan negara-negara sedang berkembang dengan AHH rendah (49 tahun) adalah sekitar 1.6%, dan pengaruh ini akan terakumulasi terus menerus.
Peningkatan kesejahteraan ekonomi sebagai akibat dari bertambah panjangnya usia sangatlah penting. Dalam membandingkan tingkat kesejahteraan antar kelompok masyarakat, sangatlah penting untuk melihat angka harapan hidup, seperti halnya dengan tingkat pendapatan tahunan. Di negara-negara yang tingkat kesehatannya lebih baik, setiap individu memiliki rata-rata hidup lebih lama, dengan demikian secara ekonomis mempunyai peluang untuk untuk memperoleh pendapatan lebih tinggi. Keluarga yang usia harapan hidupnya lebih panjang, cenderung untuk menginvestasikan pendapatannya di bidang pendidikan dan menabung. Dengan demikian, tabungan nasional dan investasi akan meningkat, dan pada gilirannya akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi.
Peranan kesehatan diantara berbagai faktor pertumbuhan ekonomi dapat digambarkan dalam Diagram 1 dibawah ini. Dalam diagram tersebut dapat dilihat, pembangunan ekonomi disatu fihak, merupakan fungsi dari kebijakan dan institusi (kebijakan ekonomi, pemerintahan yang baik, dan penyediaan pelayanan publik), dan faktor masukan (sumber daya manusia, teknologi, dan modal perusahaan) dilain fihak. Kesehatan mempunyai peranan ekonomi yang sangat kuat terhadap sumber daya manusia dan modal perusahaan melalui berbagai mekanisme seperti digambarkan.

Diagram 1: Kesehatan Sebagai Masukan Untuk Pembangunan Ekonomi

Kebijakan ekonomi
Pemerintahan yang baik
Penyediaan pelayanan publik

Sumberdaya manusia, termasuk:
Pendidikan, pelatihan, perkembangan
Fisik dan kognitif

Kesehatan
Teknologi, termasuk:
Pengetahuan ilmiah yang relevan
untuk menghasilkan inovasi dalam
difusi ekonomi dalam negeri dengan
menggunakan teknologi dari luar

Modal perusahaan, termasuk:
Investasi yang pasti dalam peralatan,
organisasi dan kerjasama karyawan,
peluang investasi untuk menarik
modal

Kesehatan yang buruk akan memberikan pengaruh buruk terhadap pertumbuhan ekonomi, hal ini antara lain terjadi di sub-Sahara Afrika dan Asia Selatan. Beban berat yang diakibatkan oleh penyakit dan pengaruh gandanya terhadap produktivitas, kependudukan, dan pendidikan mempunyai peranan dalam kinerja ekonomi yang buruk dan kronis di negara-negara Afrika. Studi terbaru yang dilakukan oleh Bloom dan Sachs, menemukan bahwa lebih dari setengahnya dari keterbelakangan pertumbuhan di negara-negara Afrika jika dibandingkan dengan dengan negara-negara di Asia Timur, secara statistik dapat diterangkan oleh beban berat akibat penyakit, kependudukan, dan geografis jika dibandingkan dengan variabel-variabel tradisional dari ekonomimakro dan politik pemerintahan. Sebagai contoh, tingginya angka prevalensi penyakit malaria menunjukkan hubungan yang erat dengan penurunan pertumbuhan ekonomi sebesar satu persen atau lebih setiap tahunnya.

Kedua, Kesehatan dan Kemiskinan

Berbagai indikator kesehatan di negara-negara berpendapatan rendah dan menengah jika dibandingkan dengan negara-negara berpendapatan tinggi, memperlihatkan bahwa angka kesakitan dan kematian secara kuat berkorelasi terbalik dengan pendapatan, seperti terlihat dalam Tabel 2 dibawah ini. Studi lain dilakukan oleh Bank Dunia yang membagi keadaan kesehatan antara kelompok penduduk berpenghasilan tinggi dan rendah pada negara-negara tertentu. Sebagai contoh, tingkat kematian anak pada quantil termiskin di Bolivia dan Turki diperkirakan empat kali lebih besar dibandingkan dengan tingkat kematian pada quantil terkaya. Dengan demikian kebijakan yang diarahkan untuk menanggulangi penyakit malaria dan kekurangan gizi secara langsung merupakan implementasi dari kebijakan mengurangi kemiskinan.
Komitmen global untuk meningkatkan status kesehatan secara jelas dicantumkan dalam Tujuan Pembangunan Milenium (Millenium Development Goals-MDGs). Tujuan pembangunan milenium tersebut antara lain: (1) menurunkan angka kematian anak sebesar dua pertiganya pada tahun 2015 dari keadaan tahun 1990; (2) menurunkan angka kematian ibu melahirkan sebesar tiga perempatnya pada tahun 2015 dari keadaan 1990; dan (3) menahan peningkatan prevalensi penyakit HIV/AIDS dan penyakit utama lainnya pada tahun 2015. Tujuan pembangunan milenium difokuskan terhadap pengurangan kemiskinan pada umumnya dan beberapa tujuan kesehatan pada khususnya, sehingga terdapat keterkaitan antara upaya keseluruhan penurunan kemiskinan dengan investasi di bidang kesehatan.

Tabel 2: Angka Harapan Hidup Dan Tingkat Kematian, Menurut Tingkat Kemajuan Pembangunan Negara (1995-2000)

Tingkat Pembangunan Negara Penduduk
(1999)
Juta Rata-rata Pendapatan Tahunan (US$) Angka Harapan Hidup (Tahun) Angka Kematian Bayi (Per-1000) Angka Kematian Anak Balita (Per-1000)
Sangat Terbelakang 643 296 51 100 159
Pendapatan Rendah 1777 538 59 80 120
Pendapatan Menengah-Bawah 2094 1200 70 35 39
Pendapatan Menengah-Atas 573 4900 71 26 35
Pendapatan Tinggi 891 25730 78 6 6
Sub-Sahara Afrika 642 500 51 92 151
Sumber: Human Development Report 2001, Table 8, and CMH Calculation using World

Development Indicators of the World Bank

Beberapa alasan meningkatnya beban penyakit pada penduduk miskin adalah: Pertama, penduduk miskin lebih rentan terhadap penyakit karena terbatasnya akses terhadap air bersih dan sanitasi serta kecukupan gizi. Kedua, penduduk miskin cenderung enggan mencari pengobatan walaupun sangat membutuhkan karena terdapatnya kesenjangan yang besar dengan petugas kesehatan, terbatasnya sumber daya untuk memenuhi kebutuhan dasar, dan terbatasnya pengetahuan untuk menghadapi serangan penyakit.
Konsekuensi ekonomi jika terjadi serangan penyakit pada anggota keluarga merupakan bencana jika untuk biaya penyembuhannya mengharuskan menjual aset yang mereka miliki atau berhutang. Hal ini akan menyebabkan keluarga jatuh kedalam kemiskinan, dan jika tidak bisa keluar dari hal ini akan mengganggu tingkat kesejahteraan seluruh anggota keluarga bahkan generasi berikutnya. Serangan penyakit yang tidak fatal dalam kehidupan awal akan mempunyai pengaruh yang merugikan selama siklus hidup berikutnya. Pendidikan secara luas dikenal sebagai kunci dari pembangunan, tetapi masih belum dihargai betapa pentingnya kesehatan anak dalam pencapaian hasil pendidikan. Kesehatan yang buruk secara langsung menurunkan potensi kognitif dan secara tidak langsung mengurangi kemampuan sekolah. Penyakit dapat memelaratkan keluarga melalui menurunnya pendapatan, menurunnya angka harapan hidup, dan menurunya kesejahteraan psikologis.

Ketiga, Pendekatan Aspek Demografi

Hal yang paling merugikan, namun kurang diperhatikan, biaya yang tinggi dari kematian bayi dan anak dapat ditinjau dari aspek demografi. Keluarga miskin akan berusaha mengganti anaknya yang meninggal dengan cara memiliki jumlah anak yang lebih banyak. Jika keluarga miskin mempunyai banyak anak maka keluarga tersebut tidak akan mampu melakukan investasi yang cukup untuk pendidikan dan kesehatan untuk setiap anaknya. Dengan demikian, tingginya beban penyakit pada keluarga yang memiliki banyak anak akan menyebabkan rendahnya investasi untuk kesehatan dan pendidikan untuk setiap anaknya.
Bukti empiris tentang adanya hubungan antara tingkat fertilitas dengan tingkat kematian anak adalah sangat kuat. Negara-negara yang memiliki angka kematian bayi kurang dari 20, mempunyai angka rata-rata tingkat fertilitas (Total Fertility Rate) sebesar 1.7 anak. Negara-negara dengan tingkat kematian bayi diatas 100 mempunyai angka rata-rata tingkat fertilitas 6,2 anak. Pola ini menuntun pengertian kita bahwa negara-negara yang mempunyai tingkat kematian bayi yang tinggi mempunyai tingkat pertumbuhan penduduk tercepat di dunia dengan segala konsekwensinya.
Ketika angka kematian anak menurun, disertai dengan turunnya tingkat kesuburan, secara keseluruhan tingkat pertumbuhan penduduk juga menurun dan rata-rata umur penduduk akan meningkat. Ratio ketergantungan penduduk juga akan menurun. Perubahan demografi ini akan mendorong keseluruhan peningkatan GNP per kapita dan pertumbuhan ekonomi. Meningkatnya proporsi penduduk usia kerja secara langsung meningkatkan GNP per kapita.

Memilih Intervensi Untuk Kesehatan Yang Lebih Baik

Di berbagai negara khususnya di negara-negara yang sedang berkembang, ketersediaan sumber daya untuk mengatasi masalah kesehatan sangat terbatas, oleh karena itu pemilihan alternatif intervensi kesehatan yang cost-effective menjadi penting. Pada tahun 1978, melalui Deklarasi Alma Ata tujuan kesehatan bagi semua telah disetujui oleh seluruh negara anggota Organisasi Kesehatan Sedunia (World Health Organization-WHO). Beberapa kesepakatan dalam deklarasi tersebut adalah komitmen negara-negara anggota terhadap keadilan kesehatan, lebih memfokuskan pelayanan kesehatan pencegahan (preventive) dan peningkatan (promotive) dibandingkan dengan pengobatan (curative) dan pemulihan (rehabilitative), meningkatkan kerjasama lintas sektoral, dan meningkatkan partisipasi masyarakat.
Sampai saat ini beberapa komitmen tersebut belum dapat diwujudkan. Sebagian besar negara-negara berpendapatan rendah lebih banyak mengalokasikan sumber daya untuk pelayanan kesehatan pengobatan. Hal ini menyebabkan terjadinya inefisiensi alokasi, penggunaan teknologi yang tidak tepat, dan inefisiensi teknis. Hanya sedikit negara yang sukses mencapai kesehatan yang adil dan berhasil menjalin kerjasama lintas sektor dan partisipasi masyarakat dengan baik.

Menilai Status Kesehatan Penduduk

Status kesehatan penduduk biasanya dinilai dengan menggunakan berbagai indikator yang secara garis besar dibagi dalam dua kelompok. Kelompok pertama, berisikan indikator yang menghitung jumlah kematian yang terjadi selama periode tertentu. Contohnya adalah angka kematian kasar (Crude Death Rate-CDR) dan angka kematian bayi (Infant Mortality Rate-IMR). Kelompok penduduk yang mempunyai angka CDR dan IMR yang rendah dikatakan mempunyai status kesehatan yang lebih baik jika dibandingkan dengan kelompok penduduk yang angka CDR dan IMR nya tinggi.
Kelompok kedua, berisikan berbagai indikator yang memperlihatkan jumlah orang yang menderita kecacatan akibat penyakit tertentu. Contohnya adalah jumlah penderita AIDS, Tuberkulosis (TB), Polio, dan sakit mental. Sama dengan kelompok pertama, kelompok penduduk yang mempunyai jumlah penderita AIDS atau TB lebih sedikit dikatakan lebih sehat jika dibandingkan dengan kelompok penduduk yang jumlah penderita penyakit tersebut lebih banyak.
Kedua kelompok indikator tersebut sayangnya tidak menjelaskan kepada kita kapan kematian atau kecacatan terjadi, bagaimana tingkat parahnya penyakit, dan berapa lama mereka menderita. Masyarakat pempunyai nilai atau persepsi yang berbeda tentang hal-hal tersebut.
Untuk mengatasi hal tersebut, pada tahun 1993 kedua kelompok indikator tersebut digabungkan kedalam satu indikator yang disebut DALY ( Disability Adjusted Life Years ) untuk mengukur dengan lebih baik status kesehatan penduduk. DALY menggambarkan jumlah tahun untuk hidup sehat yang hilang sebagai akibat dari kematian dan kecacatan. Satu DALY didefinisikan sebagai satu tahun yang hilang untuk hidup sehat akibat dari kematian dan kecacatan. Penggunaan DALY dapat digunakan untuk membandingkan kesehatan penduduk dari waktu ke waktu atau membandingkan antara satu kelompok penduduk dengan kelompok penduduk lain dengan lebih mudah dan sederhana. Kesimpulannya, DALY mengukur beban yang ditimbulkan oleh penyakit yang diakibatkan oleh kematian dan atau kecacatan yang harus ditanggung oleh masyarakat. Penggunaan indikator DALY dapat dianalogikan dengan penggunaan indikator HDI (Human Development Index) yang dikembangkan oleh UNDP yang merupakan indikator komposit dari kesehatan, pendidikan dan tingkat pendapatan.
Komisi Makroekonomi dan Kesehatan dalam penyusunan laporannya menggunakan DALY dan analisis manfaat biaya. Dalam laporan tersebut satu DALY dinilai sebesar rata-rata pendapatan perkapita dalam setahun.

Beban Penyakit Di Regional Selatan-Timur Asia

Organisasi Kesehatan Sedunia (WHO) telah melakukan perhitungan beban penyakit secara global (Global Burden of Disease-GBD) pada tahun 1999, 2000, dan 2001. Dalam GBD tersebut, penyakit dibagi dalam tiga katagori besar yaitu penyakit menular (Communicable diseases), penyakit tidak menular (Non-communicable diseases), dan kecelakaan (Injuries). Pada Tabel 3 disajikan data perbandingan kehilangan DALY antara Global dengan Regional Timur-Selatan Asia (South-East Asia Region-SEAR).

Tabel 3: Kehilangan Total DALY Dalam Tahun 1990 dan 1999-2001, pada Tingkat Global dan SEAR (Dalam Juta)

Katagori Penyakit 1990 1999 2000 2001
Global SEAR Global SEAR Global SEAR
Penyakit Menular 318 615 191
(31%) 610
184
(30%) 616 188
(31%)
Penyakit Tidak menular 277 622 156 (25%) 679 187
(28%) 673 177
(26%)
Kecelakaan 534 201 65
(32%) 183 54
(30%) 179 54
(30%)
TOTAL 1129 1438 412
(28%) 1471 425
(29%) 1468 419
(29%)
Sumber: WHO-SEAR, 2002

Pada tabel tersebut dapat dilihat secara global pada tahun 1999 kehilangan total DALY sekitar 1.438 juta. Untuk regional Asia Timur-Selatan pada kehilangan total DALY pada tahun 1999, 2000, dan 2001 berturut-turut sekitar 412, 425, dan 419 juta. Pada regional tersebut, terjadi beban ganda dalam masalah kesehatan yaitu disatu fihak menghadapi masalah penyakit menular (seperti AIDS, TB, dan Malaria) dilain fihak menghadapi penyakit tidak menular (misalnya Kanker, Hipertensi, dan Diabetes).
Komisi telah mengidentifikasi tujuh penyebab utama kematian yang dialami di negara-negara berpendapatan rendah (pendapatan pertahun sekitar US$ 300) yaitu: HIV/AIDS, Malaria, Tuberkulosis/TB, infeksi menular pada anak, masalah kesehatan ibu dan bayi, kekurangan zat gizimikro, dan penyakit akibat merokok.
Komisi tersebut mengarahkan agar dilakukan intervensi langsung terhadap tujuh penyebab utama kematian tersebut, dan intervensi tersebut dilaksanakan melalui pelayanan kesehatan dasar seperti Puskesmas, Puskesmas Pembantu dan jaringannya agar lebih dekat pelayanannya terhadap penderita, disebut dengan sistem Dekat Dengan Klien-DDK (Close to Client-CTC)
Sebagian besar kegiatan yang diperlukan untuk melaksanakan intervensi esensial tersebut tidak memerlukan teknologi canggih atau tenaga kesehatan dengan keahlian tinggi seperti tersedia di Rumah Sakit. Dibawah ini disampaikan beberapa intervensi esensial yang diperlukan untuk menangani berbagai penyakit penyebab utama kematian yaitu sebagai berikut.
HIV/AIDS: Ubah kebiasaan hidup, contohnya hanya melalukan hubungan intim dengan satu partner, gunakan kondom, gunakan transfusi darah yang aman, gunakan jarum suntik yang aman.
Malaria: Gunakan kelambu yang telah dicelup dengan insektisida, lakukan manajemen kasus yang baik.
Tuberkulosis: Manajemen kasus yang lebih baik melalui DOTS (Directly Observed Treatment Short-course)
Penyakit infeksi menular pada anak: Imunisasi, penggunaan oralit atau larutan gula garam
Gangguan kesehatan ibu dan bayi: Pertolongan persalinan oleh tenaga terlatih, imunisasi ibu dengan tetanus-toksoid
Kekurangan zat gizimikro: Yodisasi garam, pemberantasan penyakit cacing pada anak sekolah
Penyakit akibat tembakau: Larangan iklan rokok, naikan pajak rokok.
Meningkatkan Keadilan Melalui Pentargetan Penduduk Miskin Yang Lebih Baik

Memilih intervensi dengan biaya efektif seperti yang telah diuraikan diatas tidak akan secara otomatis meningkatkan keadilan pelayanan kesehatan. Terdapat tiga faktor utama yang mempengaruhi tingkat penggunaan (utilisasi) pelayanan kesehatan secara optimal dan mempengaruhi status kesehatan yaitu hambatan geografik, pembiayaan, dan sosio-antropologis. Dengan melaksanakan sistem DDK diharapkan akan menghilangkan hambatan geografis. Untuk mengatasi hambatan keuangan dianjurkan untuk melaksanakan sistem asuransi kesehatan untuk menggantikan sistem pembayaran pelayanan kesehatan langsung. Asuransi kesehatan, diluar asuransi swasta komersial akan mencegah keluarga jatuh kedalam keadaan melarat. Komisi juga menganjurkan diterapkannya skema skala kecil pembiayaan kesehatan yang berasal dari masyarakat (Di Indonesia dikenal dengan Dana Sehat), sebagai manifestasi partisipasi masyarakat dalam pembangunan kesehatan. Hambatan sosio-antropologi berkaitan dengan bagaimana tanggapan dari sistem kesehatan terhadap kebutuhan pelayanan kesehatan masyarakat, dan seberapa besar jarak ekonomi dan budaya antara pengguna dan penyedia pelayanan kesehatan.

Apa Yang Harus Diperbuat : Sumberdaya Yang Diperlukan

Komisi Makroekonomi dan Kesehatan telah memberikan kontribusi yang sangat penting dalam mendemontrasikan keterkaitan antara peningkatan kesehatan dengan pembangunan ekonomi. Komisi mencatat bahwa ada beberapa jenis penyakit yang memberikan kontribusi yang tinggi terhadap memburuknya keadaan kesehatan, dan terdapat intervensi yang efektif untuk mencegah dan mengobati penyakit tersebut.
Hal ini menggambarkan bahwa banyak keuntungan yang dapat diraih oleh negara-negara berkembang jika pencegahan dan pengobatan lebih diarahkan terhadap penangulangan penyakit- penyakit tersebut.
Komisi memberikan beberapa rekomendasi tentang langkah-langkah yang harus ditempuh untuk meningkatkan intervensi tersebut. Tantangan-tantangan bagi negara-negara di regional Selatan dan Timur Asia untuk menerapkan rekomendasi ini dan menjabarkannya dalam paraktek, akan menjawab beberapa tujuan yang ditetapkan oleh Komisi.

Tingkat Pengeluaran Kesehatan Di Negara-Negara Berpendapatan Rendah

Intervensi esensial yang diperlukan untuk mengurangi tingkat kematian di negara-negara berpendapatan rendah tidaklah mahal, tetapi tidak juga gratis. Komisi telah memperkirakan biaya yang diperlukan untuk melakukan intervensi esensial di negara-negara berpendapatan rendah adalah kurang dari US$ 1.200 per orang per tahun. Paket intervensi dan target serta cakupan intervensi disajikan dalam Tabel 4. Sebagai contoh, diperkirakan cakupan DOTS untuk pengobatan TB akan meningkat dari 44% dari pasien tang terinfeksi menjadi 60% pada tahun 2007, dan 70% pada tahun 2015.

Tabel 4: Cakupan Pelayanan Esensial Yang Harus Ditingkatkan
(Didasarkan atas cakupan pelayanan Tahun 2002)

2002 2007 2015
TB 44% 60% 70%

Malaria
Pengobatan
Pencegahan
31%
2%
60%
50%
70%
70%

HIV
Pencegahan (Diluar sektor Kesehatan)
Pencegahan (Dalam Sektor Kesehatan
10-20%
1- 10%
70%
40%
80%
70%

Perawatan Untuk Infeksi Oportunistik 6-10% 40% 70%

Imunisasi
BCG/DPT/Polio/Hepatitis B
Campak
75%
68%
90%
80%
90%
90%

Perawatan Balita
Infeksi Saluran Nafas
Diare
59%
52%
70%
70%
80%
80%

Pelayanan Kesehatan Ibu
Ante Natal Care (ANC)
65%
80%
90%

Pertolongan Persalinan Oleh Tenaga Terlatih 45% 80% 90%

Kebijakan Pengawasan Merokok (iklan, pajak, konsumen)
20% 80% 80%
Sumber: WHO-SEAR, 2002

Untuk mencapai peningkatan cakupan pelayanan seperti tercantum pada Tabel 4 diatas, pada tahun 2007 diperlukan tambahan biaya US$ 14 per orang per tahun di negara-negara berpendapatan rendah, dan US$ 22 per orang per tahun di negara-negara sangat miskin sebagai tambahan dari pembiayaan kesehatan pada tahun 2002. Dengan kondisi pengeluaran kesehatan di negara-negara berpenghasilan rendah sebanyak US$ 21 per orang maka total pengeluaran pada tahun 2007 menjadi US$ 34 dan menjadi US$ 38 pada tahun 2015. Tingkat pengeluaran ini masih kasar sebagai angka minimum per orang yang diperlukan untuk melakukan intervensi esensial. Perkiraan ini cukup rasional jika dibandingkan dengan pengeluaran biaya kesehatan di negara-negara maju yang besarnya lebih dari US$ 2000 per orang per tahun. Namun disadari bahwa peningkatan biaya yang diharapkan dinegara-negara berpendapatan rendah masih cukup tinggi mengingat daya beli masyarakatnya masih rendah. Pembiayaan khusus diperlukan diantara negara-negara tertentu tergantung dari epidemiologi penyakit dan tingkat pertumbuhan ekonominya.
Sekitar US$ 30-45 harus berasal dari pengeluaraan publik, untuk dua alasan: Pertama, untuk memenuhi pelayanan publik (misalnya pemberantasan penyakit infeksi menular), dimana individu kurang mendapatkan insentif terhadap proteksi untuk dirinya sendiri, dan Kedua, untuk menjamin akses penduduk miskin terhadap pelayanan kesehatan dimana mereka tidak cukup memiliki uang.
Komisi sadar bahwa dengan pengeluaran publik sekitar US$ 30 – 45, belum banyak yang dilakukan guna peningkatan kualitas pelayanan kesehatan seperti halnya pelayanan komprehensif dinegara-negara maju. Perkiraan ini adalah biaya minimal sitem kesehatan untuk menangani penyakit infeksi menular dan pelayanan kesehatan bagi ibu dan bayi yang merupakan proporsi terbesar untuk menghindari kematian di negara-negara berpendapatan rendah. Dengan memberikan intervensi pelayanan kesehatan yang efektif akan meningkatkan kemampuan daerah untuk menanggapi kebutuhan pelayanan kesehatan masyarakat sebagai pra kondisi untuk meningkatkan askes penduduk miskin terhadap fasilitas pelayanan kesehatan umum.

Peningkatan Biaya dan Manfaat Makroekonomi

Peningkatan biaya yang besar bagi intervensi kesehatan esensial akan menyebabkan penurunan secara bermakna beban penyakit di negara-negara berkembang. Perkiraan terbaik dari pengaruh pelayanan kesehatan adalah menurunnya angka kematian total di negara-negara berkembang akibat penyakit infeksi menular dan kesehatan ibu yang rendah sekitar 8 juta per tahun pada tahun 2015, yang hal ini berasosiasi dengan penurunan sekitar 330 juta DALYs. Perkiraan penurunan angka kematian ini dapat dilihat pada Tabel 5.

Tabel 5 : Angka Kematian Dibawah Usia 60 Tahun, Dibandingkan Ada Tidaknya Intervensi, Tahun 1998–2020

1998 2010 2020
Tahun Dasar Tanpa Intervensi Dengan Intervensi Tanpa Intervensi Dengan Intervensi
Grup 1 13,956,996 13,255,530 5,155,625 12,671,000 4,593,479
Infeksi dan kurang gizi 9,073,059 8,903,935 2,849,259 8,763,000 2,804,160
Gangguan Kesehatan Ibu 491,185 360,720 203,645 252,000 87,400
Infeksi Saluran Nafas 2,101,802 2,175,873 718,038 2,080,000 686,400
Gangguan
Kesehatan Perinatal 2,101,802 1,815,001 1,384,682 1,576,000 1,015,519
Sumber: WHO-SEAR, 2002

Jika terjadi peningkatan status kesehatan yaitu meningkatnya angka harapan hidup di negara-negara berpendapatan rendah sebesar 0.5 tahun selama 19 tahun, katakanlah dari 59 tahun menjadi 68 tahun, maka pengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi dapat mencapai sekitar 0.5% per tahun.

Peningkatan Biaya Kesehatan

Analisis perkiraan biaya untuk meningkatkan cakupan intervensi pelayanan kesehatan yang esensial telah dilakukan terhadap 49 kegiatan prioritas di 89 negara miskin. Intervensi ini telah diidentifikasi sebagai kunci keberhasilan untuk menangani keadaan kesehatan bagi penduduk miskin. Perluasan kegiatan ini didasarkan atas tingkat cakupan yang akan dicapai pada tahun 2007 dan 2015 dengan data dasar tahun 2002.
Analisa biaya direncanakan untuk memperkirakan tambahan biaya yang diperlukan untuk perluasan pelayanan yang didasarkan atas kondisi saat ini. Biaya yang diperlukan untuk memperluas kegiatan pelayanan kesehatan dapat dilihat pada Tabel 6.

Tabel 6: Peningkatan Biaya Intervensi Kesehatan

Total Pengeluaran Kesehatan Biaya Inkremental
2002
(Tahun dasar) 2007 2015 2007 2015
Semua Negara 106.1
(3.7%)
162.8
(4.5%) 200.3 (3.9%) 25
(0.7%) 46
(0.9%)
Asia Selatan 36.0
(4.9%)
51.4
(5.7%) 59.8
(4.8%) 7
(0.8%) 11
(0.9)
Catatan: Biaya dalam Juta US$, Angka dalam kurung adalah % dari GNP, Berdasarkan 8 Negara Asia Selatan

Mobilisasi Sumberdaya Dalam Negeri Yang Lebih Besar Untuk Kesehatan
Tidak cukupnya tingkat pengeluaran biaya kesehatan, adalah sebagai refleksi dari kemiskinan. Ketika suatu negara mempunyai GNP sekitar US$ 500 per orang per tahun, walaupun pengeluaran kesehatan sebanding dengan 5% dari GNP maka jumlahnya sekitar US$ 25 per orang per tahun. Terdapat 1,8 miliar penduduk hidup di negara-negara yang pendapatan per kapitanya kurang dari US$ 500, dan terdapat 350 juta penduduk yang hidup di negara-negara tersebut dengan pengeluaran biaya kesehatan kurang dari US$ 25 per orang per tahun. Tidak ada satu pun negara dengan pendapatan US$ 500 atau kurang per tahun mempunyai pengeluaran US$ 30 per orang per tahun untuk kesehatan. Dan tidak ada satu negara pun yang pemerintahnya mengeluarkan US$ 20 per orang per tahun untuk pengeluaran publik untuk kesehatan.
Negara-negara termiskin didunia ditandai dengan teramat rendahnya pengeluaran biaya untuk kesehatan dibanding dengan standar negara-negara berpendapatan tinggi. Walaupun seandainya negara-negara miskin tersebut mengalokasikan sumber daya dalam negeri lebih banyak untuk kesehatan hal ini tidak akan memecahkan masalah mendasar: negara-negara miskin tidak memiliki sumber daya biaya yang dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan pelayanan kesehatan dasar bagi masyarakatnya. Dengan perkiraan US$ 30 – 40 per kapita untuk pelayanan esensial, jumlah ini akan menyerap sekitar 10% dari GNP dari negara miskin tersebut, jauh dari sumber daya dalam negeri yang dapat dimobilisasikan.
Komisi telah menguji secara hati hati peningkatan sumber daya dalam negeri, terutama sumber daya biaya yang dapat dimobilisasi untuk kesehatan di negara-negara berpendapatan rendah. Berkaitan dengan sumber daya sektor publik, kemampuan untuk meningkatkan anggaran kesehatan tentu akan berbeda antar negara hal ini dipengaruhi oleh struktur ekonomi, kemampuan mengumpulkan pajak, kemampuan bayar hutang, dan banyak faktor lainnya. Masih terdapat beberapa kasus dimana pengeluaran publik untuk kesehatan yang sangat rendah mungkin dapat dimobilisasi, tetapi komitmen politik sangat sulit diperoleh. Jika masyarakat secara tegas dapat dibedakan secara geografis maupun etnis, pemerintah cenderung memilih untuk mengalokasikan untuk kelompok minoritas daripada untuk kelompok penduduk yang luas. Begitu pula halnya jika terdapat diskriminasi yang merugikan terhadap perempuan yang bertanggung jawab terhadap perawatan kesehatan keluarga, seringkali perhatian menjadi kurang terhadap kelompok miskin secara keseluruhan.
Dapat juga terjadi pengeluaran kesehatan seringkali menjadi tidak efisien atau bahkan percuma. Keadaan ini terutama terjadi akibat pengeluaran langsung untuk kesehatan oleh orang miskin guna memperoleh pelayanan kesehatan berkualitas rendah dan pengobatan kurang tepat. Di China dan India sebagai contoh, penduduk miskin di desa membayar langsung sekitar 85% palayanan kesehatannya untuk hal-hal yang tidak layak misalnya untuk pembelian obat yang tidak bermutu, dan tenaga kesehatan yang kurang profesional dan tidak memiliki lisensi.
Walaupun sebagian besar negara akan memobilisasi lebih banyak biaya untuk kesehatan, tetapi sangatlah realistik untuk memperkirakan bahwa meningkatnya pendapatan tidak akan lebih dari 1 – 2% dari GNP dinegara-negara berpendapatan rendah. Sebagai pedoman indikatif, diperkirakan bahwa rata-rata di negara berpendapatan rendah akan meningkatkan pengeluaran biaya untuk kesehatan menjadi 1% dari GNP pada tahun 2007 dan 2% pada tahun 2015. Bagi negara-negara dengan pendapatan per kapita US$ 500, kenaikan $ 5 per kapita per tahun pada tahun 2007 dan $ 10 pada tahun 2015 tidaklah cukup untuk menutupi jurang antara biaya untuk pelayanan esensial dengan ketersediaan sumber daya. Salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan melakukan memobilisasi sumber sumber dana dari luar negeri (donor) untuk dapat menutupi kekurangan pembiayaan bagi negara-negara berpendapatan rendah.
Strategi dasar untuk reformasi pembiayaan kesehatan di negara-negara berpendapatan rendah, Komisi menyarankan 6 langkah yaitu: (1) meningkatkan mobilisasi pajak umum untuk kesehatan guna mencapai 1% dari GNP pada tahun 2007 dan 2% pada tahun 2015, (2) meningkatkan bantuan dari negara donor untuk membiayai pengadaan barang publik guna menjamin akses penduduk miskin terhadap pelayanan kesehatan esensial, (3) mengalihkan pengeluaran langsung ke sistem pra bayar, termasuk program pembiayaan masyarakat yang didukung oleh pembiayaan publik jika memungkinkan, (4) menggali inisiatif untuk membantu negara-negara sangat miskin (HIPC), (5) mengatasi inefisiensi sumber daya pemerintah dan digunakan untuk sektor kesehatan, (6) realokasi pengeluaran biaya publik dari pengeluaran yang tidak produktif dan subsidi untuk sektor sosial agar lebih fokus untuk penduduk miskin.

Menghilangkan Hambatan Non-Biaya Untuk Pelayanan Kesehatan

Sebagian besar negara-negara berpendapatan rendah memerlukan upaya khusus untuk meningkatkan pelayanan kesehatan terutama untuk menerapkan sistem DDK dan dukungan manajemen sangat diperlukan. Komisi menilai secara detil berbagai hambatan non-finansial yang harus diatasi, (lihat Tabel 7). Terdapat lima katagori hambatan yaitu sebagai berikut: (1) pada tingkat keluarga dan masyarakat, (2) tingkat pelayanan kesehatan, (3) tingkat kebijakan sektor kesehatan dan manajemen strategik, (4) isu kebijakan publik, dan (5) karakteristik lingkungan.

Tabel 7: Katagorisasi Hambatan

Tingkat Hambatan
Keluarga dan Masyarakat Terbatasnya permintaan untuk intervensi yang efektif
Hambatan untuk menggunakan intervensi yang efektif : fisik, biaya, sosial.
Pelayanan Kesehatan Kurangnya dan tidak meratanya distribusi tenaga profesional kesehatan;
Lemahnya bimbingan teknis, manajemen, dan supervisi;
Tidak cukupnya alokasi obat dan alat kesehatan;
Terbatasnya peralatan dan infrastrutur (termasuk laboratorium dan komunikasi) dan rendahnya aksesibilitas pelayanan kesehatan.
Kebijakan Sektor Kesehatan dan Manajemen Strategik Lemahnya dan tersentralisasinya sistem perencanaan dan manajemen;
Lemahnya kebijakan obat dan peralatan kesehatan;
Tidak memadainya regulasi kefarmasian dan sektor swasta dan praktek industri;
Kurangnya kerjasama dan kemitraan dibidang kesehatan antara pemerintah dan masyarakat sipil;
Kurangnya insentif untuk menggunakan input secara efisien dan tanggapan terhadap kebutuhan pengguna;
Ketergantungan terhadap biaya dari donor sehingga mengurangi fleksibilitas dan rasa memiliki, kebijakan donor bertentangan dengan kebijakan negara.
Kebijakan Publik Antar Sektor Birokrasi pemerintahan
Terbatasnya ketersediaan infrastruktur komunikasi dan transportasi
Karakteristik Lingkungan Belum terciptanya Good Governance
Korupsi, pemerintahan yang lemah, lemahnya hukum;
Ketidak stabilan politik dan keamanan;
Prioritas yang rendah bagi sektor sosial;
Rendahnya akuntabilitas publik;
Terbatasnya kebebasan press.
Lingkungan Fisik
Keadaan iklim dan geografik sebagai peredisposisi timbulnya penyakit;
Keadaan fisik yang menghambat palayanan kesehatan

EMPAT UNSUR POKOK DIFUSI INOVASI

Di muka kami mendefinisikan difusi sebagai proses di mana (1) suatu inovasi (2) dikomunikasikan melalui saluran?saluran tertentu (3) dalam selang waktu (4) di kalangan anggota suatu sistem sosial. Empat unsur pokok difusi itu ialah inovasi, saluran komunikasi, waktu, dan sistem sosial (Gambar 1?1). Keempatnya umum ­nya terdapat dalam setiap kajian difusi, dan dalam setiap program atau kampanye difusi (misalnya kampanye masak air minum di sebuah pedesaan di Peru).
Gambar 1-1. Difusi adalah proses di mana (1) suatu inovasi (2) dikomunikasikan melalui saluran?saluran tertentu (3) dalam selang waktu (4) di kalangan anggota suatu sistem sosial.

INOVASI

Inovasi adalah gagasan, tindakan atau barang yang dianggap baru oleh seseo ­rang atau satuan pengguna lain. Selama berkenaan dengan perilaku manusia, ti ­dak terlalu dipersoalkan apakah suatu ide itu “secara obyektif” baru (seandainya di ­ukur dengan selang waktu sejak pertama kali digunakan atau ditemukan) atau ti ­dak. Pandangan seseorang tentang kebaruan suatu ide menentukan reaksinya ter ­hadap ide tersebut. Apabila ide itu dipandang baru oleh seseorang, maka itu ino ­vasi.

Kebaruan suatu inovasi mencakup tidak sekedar “baru mengetahui”. Sese ­orang mungkin telah cukup lama mengetahui (kenal) suatu inovasi tetapi belum menentukan sikap (berkenan atau tak berkenan) terhadapnya, atau belum menga ­dopsi atau menolaknya. Aspek “kebaruan” suatu inovasi bisa dinyatakan dalam batasan pengenalan, persuasi (penyikapan), atau keputusan untuk menggunakan.
Hendaknya kita tidak beranggapan bahwa semua inovasi itu perlu disebarkan dan dipakai. Nyatanya, ada beberapa kajian tentang inovasi yang menunjukkan bahwa suatu inovasi itu berbahaya dan boros yang umumnya tidak diperlukan, baik oleh perseorangan maupun sistem sosial. Lebih dari itu, inovasi yang sama mungkin diperlukan oleh pemakai da ­lam situasi tertentu tetapi tidak diperlukan oleh calon pengguna lain dalam suatu situasi yang berbeda. Misalnya, alat pemetik tomat mekanis telah diadopsi dengan cepat oleh para petani?niaga besar di California, tetapi mesin ini terIalu mahal bagi penanam tomat berskala kecil, dan karena itu ribuan petani kecil itu telah tergusur dari produksi tomat.

INOVASI TEKNOLOGI, INFORMASI DAN KETAKPASTIAN

Hampir semua ide baru yang dikupas dalam buku ini adalah inovasi teknologis, dan kami sering menggunakan kata inovasi bersinonim dengan teknologi. Teknologi adalah suatu rancangan untuk tindakan instrumental yang mengurangi ketakpasti ­an sebab akibat yang berkenaan dengan pencapaian suatu hasil yang diinginkan. Suatu teknologi biasanya punya dua unsur: (1) perangkat keras, terdiri dari per ­kakas yang membentuk teknologi itu sebagai obyek materia atau fisika, dan (2) perangkat lunak, terdiri dari pokok informasi untuk perkakas itu. Misalnya, kita sering berbicara tentang “perangkat keras komputer” yang terdiri dari semi konduk ­tor, transistor, koneksi?koneksi listrik, chasis yang melindungi atau menjadi tempat komponen?komponen listrik itu, dan “perangkat lunak” nya yang berupa aspek?as ­pek informasional lainnya mengenai perkakas ini yang memungkinkan kita meng ­gunakannya untuk memperluas kemampuan manusia di dalam memecahkan ma ­salah tertentu. Di sini kita melihat contoh persitindakan (interaksi) yang erat antara suatu perkakas dengan cara menggunakannya. Lekatan sosial aspek?aspek perang ­kat keras teknologi biasanya kurang tampak dibanding aspek?aspek permesinan dan perlengkapannya, dan dengan demikian kita sering berpikir tentang teknologi sebagaian besar dalam arti perangkat keras. Memang, kadang?kadang sisi perang ­kat keras teknologi itu dominan. Tetapi ada kalanya suatu teknologi hampir selu ­ruhnya terdiri dari informasi (perangkat lunak); misalnya filsafat politik konservatif, ide keagamaan seperti Children of God atau Islam Liberal, Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA), dsb. Penyebaran inovasi?inovasi perangkat lunak seperti itu telah diteliti, walaupun ada masalah metodologis dalam kajian macam itu, yakni bahwa pengadopsiannya tidak begitu mudah dilacak atau diamati secara lahiriah.

Meskipun unsur perangkat lunak teknologi sering tak begitu jelas kelihatan, hendaknya kita ingat bahwa hampir teknologi itu merupakan adonan aspek?aspek perangkat?keras dan perangkat?lunak. Sesuai dengan definisi kami tentang tekno ­logi, bagi seseorang ia merupakan alat pengurang ketidakpastian yang dimung ­kinkan dengan adanya informasi mengenai hubungan sebab akibat yang menda ­sari teknologi itu. Informasi ini biasanya berasal dari kegiatan Penelitian dan Pe ­ngembangan llmiah ketika teknologi itu dikembangkan. Kadang?kadang suatu tek ­nologi baru muncul dari praktek keseharian (bukan hasil litbang, walaupun kemu ­dian dievaluasi secara ilmiah sebelum disebarluaskan). Jadi pada umumnya suatu inovasi teknologi setidak?tidaknya berderajat keuntungan atau berkemanfaatan ba ­g! calon pemakainya. Tetapi kemanfaatan ini tidak selalu tampak gamblang atau luar biasa (spektakuler), terutama menurut pandangan para calon pemakai yang diharapkan menggunakannya. Jarang mereka merasa yakin bahwa suatu inovasi merupakan pengganti yang lebih unggul daripada praktek sebelumnya.
Maka dari itu inovasi teknologi juga menciptakan ketidakpastian di benak calon penggunanya (mengenai akibat?akibat yang diharapkan), dan di lain pihak mem ­beri peluang untuk mengurangi ketakpastian itu. Yang terakhir itu (bahwa inovasi mengurangi ketakpastian melalui informasi yang melekat padanya) menunjukkan kemanjuran yang mungkin dimiliki inovasi dalam memenuhi kebutuhan terasa se ­seorang atau dalam memecahkan masalah nyata yang dia hadapi; kemanfaatan ini mendorong seseorang untuk berusaha lebih keras mempelajari suatu inovasi. Jika pencarian informasi itu telah mengurangi ketidakpastian mengenai akibat?akibat yang diharapkan dari inovasi samapai pada tingkat yang dapat diterima olch sese ­orang, maka diambillah keputusan untuk mengadopsi atau menolak inovasi itu. Bila ide baru itu digunakan, akan di-peroleh informasi evaluatif mengenai inovasi teknologi itu, dan ketakpastian mengenai akibat?akibatnya menjadi terkurangi. Ja ­di, pada hakekatnya proses keputusan inovasi adalah kegiatan pencarian dan pe ­mrosesan informasi sebab seseorang terdorong untuk mengurangi ketidakpastian mengenai keuntungan dan kerugian inovasi itu.

Agar jelas, kita perlu membedakan dua macam informasi mengenai inovasi teknologi:
Informasi perangkat lunak, yang melekat pada suatu teknologi dan berfungsi mengurangi kepastian mengenai hubungan sebab?akibat berkenaan dengan pencapaian hasil yang diharapkan.
Informasi penilaian?inovasi, yang merupakan pengurang ketakpastian mengenai akibat?akibat yang diharapkan dari suatu inovasi.

Pertanyaan pokok yang biasanya diajukan seseorang mengenai informasi per ­angkat?lunak adalah “Inovasi apakah itu, bagaimana cara kerianya?” “Mengapa bisa begitu?”Sebaliknya, orang biasanya ingin memperoleh informasi penilaian ­ inovasi dengan mengajukan pertanyaan “Apa akibat/hasil yang diperoleh dari pe ­makaian inovasi itu?”; “Apa untung dan ruginya inovasi itu bagi diri saya?“.

RUMPUN TEKNOLOGI

Salah satu dari berbagai masalah konseptual dan metodologi yang dihadapi para peneliti dan praktisi difusi adalah penentuan batas kapan sesuatu itu disebut inovasi teknologi. Intinya, bagaimana menentukan kapan suatu inovasi tidak lagi disebut inovasi dan kapan sesuatu yang lain mulai disebut inovasi? Bila suatu ino ­vasi adalah gagasan yang dianggap baru, masalah batasan ini seharusnya di?jawab para calon pemakai yang akan merespon gagasan itu. Memang, pendekatan inilah yang digunakan para pakar difusi dan para peneliti pasar dalam kajian?kajian “pe ­nentuan posisi’. Misalnya, suatu kajian tentang difusi “daur?ulang” (pengolahan ulang barang bekas) di California menemukan bahwa para ibu rungga mendaur ulang kertas (majalah, koran) sebetulnya berkemungkinan mendaur?ulang botol dan kaleng bekas, tetapi banyak keluarga yang hanya mendaur ulang kertas bekas (Leonard?Barton dan Rogers, 1980a); diduga, kedua perilaku pen?daur?ulangan itu merupakan dua inovasi yang menjadi bagian dari suatu rumpun yang bersitaut. Rumpun teknologi terdiri dari satu atau lebih unsur?unsur teknologi yang terpisah yang dipandang bersitaut erat. Beberapa agen pembaru ada yang menganjurkan penggunaan suatu rumpun atau paket inovasi karena mereka tahu bahwa dengan demikian inovasi?inovasi itu lebih cepat diadopsi.

SIFAT INOVASI

Seharusnya kita tidak beranggapan bahwa inovasi itu satuan?satuan kupasan yang sama, seperti kadang?kadang dilakukan di masa lalu; yang demikian itu pe ­nyederhanaan yang terialu kasar. Kalau inovasi blue jeandan kalkulator saku ha ­nya memerlukan waktu 5 atau 6 tahun untuk menyebar ke seluruh konsumen di Amerika Serikat, ide?ide baru lainnya seperti sabuk-pengaman di jok mobil me ­merlukan berpuluh tahun untuk bisa tersebar rata penggunaannya oleh pengendara mobil di AS. Pandangan orang mengenai sifat?sifat inovasi dapat membantu menjelaskan perbe ­daan kecepatan adopsi inovasi satu dari yang lain.

1. Keuntungan relatif(relative advantage) adalah sejauh mana suatu inovasi dianggap lebih baik (menguntungkan) dari ­pada gagasan sebelumnya. Tingkat keuntungan relatif dapat diukur dengan tolok ekonomi, tetapi faktor?faktor seperti prestise sosial, kenyamanan dan kepuasan seringkali ju ­ga merupakan unsur yang penting. Persoalannya bukanlah seberapa banyak suatu inovasi memberi keuntungan “nyata”, melainkan apakah seseorang me ­mandang inovasi itu menguntungkan. Semakin besar keuntungan relatif suatu ino ­vasi diketahui, semakin cepat kemungkinan pengadopsiannya.

2. Kesesuaian(compatibility) adalah sejauh mana suatu inovasi dipandang sejalan dengan nilai- ­nilai yang ada, pengalaman sebelumnya, dan kebutuhan para calon pemakai. Ga ­gasan yang tidak sesuai dengan nilai?nilai dan norma?norma sosial yang lazim akan tidak diadopsi secepat inovasi yang sesuai. Pengadopsian inovasi yang tidak sesuai biasanya memerlukan mengadopsi nilai?nilai baru terlebih dulu. Contoh inovasi yang tidak sesuai adalah penggunaan alat?alat kontrasepsi di negara?negara yang kepercayaan agamanya menentang penggunaan teknik?teknik keluarga berencana, seperti di negara/masyarakat Muslim dan Katolik.

3. Kerumitan(complexity) adalah sejauh mana suatu inovasi dipandang sulit dipahami dan/atau dipakainya. Beberapa inovasi ada yang mudah dipahami oleh kebanyakan warga masyarakat, ada inovasi yang mungkin lebih rumit, dan yang demikian ini biasanya akan diadopsi lebih lambat. Misalnya, penduduk desa Los Molinos tidak memahami teori bakteri yang diterangkan petugas kesehatan sebagai alasan per ­lunya memasak air minum. Umumnya gagasan baru yang lebih mudah dipahami akan lebih cepat diadopsi daripada inovasi yang mensyaratkan pemakainya untuk terlebih dulu mempelajari pengetahuan dan ketrampilan baru.

4. Ketercobaan(trialability)adalah sejauh mana suatu inovasi dapat dicoba dalam skala ke ­cil. Gagasan baru yang dapat dicoba pada tempat percobaan (misalnya demplot pertanian) umumnya lebih cepat diadopsi daripada inovasi yang tidak dapat di ­coba. Ryan dan Gross (1943) menemukan bahwa setiap orang yang menjadi res ­pondennya di Iowa mengadopsi jagung hibrida dengan terlebih dulu mencobanya kecil-kecilan. Jika jagung baru itu tidak dapat dicoba sebagai percontohan, kecepat ­an adopsinya mungkin lambat. Suatu inovasi yang dapat dicoba, mengurangi ke ­tidakpastian orang yang mempertimbangkan untuk mengadopsinya.

5. Keteramatan(observability) adalah sejauh mana hasil suatu inovasi dapat dilihat orang lain. Semakin mudah hasil suatu inovasi dapat diamati oleh seseorang semakin besar kemungkinannya untuk diadopsi. Teramatinya hasil suatu inovsi merangsang te ­man?teman dan para tetangga pemakai untuk mendiskusikan dan bertanya ke ­padanya untuk memperoleh informasi?penilaian mengenai inovasi itu. Pemanas air tenaga matahari yang diletakkan di atap (genting) perumahan akan tampak dengan jelas, dan suatu sigi di California menunjukkan bahwa para pemakai alat pemanas air itu memperlihatkan kepada rata?rata 6 orang temannya (Rogers dkk, 1979). Sekitar seperempat penghuni perumahan di California mengetahui orang?orang yang telah mengadopsi alat pemanas air tenaga matahari (walaupun hanya 2,5% penghuni yang telah mengadopsi pada tahun 1979), dan sekitar dua pertiga dari mereka telah melibat?libat peralatan temannya. Para pemakai alat ini banyak di ­jumpai di beberapa rumpun perumahan di California, di mana tiga atau empat pemakai tinggal di lokasi/blok yang sama. Beberapa inovasi lain seperti komputer keluarga (Personal Computer atau video yang relatif kurang tampak, tersebar lebih lambat.

Umumnya inovasi yang oleh para calon pemakainya dipandang punya ke ­untungan relatif lebih tinggi, lebih sesuai, dapat dicoba dan bisa diamati hasilnya, serta tidak terIalu rumit akan lebih cepat diadopsi dari pada inovasi lain yang ku ­rang. Sebetulnya bukan hanya kualitas inovasi saja yang mempengaruhi kece ­patan adopsi, tetapi penelitian?penelitian yang Ialu menunjukkan bahwa kelima si ­fat itulah yang paIing penting sebagai penjelas kecepatan adopsi.

REINVENSI

Sampai kira?kira pertengahan tahun 1970an, diduga kualitas inovasi itu per ­manen, tidak berubah selama proses penyebarannya.Saya ingat ketika mewa ­wancarai seorang petani Iowa mengenai pemakaian obat semprot pembasmi rum ­put 2,4 D pada tahun 1954. Dalam menjawab pertanyaan saya “apakah Anda meng ­gunakan inovasi 2,4 D”, petani itu menjelaskan agak rinci cara?cara tertentu yang tidak lazim dalam menggunakan obat itu di ladangnya. Pada akhir wawancara, saya begitu saja mencatat responden ini sebagai “pengguna” pada kuesener saya. Konsep reinvensi belum ada dalam konsep teoritik saya, maka saya memasukkan penga ­laman orang itu ke dalam salah satu pengkategorian pengguna yang saya miliki pa ­da waktu itu.

Kemudian, pada tahun 1970an, para pakar difusi mulai menaruh perhatian lebih besar terhadap konsep reinvensi, yang didefinisikein sejauh mana suatu ino ­vasi diubah oleh seorang pemakai dalam proses pengadopsian dan petaksanaan ­nya. Beberapa peneliti mengukur reinvensi sebagai sejauh mana penggunaan ide baru oleh seseorang menyimpang dari versi asli pada saat dipromosikan lem ­baga, pembaharuan (Eveland et al 1971). Begitu para pakar mengenal konsep ini dan mengadakan pengukuran terhadapnya, mereka menjumpai bahwa terjadi invensi dan reinvensi pada beberapa inovasi. Ada beberapa inovasi yang agaknya sulit atau ti ­dak mungkin direinvensi oleh petani, misalnya jagung hibrida tidak mungkin de ­ngan mudah direinvensi oleh petani, karena penyilangan bibit itu dilakukan secara genetik yang terlalu canggih untuk mengubahnya. Tetapi ada inovasi?inovasi yang sifatnya lebih lentur, dan bisa direinvensi oleh kebanyakan pemakai dengan jalan menggunakan inovasi itu dalam berbagai cara, yang berbeda dari petunjuk aslinya.

Karena itu kita harus ingat bahwa suatu inovasi belum tentu statis, tidak be ­rubah selama proses penyebarannya. Dan, mengadopsi inovasi bukanlah tindakan yang pasif dengan menerapkan ide?ide baru itu persis apa adanya (standar) tanpa perubahan. Jika suatu inovasi telah tercipta, kita harus mengkomunikasikannya bila ber ­harap inovasi itu tersebar.

Sekarang beralih kita pada unsur kedua difusi

SALURAN KOMUNIKASI

Di muka, kami mendefinisikan komunikasi sebagai suatu proses di mana para pelakunya menciptakan dan bertukar informasi satu sama lain untuk mencapai ke ­samaan paham. Difusi adalah tipe khusus komunikasi, yakni informasi yang diper ­tukarkan adalah ide?ide baru. Inti proses difusi adalah pertukaran informasi, yakni seseorang mengkomunikasikan suatu ide baru kepada orang lain. Pada dasarnya bentuk proses itu meliputi unsur?unsur (1) suatu inovasi, (2) seseorang atau unit adopsi yang punya pengetahuan atau pengalaman dalam penggunaan informasi-inovasi itu, (3) orang lain yang belum mengetahui/menggunakan inovasi itu, dan (4) saluran komunikasi yang menghubungkan kedua unit (orang) itu. Saluran komunikasi adalah jalur le ­wat suatu pesan sehingga bisa tersampaikan dari seseorang kepada orang lain. Sifat hubungan pertukaran informasi antara dua pasangan individu menentukan jalan mana seorang yang dipakai sumber untuk menyalurkan inovasi itu kepada penerima, dan bagaimana efek penyaluran itu.

Misalnya, saluran media massa biasanya merupakan cara/alat penyalur pesan yang menggunakan media seperti radio, televisi, koran dsb yang memungkinkan seorang sumber dapat menjangkau khalayak dalam jumlah besar. Sebaliknya, saluran antar pribadi lebih efektif dalam mempengaruhi seseorang mengadopsi ide baru, terutama dalam mempengaruhi seseorang untuk mengadopsi ide baru, ter ­utama bila saluran antar pribadi itu menghubungkan dua atau lebih yang meru ­pakan teman karib. Saluran antar pribadi adalah pertukaran informasi antara dua orang atau lebih secara tatap muka.

Hasil berbagai penelitian difusi menunjukkan bahwa kebanyakan orang tidak mengevaluasi suatu inovasi berdasarkan kajian ilmiah mengenai konsekuensi?konsekuensinya, walaupun evaluasi obyektif seperti itu ”terutama bagi orang yang pa ­ling awal mengadopsi ”bukannya tidak penting. Kebanyakan orang berpegang ter ­utama pada penilaian subyektif yang disampaikan kepada mereka oleh orang-orang yang sepadan dengan dirinya yang telah lebih dulu mengadopsi inovasi. Ketergantungan kepada pengalaman yang dikomunikasikan para teman dekat ini menunjukkan bahwa inti proses difusi adalah percontohan dan imitasi oleh para calon pemakai kepada teman?temannya yang berada dalam jaringan komunikasi ­nya yang telah memakai inovasi itu lebih awal.

HETEROFILI DAN DIFUSI

Prinsip pokok komunikasi antar manusia adalah bahwa pengalihan (transfer) ide?ide umumnya terjadi antara dua orang yang sepadan atau homofilus. Homofili ada ­lah sejauh mana orang yang berinteraksi itu ada kemiripan dalam ciri?ciri tertentu, seperti kepercayaannya, pendidikannya, status sosialnya, dsb. Dalam suatu situasi yang bisa memilih, bila seseorang dapat berinteraksi dengan siapa saja yang ia kehen ­daki, ada kecenderungan kuat orang akan memilih berkomunikasi dengan orang yang paling sepadan dengan dirinya.

Banyak alasan berkait dengan prinsip homofili. Orang?orang yang punya ke ­miripan satu sama lain biasanya menjadi anggota kelompok yang sama, tinggal dan bekerja di tempat yang berdekatan, dan memiliki minat yang sama. Kedekatan fisik dan sosial seperti itu memungkinkan terjadinya komunikasi yang homofilus. Komunikasi semacam itu mungkin lebih efektif, karena mengasyikkan. Kemung ­kinan lebih efektif terjadi bila dua orang yang berkomunikasi itu homofilus (se ­padan). Karena mereka bertukar istilah yang saling mereka mengerti, mengguna ­kan bahasa daerah, dan memiliki sifat?sifat pribadi dan sosial yang mirip, pengko ­munikasian ide?ide mungkin mempunyai efek yang lebih besar dalam arti perole ­han pengetahuan, pembentukan dan perubahan sikap, dan perubahan perilaku nyata. Bila ada kesepadanan, komunikasi antara dua orang mungkin akan lebih mengasyikkan (gayeng. jw).

Salah satu masalah penting dalam pengkomunikasian inovasi adalah biasanya partisipannya sangat heterofilius. Agen pembaru umumnya secara teknis lebih kompeten daripada kliennya. Perbedaan ini seringkali membawa pada komunikasi yang tidak efektif. Mereka tidak berbicara dengan “bahasa” yang sama. Memang, bila dua orang identik pemahaman dan pengalamannya tentang inovasi, akan ti ­dak terjadi difusi dalam interaksi mereka sebab tidak ada informasi baru yang dipertukarkan. Sifat difusi menuntut setidak?tidaknya ada beberapa tingkat hetero ­fili antara dua orang yang berkomunikasi. Idealnya, agen pembaru dan kliennya sepadan (homofili) dalam variabel?variabel lain (misalnya pendidikan, status sosial, dsb) tetapi hetero ­fili dalam hal inovasi. Biasanya heterofili yang terjadi pada dua orang yang terlibat dalam komunikasi inovasi menyangkut semua aspek, karena pengetahuan dan pengalaman tentang inovasi tersebut berkaitan erat dengan status sosial, pendidikan dan sebagainya.

JANGKA WAKTU

Waktu merupakan unsur penting dalam proses difusi. Kebanyakan penelitian ilmu?ilmu tingkah laku mengabaikan dimensi waktu. Waktu, merupakan aspek pen ­ting dalam, proses komunikasi, tetapi kebanyakan penelitian komunikasi (yang bu ­kan difusi) tidak memasukkannya secara eksplisit. Barangkali ini merupakan suatu konsep dasar yang tidak dapat dijelaskan dalam arti sesuatu yang lebih funda ­mental (Withrow 1980: 372). Waktu tidak terpisah dari peristiwa, bahkan ia meru ­pakan aspek setiap kegiatan.

Pemasukan waktu sebagai suatu variabel dalam penelitian difusi merupakan salah satu kekuatannya, tetapi pengukuran dimensi waktu (seringkali dengan mengandalkan ingatan responden) dapat dicela. Dimensi waktu masuk ke dalam bahasan difusi berkenaan dengan (1) proses keputusan inovasi di mana seseorang menjalani pro ­ses mulai dari kenal inovasi sampai dengan pengadopsian atau penolakannya, (2) keinovatifan seseorang atau unit adopsi ”yakni relatif lebih awal/akhir suatu ino ­vasi diadopsi ”dibanding dengan anggota sistem sosial atau unit adopsi lain ­nya, dan (3) kecepatan adopsi suatu inovasi dalam suatu sistem sosial yang biasanya diukur dengan jumlah anggota sistem yang mengadopsi inovasi dalam jangka waktu tertentu.

PROSES KEPUTUSAN INOVASI

Proses keputusan inovasi adalah suatu proses yang dijalani seseorang (atau unit adopsi lain) mulai dari pertama kali tahu inovasi kemudian menyikapi, meng ­ambil keputusan untuk memakai (mengadopsi) atau menolaknya, dan melaksana ­kan penggunaan ide baru itu. Kami merumuskan 5 tahap pokok da ­lam proses itu: (1) tahap pengenalan, (2) tahap persuasi, (3) tahap keputusan, (4) tahap pelaksanaan, dan (5) tahap konfirmasi.

Tahap Pengenalan terjadi ketika seseorang dihadapkan pada adanya ino ­vasi dan memahami bagaimana inovasi itu berfungsi. Tahap Persuasi terjadi ketika se ­seorang menyikapi inovasi, berkenan atau tidak berkenan. Tahap Keputusan terjadi ketika sese ­orang terlibat dalam kegiatan yang mengarah pada pemilihan untuk menerima atau menolak inovasi. Tahap Pelaksanaan (implementasi) berlangsung ketika seseorang menerapkan penggunaan inovasi dalam kehidupannya sehari?hari. Biasanya pada tahap implementasi ini terjadi reinvensi. Tahap Konfirmasi terjadi ketika seseorang mencari penguatan (reinforcement)terhadap keputusan inovasi yang telah ia buat, tetapi mungkin saja ia mengubah keputusan bila ia berhadapan dengan pesan?pesan yang negatif tentang inovasi.

Telah kami kemukakan bahwa proses keputusan inovasi adalah usaha penca ­rian dan pemrosesan informasi dalam rangka memperkecil ketakpastian mengenai inovasi. Pada tahap pengenalan, seseorang terutama mencari informasi perangkat lunak yang terkandung dalam dalam inovasi teknologis, yang mengurangi ketak ­pastian mengenai hubungan sebab?akibat antara kemampuan inovasi itu dengan pemecahan masalah. Pada tahap ini seseorang ingin tahu inovasi apa (yang me ­reka hadapi) itu, dan bagaimana inovasi bekerja (dapat memecahkan masalah). Saluran media massa dapat secara efektif menyalurkan informasi?infomasi ini.

Tetapi meningkat pada tahap persuasi, dan terutama pada tahap keputusan, seseorang mencari informasi penilaian?inovasi dalam rangka mengurangi ketak ­pastian akibat?akibat yang diharapkan dari inovasi. Di sini seseorang ingin menge ­tahui keuntungan dan kerugian penggunaan inovasi itu bagi dirinya. Jaringan ko ­munikasi antar pribadi dengan teman?teman dekatiah terutama yang membawa informasi evaluatif mengenai suatu inovasi. Evaluasi subyektif mengenai gagasan baru itu mungkin berpengaruh besar pada seseorang pada tahap keputusan, dan mungkin pula pada tahap pengukuhan.

Proses keputusan inovasi dapat mengarah pada penerimaan (adopsi), yakni suatu keputusan untuk sepenuhnya menggunakan inovasi sebagai cara terbaik, atau mengarah pada penolakan yaitu keputusan untuk tidak menggunakan ino ­vasi. Keputusan itu nantinya dapat berubah: misalnya, terjadi penghentian (dis ­continuation)yaitu suatu keputusan untuk menolak inovasi setelah tadinya menga ­dopsi. Penghentian terjadi karena seseorang tidak puas dengan suatu inovasi, atau karena inovasi itu digeser oleh ide baru yang lebih baik. Mungkin pula seseorang mengadopsi inovasi telah tadinya memutuskan untuk menolaknya. Adopsi terlam ­bat dan penghentian terjadi dalam tahap pengukuhan dari proses keputusan ino ­vasi.

Proses keputusan inovasi berdimensi waktu dalam arti bahwa kelima tahap itu biasanya berlangsung dalam suatu urutan waktu mulai dari pengenalan, persuasi, keputusan, pelaksanaan dan konfirmasi. Periode keputusan inovasi adalah lama waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan seluruh proses keputusan inovasi. Perkecualian pada urutan kelima tahap itu tentu saja ada, misalnya tahap ke ­putusan mendahului tahap persuasi.

Demi ringkasnya, kami membatasi pembahasan mengenai proses keputusan inovasi kali hanya pada keputusan perseorangan, jadi keputusan inovasi optional ­-individual. Namun banyak keputusan inovasi yang dibuat oleh organisasi atau unit pengadopsi yang bukan perseorangan. Misalnya, suatu perusahaan memutuskan untuk membeli program pengolah kata (word processor) berdasarkan keputusan staf atau keputusan pimpinan; pekerja pada perusahaan itu secara pribadi tidak punya suara dalam pengambilan keputusan inovasi, atau hanya kecil. Bila suatu keputus ­an inovasi dibuat oleh suatu sistem, bukan oleh perseorangan, proses keputusan itu biasanya lebih rumit. Itulah, waktu merupakan dimensi penting dalam proses keputusan inovasi.

KEINOVATIFAN DAN KATEGORI PENGGUNA

Keinovatifan adalahsejauh mana seseorang atau unit adopsi relatif lebih awal/akhir mengadopsi ide?ide baru dibanding anggota sistem sosial lainnya. Dari ­pada menyebut seseorang “kurang inovatif daripada rata?rata anggota sistem sosial lainnya” akan lebih berguna dan lebih efisien menyebutnya “mayoritas akhir” atau kategori pengguna lainnya. Sebutan pendek seperti itu menghemat kata, dan mem ­perjelas pemahaman, karena penelitian difusi menunjukkan bahwa setiap anggota kategori pengguna memiliki banyak kesamaan. Bila seseorang termasuk kategori mayoritas akhir, maka seperti kebanyakan orang yang berada dalam kategori ini, dia rendah status sosialnya, tidak banyak menerpa media massa, memperoleh ide- ­ide baru dari teman?temannya melalui saluran antar pribadi. Dengan cara yang sama kami akan memberi uraian singkat keempat kategori pengguna lainnya. Ka ­tegori pengguna adalah pengkategorian anggota suatu sistem sosial berdasar ke ­inovatifannya, menjadi: (1) inovator, (2) pemuka, (3) mayoritas awal, (4) mayoritas akhir, dan (5) kolot.

Inovator adalah pencari informasi ide?ide baru yang aktif. Mereka sangat se ­ring bertatap media massa dan jaringan komunikasi antar pribadinya sangat luas, biasanya menjangkau keluar wilayah (sistem sosial)nya sendiri. Para inovator dapat mengatasi ketakpastian mengenai inovasi jauh lebih baik daripada kelompok peng ­guna lainnya. Sebagai orang yang pertama kali mengadopsi ide baru di lingkungan sistem sosialnya, mereka tidak bergantung pada penilaian subyektif anggota sistem sosial lainnya tentang inovasi.
Pengukuran keinovatifan dan pengklasifikasian anggota sistem sosial ke dalam kategori pengguna itu, tentu saja, didasarkan pada waktu relatif pengadopsian suatu inovasi.

KECEPATAN ADOPSI

Inilah dimensi ketiga keterkaitan waktu dalam difusi inovasi. Kecepatan adopsi adalah kecepatan relatif pengadopsian suatu inovasi oleh suatu sistem sosial. Bila jumlah orang yang mengadopsi inovasi digrafikkan secara kumulatif berdasar waktu pengadopsiannya, hasilnya adalah suatu kurva bentuk?S. Pada awaInya (pada bulan atau tahun?tahun pertama), hanya sedikit orang yang mengadopsi inovasi. Mereka inilah para inovator. Tetapi, sebentar kemudian kurva difusi mulai menan ­jak, begitu bertambah banyak orang mengadopsi inovasi. Kemudian lintasan ke ­cepatan adopsi mulai mendatar, karena semakin sedikit orang yang belum meng ­adopsi. Akhimya kurva bentuk?S mencapai asimtotnya (garis lurus mendekati kur ­va, tetapi tidak memotongnya pada jarak yang tipis sekali), berakhirlah proses di ­fusi.

Kebanyakan inovasi punya kurva kecepatan adopsi berbentuk?S. Tetapi ada variasi kelandaian “S”nya antara inovasi satu dengan lainnya; beberapa ide baru menyebar relatif cepat dan kurva S?nya sangat curam, inovasi yang lain mungkin lebih lambat menyebarnya dan kurva?S nya lebih landai. Salah satu isu yang di ­lemparkan oleh peneliti difusi adalah mengapa beberapa inovasi punya kecepatan adopsi tinggi sedangkan yang lain rendah (misalnya lihat Gambar 1?1)

4.SISTEM SOSIAL

Sistem sosial didefinisikan sebagai satu kesatuan unit?unit yang bersitaut dan terikat dalam kerjasama pemecahan masalah untuk mencapai tujuan bersama. Anggota atau unit anggota sistem sosial bisa perseorangan, kelompok informal, or ­ganisasi, atau subsistem. Sistem sosial yang dianalisis dalam kajian difusi bisa petani di pedesaan Asia Tenggara, perguruan tinggi di Wisconsin, para dokter di rumah sakit umum, atau semua konsumen di Amerika Serikat. Setiap unit dalam suatu sistem sosial dapat dibedakan dari unit?unit lainnya. Semua anggota/unit bekerjasama paling tidak dalam mencari pemecahan masalah umum dalam rang ­ka mencapai tujuan masing?masing secara timbal bahk. Pertukaran tujuan umum inilah yang mengikat sistem itu.
Perlu diingat bahwa difusi itu terjadi dalam suatu sistem sosial, karena itu struktur sosial suatu sistem mempengaruhi penyebaran inovasi. Sistem sosial mem ­punyai batas?batas di mana suaiu inovasi menyebar. Berkenaan dengan sistem sosial ini kita membahas beberapa topik pengaruh struktur sosial terhadap difusi, peranan pemuka pendapat dan agen pembaru, tipe?tipe keputusan inovasi, dan konsekuensi inovasi. Semua ini mencakup hubungan antara sistem sosial dengan proses difusi yang terjadi di dalamnya.

STRUTUR SOSIAL DAN DIFUSI

Selama unit?unit dalam suatu sistem sosial tidak identik perilakunya, maka di dalamnya terdapat struktur sosial. Strukturadalah susunan yang terpola dari unit?unit sistem sosial. Struktur ini menyebabkan keteraturan dan kestabilan perilaku orang ­-orang dalam sistem sosial, dan ini memungkinkan dibuatnya perkiraan perilaku se ­cara lebih akurat. Jadi struktur memberi sejumlah informasi yang dapat mengu ­rangi ketakpastian. Struktur dalam organisasi birokrasi seperti instansi pemerintah barangkali merupakan contoh yang baik; di situ ada struktur sosial yang sudah mapan dalam bentuk posisi?posisi hirarkhis, di mana pegawai yang berada pada posisi atasan punya hak untuk memerintah pegawai yang berada pada posisi ba ­wahan, dan perintah itu harus dikerjakan. Hubungan sosial yang terpola di an ­tara anggota sistem sosial seperti itu membentuk suatu struktur sosial formal.

Di samping struktur formal ini, di antara unit?unit suatu sistem sosial ada struk ­tur sosial informal dalam bentuk jaringan antar pribadi yang menghubungkan para anggota suatu sistem sosial, yang menentukan siapa yang berinteraksi dengan sia ­pa dalam kesempatan tertentu. Kami mendefinisikan struktur komunikasi macam ini sebagai unsur?unsur pembeda yang dapat dikenali dalam arus komunikasi yang terpola dalam suatu sistem sosial. Di muka telah kami jelaskan prinsip homofili, di mana kebanyakan orang dalam suatu sistem sosial berbincang dengan orang yang mirip dengannya; suatu struktur komunikasi sering terbentuk dalam suatu sistem sosial di mana sejumlah orang yang homofili mengelompok dalam suatu klik. Ketia ­daan struktur komunikasi dalam suatu sistem sosial akan terjadi dalam suatu situasi di mana seseorang berbicara satu sama lain secara merata. Situasi macam itu bisa terjadi ketika sekelompok orang yang betul?betul belum saling kenal perta?ma kaii berkelompok. Tetapi pola yang teratur segera terbentuk dalam jaringan komunikasi di antara mereka. Dan aspek?aspek struktur komunikasi itu sebagian dapat dipakai untuk memperkirakan perilaku anggota sistem sosial itu.

Struktur suatu sistem sosial dapat memudahkan atau menghalangi difusi inovasi ke dalamnya. Dampak struktur sosial dalam difusi inovasi merupakan minat khusus para ahli sosiologi dan psikologi sosial, dan bagaimana struktur komunikasi dalam suatu sistem mempengaruhi difusi merupakan topik yang menarik bagi pakar komunikasi. Katz (1961) menyatakan “Tidaklah mungkin mengkaji difusi tanpa pengetahuan tentang struktur sosial di mana para calon pemakai berada, sebagai ­mana halnya tidaklah mungkin mengkaji sirkulasi darah tanpa pengetahuan yang tepat tentang struktur pembuluh darah dan urat nadi .

Dibanding dengan aspek?aspek penelitian difusi lainnya, relatif hanya sedikit, kajian tentang bagaimana struktur komunikasi suatu sistem mempengaruhi penye ­baran dan pengadopsian inovasi di dalam suatu sistem itu. Salah satu penjelasannya barangkali, secara metodologis ini memang agak rumit menguraikan pengaruh struktur sistem terhadap difusi, terlepas dari efek?efek sifat pribadi yang membentuk sistem itu. Tetapi marilah kita melihat suatu ilustrasi efek sistem, pengaruh struktur dan komposisi suatu sistem terhadap perilaku anggota sistem. Contoh kami ambil dari kajian Rogers dan Kincaid (198l): dua wanita Korea, keduanya butahuruf, te ­lah kawin, punya anak dan berusia 28 tahun. Suami kedua wanita itu lulusan SMA, punya ladang seluar 5 acre. Orang mungkin menduga kedua wanita itu bersikap sama (suka atau tidak suka) terhadap alat kontrasepsi.

Tetapi kedua wanita itu berbeda dalam satu hal yang penting: mereka tinggal di desa yang berbeda, satu di desa A dan satunya di desa B. Tingkat adopsi KB di desa A mencapai 57% sedangkan di B 26%. Jelas struktur sosial dan komunikasi sosial kedua desa itu sangat berbeda berkenaan dengan difusi alat kontrasepsi, walaupun inovasi?inovasi ini telah sama?sama dipromosikan di kedua desa itu oleh BKKBN Korea. Tentu kita menduga bahwa wanita di desa A lebih berkenan mengadopsi alat kontrasepsi daripada para wanita di desa B karena efek sistem: teman?teman dan tetangga nyonya A banyak kemiripan, dan karena mereka telah menga?dopsi maka hal ini mendorong nyonya A untuk juga mengadopsi, di samping pemuka masyarakat di desa A menganjurkan keluarga berencana, semen ­tara di desa B tidak.

Dari contoh ini kita dapat melihat bahwa suatu sistem sosial punya pengaruh terhadap difusi dan pengadopsian inovasi, mcialui efek variabel?variabel seperti ciri?ciri individual anggota sistem. Keinovatifan seseorang dipengaruhi baik oleh ciri?ciri orang itu sendiri maupun oleh sifat?sifat sistem sosial di mana orang itu menjadi anggotanya.

NORMA SISTEM DAN DIFUSI

Penefitian di Korea oleh Rogers dan Kincaid (1981) juga menguraikan pen ­tingnya norma?norma desa dalam mempengaruhi kecepatan difusi cara?cara KB. Dari kajian terhadap 24 desa ditemukan perbedaan besar antara suatu desa de ­ngan lainnya, baik pada tingkat adopsi KB maupun dalam adopsi jenis?jenis alat kontrasepsi tertentu. Salah satu desa telah mencapai 51% adopsi IUD dan hanya satu yang menjadi pengguna vasektomi. Ada desa yang semua penggunanya memilih pil sebagai alat kontrasepsi. Jelas bahwa perbedaan?perbedaan ini bukan disengaja oleh program KB di Korea, yang telah mempromosikan semua jenis alat kontrasepsi ke semua desa selama 10 tahun sebelum penelitian ini dilakukan. Penjelas perbedaan perilaku kontraseptif dari satu desa dengan desa lain itu ber ­sumber dari norma?norma yang ada pada masing?masing desa.

Norma adalah pola perilaku yang sudah tetap bagi para anggota suatu sistem sosial. Norma itu menentukan suatu rentangan perilaku yang dapat ditoleransi dan yang tidak, serta bertindak sebagai pedoman atau ukuran bagi anggota suatu sistem sosiall.

Norma sistem dapat menjadi rintangan perubahan, seperti contoh dalam kam ­panye masak air minum di masyarakat Los Molinos Peru. Rintangan terhadap masuknya ide?ide baru seperti itu. Sering dijumpai pada norma?norma yang berke ­naan dengan kebiasaan makan minum. Di India misalnya, pensucian sapi yang merata di pedesaan telah menghalangi usaha untuk meningkatkan gizi dengan daging sapi walaupun ribuan penduduk desa dalam keadaan kurang gizi. Daging babi juga tidak dimakan oleh orang Muslim dan Yahudi. Kebanyakan orang Asia dan Amerika Latin makan nasi poles, walaupun sebetuInya nasi yang tidak di ­poles kadar gizinya lebih tinggi. Itu adalah contoh?contoh norma budaya dan kea ­gamaan. Norma?norma dapat berlaku pada suatu bangsa, suatu masyarakat, suatu organisasi atau suatu sistem lokal misalnya satu desa.

Daftar Pustaka

WHO Regional Office For South-East ASIA( 2002): Regional Conference of Parliamentarians on the Report of the Commission on Macroeconomics and Health :Health and Development Regional Initiatives, Bangkok, Thailand 15 – 17 December 2002.

WHO Regional Office For South-East ASIA( 2002): Regional Conference of Parliamentarians on the Report of the Commission on Macroeconomics and Health: Selecting Interventions For Better Health Outcomes, Bangkok, Thailand 15 – 17 December 2002.

WHO Regional Office For South-East ASIA( 2002): Regional Conference of Parliamentarians on the Report of the Commission on Macroeconomics and Health: What needs to be done: Resources to do the needful Bangkok, Thailand 15 – 17 December 2002.
http://www.bappenas.go.id/get-file-server/node/8547/
http://www.imadiklus.com/…/materi-perkuliahan-difusi-inovasi-unsur-unsur-difusi. Html
repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/20857/4/Chapter%20II.pdf

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s